JATIMTIMES - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang kembali mengingatkan pentingnya kedisiplinan masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya. Imbauan ini disampaikan menyusul melonjaknya volume sampah saat perayaan malam Tahun Baru 2025/2026 yang mencapai 800 ton atau meningkat sekitar 80 ton dibandingkan hari normal.
Pelaksana Harian Kepala DLH Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang menyebut lonjakan sampah tersebut menjadi catatan serius sekaligus pengingat bahwa partisipasi warga sangat dibutuhkan untuk menjaga kebersihan kota, terutama pada momen perayaan besar.
Baca Juga : Pelanggaran Lalu Lintas di Kota Malang Naik 257 Persen Sepanjang 2025
“Dari total 800 ton sampah hari ini, sekitar 600 ton masuk ke TPA Supit Urang. Sedangkan sisanya dikelola di TPS3R maupun TPST,” ujar Raymond.
Raymond menjelaskan, sampah paling banyak berasal dari titik-titik keramaian masyarakat seperti kawasan Jalan Besar Ijen, Kayutangan Heritage Jalan Basuki Rahmat, area depan Stasiun Malang, hingga lokasi pengajian dan doa bersama di sejumlah masjid. Jenis sampah didominasi kemasan makanan dan minuman sekali pakai, mulai dari plastik, botol plastik, hingga styrofoam.
Tingginya volume sampah tersebut membuat petugas DLH harus bekerja lebih lama dari biasanya. Tanpa penambahan armada maupun personel, waktu pengangkutan diperpanjang hingga sore hari demi memastikan tidak ada sampah yang tertinggal.
“Biasanya pengambilan sampah dilakukan mulai pukul 05.00 WIB sampai 12.00 WIB. Saat ini kami tambah hingga sekitar pukul 15.30 WIB. Jadi, petugas harus lembur,” ungkapnya.
Meski demikian, Raymond menilai kesadaran masyarakat menunjukkan tren positif. Dibandingkan perayaan tahun baru sebelumnya, peningkatan sampah tahun ini relatif tidak jauh berbeda. Pada malam Tahun Baru 2024/2025 lalu, volume sampah tercatat mencapai 780 ton atau naik sekitar 60 ton dari hari biasa.
Ia mengakui, di beberapa lokasi masih ditemukan sampah berserakan atau menumpuk di sekitar tempat sampah akibat keterbatasan daya tampung. Namun kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mulai berupaya membuang sampah pada titik yang tersedia.
Baca Juga : PPDB 2026 MIN 2 Kota Malang Dirancang Lebih Humanis dan Berbasis Pemetaan
“Di beberapa lokasi, sampah memang ditumpuk di sekitar tempat sampah karena keterbatasan kapasitas. Ini menunjukkan ada kesadaran, meski tetap perlu penanganan lebih,” katanya.
Raymond pun kembali menegaskan imbauannya kepada seluruh warga dan wisatawan agar tidak membuang sampah sembarangan, terlebih ke selokan dan sungai. Menurut dia, sampah yang masuk ke saluran air berpotensi menimbulkan banjir dan merugikan masyarakat sendiri.
“Kami berharap warga dan pengunjung Kota Malang tidak membuang sampah ke selokan atau sungai. Banjir yang sempat viral sebelumnya salah satunya disebabkan drainase yang tersumbat sampah,” pungkasnya.
