JATIMTIMES - Jumlah kejadian bencana di Kota Batu sepanjang 2025 mengalami lonjakan tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam kurun waktu satu tahun, jumlah bencana melonjak tajam dan menembus angka 209 kejadian yang didominasi tanah longsor.
Angka ini naik drastis dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 122 kejadian. Dengan demikian peningkatan hampir dua kali lipat.
Baca Juga : Tamu Menginap Makin Singkat, Okupansi Hotel di Kota Batu 2025 Turun 30 Persen
Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu menunjukkan, tanah longsor masih menjadi bencana paling dominan. Dari total kejadian sepanjang 2025, sebanyak 127 merupakan longsor.
Selain itu, tercatat 46 kejadian cuaca ekstrem, 25 banjir, 10 kebakaran gedung dan bangunan, serta satu kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu, Suwoko, menjelaskan bahwa hampir seluruh peristiwa yang terjadi merupakan bencana alam. “Bencana alam mendominasi dengan 199 kejadian. Sedangkan bencana non alam tercatat 10 kejadian,” ungkap Suwoko, Minggu (11/1/2026).
Ratusan kejadian tersebut tak hanya tercatat dalam laporan, tetapi juga meninggalkan dampak nyata bagi masyarakat. BPBD mencatat sebanyak 281 warga terdampak, dengan 26 orang terpaksa mengungsi.
Kerusakan permukiman pun tak terhindarkan. Sebanyak 19 rumah mengalami rusak berat, 16 rumah rusak sedang, 24 rumah rusak ringan, dan 19 rumah sempat terendam banjir. Selain itu, bencana juga berdampak pada sektor pertanian, dengan sekitar satu hektare sawah serta 0,175 hektare lahan milik warga terdampak.
“Bencana yang terjadi menimbulkan korban, kerusakan, dan kerugian di berbagai sektor, mulai dari rumah warga, sosial ekonomi, pelayanan dasar, hingga prasarana dan sarana vital,” jelas Suwoko.
Lonjakan bencana tersebut semakin terasa setelah banjir luapan bercampur lumpur dan sampah melanda wilayah Bumiaji beberapa hari lalu. Peristiwa itu menjadi alarm keras akan kondisi kawasan hulu.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu melakukan pengambilan foto udara di sepanjang alur Sungai Kali Paron. Hasil pemetaan mengindikasikan adanya alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai yang diduga memperparah debit dan material banjir.
Baca Juga : Sinopsis Beyond the Law, Film Aksi Steven Seagal yang Bakal Tayang di Bioskop Televisi Malam Ini
Langkah pemetaan ini dilakukan atas instruksi langsung Wali Kota Batu, Nurochman. Ia menilai, data visual dari udara sangat penting untuk mengurai akar persoalan banjir lumpur yang kerap merangsek ke permukiman warga hingga menutup akses jalan.
“Saya instruksikan Dinas PUPR segera melakukan foto udara untuk pemetaan sungai dan kanal-kanal banjir eksisting. Data ini akan memudahkan pemerintah dalam melakukan intervensi kebijakan, termasuk rencana menambah kanal atau sudetan baru untuk memecah debit air,” kata Nurochman.
Tak hanya soal infrastruktur, Cak Nur sapaan akrab Nurochman menyoroti perilaku pemanfaatan lahan di kawasan hulu. Menurutnya, alih fungsi lahan yang tak terkendali menjadi salah satu pemicu utama banjir lumpur dan longsor.
“Pemerintah bisa menambah sudetan, tapi kalau perilaku alih fungsi lahan tidak berubah, persoalan akan terus berulang. Pengelola hutan harus berpikir jangka panjang, karena ada masyarakat di wilayah bawah yang keselamatannya ikut dipertaruhkan,” tegas Cak Nur.
Ia menambahkan, BPBD sebenarnya telah melakukan upaya mitigasi sejak beberapa bulan lalu. Namun, derasnya aliran air yang membawa lumpur, sampah, hingga potongan kayu membuat upaya di hilir kerap kewalahan.
“Sebanyak apa pun kanal dan sudetan tidak akan cukup jika air membawa material berat. Kesadaran menjaga hutan dan tidak membuang sampah ke sungai menjadi kunci agar mitigasi tidak sia-sia,” tutup Cak Nur.
