JATIMTIMES - Istilah superflu belakangan bikin masyarakat waswas. Apalagi, secara nasional kasus influenza A (H3N2) subclade K sudah terdeteksi sejak Agustus 2025. Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus di delapan provinsi, dengan Jawa Timur masuk tiga besar bersama Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Husnul Muarif, memastikan hingga saat ini belum ada temuan kasus suspek superflu. Meski begitu, pemantauan tetap dilakukan secara ketat melalui dua titik pengawasan utama.
Baca Juga : Puguh DPRD Jatim Dorong Pemprov Antisipasi Super Flu, Tekankan Mitigasi Terukur
“Untuk pemantauan, kami punya dua sentinel. Pertama untuk Influenza Like Illness (ILI) di Puskesmas Dinoyo. Kedua untuk Severe Acute Respiratory Infection (SARI) atau infeksi saluran pernapasan berat di RSUD Saiful Anwar,” ujar Husnul.
Dua fasilitas tersebut secara rutin mengirimkan sampel pasien ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya. Pemeriksaan dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya virus influenza A (H3N2) subclade K yang kerap disebut superflu.
“Kami akan minta rekap data dulu, paling tidak dari Juli sampai Desember 2025, apakah sudah ada yang terdeteksi. Nanti akan kami koordinasikan. Kalau ada informasi terbaru, pasti kami sampaikan,” tegasnya.
Husnul menjelaskan, penetapan kasus superflu tidak bisa sembarangan. Ada beberapa tahapan sebelum seseorang dinyatakan positif.
“Suspek itu gejalanya hampir sama dengan flu biasa, tapi lebih berat. Di atasnya ada probable, yaitu suspek yang disertai tambahan gejala tertentu. Kalau sudah konfirmasi, itu dipastikan lewat pemeriksaan whole genome sequencing (WGS), dan hasilnya dikeluarkan oleh BBLKM Surabaya,” jelasnya.
Baca Juga : Wengker–Ponorogo: Tanah Konflik dan Kekuasaan Tua di Tanah Angker Jatim
Menurut Husnul, superflu sejatinya adalah influenza A yang bermutasi menjadi H3N2. Mutasi inilah yang membuat dampaknya lebih berat dibanding flu musiman.
“Biasanya kondisi tubuh bisa turun drastis. Badan terasa sangat sakit, lemas sampai susah bangun dan sulit beraktivitas. Saluran pernapasan juga lebih terganggu karena lendir, sehingga tubuh terasa benar-benar drop,” paparnya.
Meski belum ditemukan kasus di Kota Malang, Dinkes mengimbau masyarakat tetap waspada, menjaga daya tahan tubuh, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala flu berat yang tidak biasa.
