JATIMTIMES - Indonesia saat ini resmi berada dalam fase musim hujan 2025/2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut puncak musim hujan di Tanah Air umumnya berlangsung pada rentang November–Desember hingga Januari–Februari. Namun, tidak semua wilayah merasakan puncaknya pada waktu yang sama.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa sebagian wilayah Indonesia sudah lebih dulu mengalami puncak musim hujan sejak November dan Desember 2025. Sementara itu, sejumlah daerah lainnya baru memasuki fase puncak pada Januari 2026.
Baca Juga : 36 Persen Warga Miskin Tak Miliki Jaminan Kesehatan, Puguh DPRD Jatim: Ini Ironi
“Puncak musim hujan 2025/2026 di Indonesia diprediksi terjadi secara bertahap mulai November–Desember 2025 hingga Januari–Februari 2026,” jelas Guswanto,dikutip dari Kompas.com Sabtu (10/1/2026).
Wilayah yang Masuk Puncak Musim Hujan Januari 2026
BMKG mencatat beberapa wilayah Indonesia kini sedang berada pada fase puncak musim hujan di Januari 2026. Wilayah-wilayah tersebut meliputi:
• Jambi bagian selatan
• Bengkulu bagian selatan
• Sumatera Selatan bagian timur
• Sebagian besar wilayah Jawa
• Bali
• Nusa Tenggara Barat
• Nusa Tenggara Timur
• Sulawesi Utara bagian barat
• Gorontalo bagian barat
• Sebagian Maluku
• Sebagian Papua Barat
• Sebagian besar Papua
Di wilayah-wilayah tersebut, potensi hujan lebat, angin kencang, serta cuaca ekstrem masih cukup tinggi. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan banjir, longsor, dan gangguan aktivitas akibat cuaca.
Musim Hujan di Jawa Timur Masuk Fase Puncak
Khusus wilayah Jawa Timur, BMKG menyebut sebagian besar daerah kini telah memasuki puncak musim hujan pada Januari 2026. Wilayah seperti Surabaya, Malang Raya, Kediri, Blitar, Jember, Banyuwangi, hingga wilayah Madura berpotensi mengalami peningkatan intensitas hujan.
Baca Juga : Polisi Buru Mobil Misterius Terekam CCTV Dalam Laka yang Akibatkan 1 Orang Tewas di Tulungagung
Curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan masih sering terjadi, terutama pada siang hingga malam hari. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir, genangan, tanah longsor, serta angin kencang di wilayah pegunungan dan dataran rendah.
BMKG juga mengingatkan wilayah selatan dan pegunungan Jawa Timur, seperti Malang Selatan, Pacitan, Trenggalek, Lumajang, dan Bondowoso, lebih rentan terhadap longsor dan banjir bandang akibat tingginya curah hujan.
Meski berada di tengah musim hujan, BMKG memproyeksikan kondisi iklim Indonesia sepanjang 2026 relatif lebih stabil. Sekitar 94 persen wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan dalam kategori normal.
Pada awal 2026, Indonesia masih dipengaruhi fenomena La Niña lemah. Namun pengaruhnya terus melemah dan sistem iklim diperkirakan bergerak menuju kondisi netral hingga akhir tahun. Hal ini menurunkan potensi terjadinya cuaca ekstrem berskala luas.
BMKG memprakirakan sekitar 94,7 persen wilayah Indonesia akan menerima curah hujan normal sepanjang 2026, dengan kisaran 1.500 hingga 4.000 milimeter per tahun.
Sementara sekitar 5,1 persen wilayah lainnya berpotensi mengalami hujan di atas normal, yang tersebar di sejumlah kawasan Sumatera, Jawa, Bali–Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Dengan kondisi ini, musim hujan 2026 dinilai lebih terkendali dan relatif lebih aman bagi aktivitas masyarakat, meskipun hujan lebat sesaat masih mungkin terjadi.
BMKG juga memprediksi suhu udara rata-rata Indonesia pada 2026 berada di kisaran 25–29 derajat Celsius. Dibandingkan dengan rata-rata periode 1991–2020, suhu diperkirakan meningkat sekitar 0,2 hingga 0,6 derajat Celsius di berbagai wilayah.
Kenaikan suhu ini membuat udara terasa lebih hangat meskipun hujan turun lebih sering.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah yang sedang memasuki puncak musim hujan seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera bagian selatan, dan Papua, untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.
Memantau prakiraan cuaca harian, menghindari aktivitas di daerah rawan longsor, serta meningkatkan kewaspadaan saat hujan lebat dapat membantu mengurangi risiko bencana selama puncak musim hujan 2026.
