JATIMTIMES - Konsep penataan Kayutangan Heritage terus menunjukkan relevansinya dalam menjawab tantangan kawasan padat perkotaan. Kawasan yang sejak dulu merupakan pemukiman padat penduduk itu kini telah menjadi magnet wisata baru di Kota Malang sejak beberapa tahun terakhir.
Bahkan, kawasan bersejarah di jantung Kota Malang itu kini dinilai memiliki potensi besar untuk dijadikan rujukan nasional. Yakni dalam pengembangan permukiman perkotaan yang tertata, berkelanjutan, dan berbasis pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga : Hampir Kalah dan Ricuh, Persema Ditahan Imbang Perseta Tulungagung di Stadion Gajayana
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyebut keberhasilan Kayutangan Heritage tidak hanya terletak pada perubahan fisik kawasan. Namun juga pada proses sosial yang menyertainya.
Penataan kawasan dilakukan dengan tetap menjaga nilai sejarah sekaligus melibatkan warga sebagai bagian penting dari pengelolaan dan pengembangan kawasan.
Menurut dia, pendekatan tersebut membuktikan bahwa kawasan padat tidak selalu identik dengan kekumuhan. Dengan perencanaan yang tepat, kawasan permukiman yang sebelumnya kurang tertata justru dapat berkembang menjadi ruang publik yang hidup dan bernilai ekonomi.
“Kayutangan menunjukkan bahwa pelestarian kawasan bersejarah bisa berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, konsep yang diterapkan di Kayutangan menitikberatkan pada penguatan peran masyarakat lokal. Baik dalam menjaga lingkungan, mengelola aktivitas wisata, hingga mengembangkan ekonomi kreatif berbasis potensi kawasan.
Pola ini dinilai mampu menciptakan rasa memiliki sekaligus menjaga keberlanjutan penataan kawasan. Di sisi lain, kebutuhan akan model penataan kawasan padat yang efektif terus meningkat seiring pesatnya pertumbuhan kota-kota besar di Indonesia.
Baca Juga : Mengenal Tradisi Beli Hamba dan Kawin Colong di Sumba yang Masih Bertahan hingga Kini
Pengalaman Kota Malang dalam menata Kayutangan Heritage dinilai dapat menjadi referensi praktis bagi daerah lain yang menghadapi persoalan serupa, khususnya di kawasan permukiman lama dan bersejarah.
Pemerintah Kota Malang berharap praktik baik yang telah diterapkan di Kayutangan dapat diadaptasi sesuai karakter masing-masing daerah.
Dengan demikian, penataan kawasan padat tidak lagi sekadar berorientasi pada fisik, tetapi juga mendorong penguatan sosial, budaya, dan ekonomi warga.
