Unisma Siap Turun Tangan dalam Pengembangan Potensi Pariwisata Kawasan Timur Kota Malang

Jan 18, 2021 18:33
Dari kiri: Rektor Unisma Prof. Dr. Maskuri, M.Si, Walikota Malang Sutiaji, Wakil Rektor 1, Bidang Akademik dan Kerjasama, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Dari kiri: Rektor Unisma Prof. Dr. Maskuri, M.Si, Walikota Malang Sutiaji, Wakil Rektor 1, Bidang Akademik dan Kerjasama, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Universitas Islam Malang (Unisma) bekerjasama dengan Pemkot Malang, bakal melakukan pengembangan pariwisata di kawasan timur Kota Malang. Tepatnya di kawasan Kecamatan Kedungkandang.

Untuk itu, Rektor Unisma hari ini, Senin (18/1/2020) dalam pertemuan dengan Wali Kota Malang, memaparkan konsep dalam program pengembangan pariwisata di kawasan timur pada Forum Group Discussion (FGD) bertema “Desain Pengembangan Kawasan Pariwisata di Wilayah Kedungkandang dan Area Makam Ki Ageng Gribik Kota Malang.”

Baca Juga : Di Pinggiran Trotoar Depan Kampus, Geram Unisma Lakukan Aksi, Dua Tuntutan Disuarakan

Rektor Unisma Prof. Dr. Maskuri, M.Si memaparkan, terkait pengembangan pariwisata di kawasan timur, memunculkan ide tentang Kampung Santri di Kelurahan Madyopuro dan Kampung Kreatif di Kelurahan Kedungkandang. Desain tentang pengembangan kampung santri maupun kampung kreatif, idenya bermuara saat berkunjung ke Makam Ki Ageng Gribik serta konsep dalam pengembangan kampung kreatif yang ada di kawasan Kedungkandang.

Rasional program pengembangan potensi yang ada di Kedungkandang itu, selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Malang. Selain itu, dalam prosesnya, antara Unisma dan Pemkot Malang serta masyarakat akan terus melakukan sinergi berkesinambungan dalam pengembangan serta berbasis riset untuk mewujudkan Kota Malang bermartabat.

"Mewujudkan Malang Kota Bermartabat, maka salah satu upaya adalah membangun Kampung Santri dan Kampung Kreatif," ungkapnya.

Dijelaskannya lebih lanjut, jika tujuan dari program memiliki muara untuk kesejahteraan masyarakat. Dijabarkannya, jika dengan pengembangan akan memacu kemandirian ekonomi masyarakat.

Adanya Kampung Santri sendiri, di lingkungan Kelurahan Madyopuro, tentunya akan mempengaruhi beberapa aspek yang terencana dalam desain program. Pertama, adalah pengembangan destinasi wisata religius di komplek makam Ki Ageng Gribik.

Kemudian dalam desain aspek sosial, yakni mengembangkan nilai jejak dan historis dengan museum Graha Gribik Islamic Center  untuk kegiatan masyarakat.  Untuk aspek perekonomian, tentu melakukan pengembangan produk UMKM sebagai potensi lokal masyarakat sekitar.

Pada aspek seni dan budaya, dilakukan pengembangan seni dan budaya lokal berbasis agama dan kebudayaan lokal masyarakat Kelurahan Madyopuro. Kemudian, pada desain pendidikan, pengembangan literasi bagi masyarakat kelurahan dengan mendirikan kelompok literasi. Kemudian desain program multikultural, akan dilakukan pengembangan karakter masyarakat dalam bermasyarakat sekitarnya.

Untuk desain program pengembangan lingkungan, akan dilakukan pengembangan pembibitan dan penanaman taman Al-Qur'an dan agroponik bagi masyarakat.

"Di situ nanti kita akan tanami tanaman-tanaman yang tergambarkan dalam Al-Quran. Nah itu nantinya akan menjadi salah satu destinasi wisata. Nantinya termasuk juga agroponik yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Namun ini masih angan-angan, masih gagasan," jelasnya.

Kemudian melakukan pengembangan potensi santri muda, pengembangan kegiatan keagamaan dan prestasi keagamaan. "Namun di sini yang perlu diperjelas, juga salah status tanah makam Ki Ageng Gribik. Apakah milik Pemkot," terangnya.

Selanjutnya, dalam program pengembangan potensi wisata di kawasan timur, dipaparkan Maskuri, adalah Kampung Kreatif di Kelurahan Kedungkandang. Adanya jembatan Kedungkandang, menjadi instrumen dalam pengembangan pariwisata dan juga daya ungkit untuk kampung kreatif.

Baca Juga : Unisma Wisuda Periode ke- 64 secara Daring , Ada 16 Mahasiswa Terbaik, Siapa Saja?

 

Desain program Kampung Kreatif, dari sisi pendidikan tentunya akan melakukan pengembangan kewirausahaan yang menyasar sekolah di Kedungkandang. Dari sisi sosial keagamaan, adalah peningkatan kegiatan sosial kreatif dan peningkatan kualitas keagamaan masyarakat Kedungkandang.

Sisi ekonomi dan budaya, akan memberdayakan dan mengembangkan produk UMKM sebagai potensi masyarakat Kelurahan Kedungkandang. Hal ini termasuk juga pengembangan dalam produk kreatif seni dan budaya.

"Kemudian ada wisata tematik. Saat ini sudah muncul wisata tematik. Pengembangan wisata tematik Kampung Rolak. Nantinya akan lebih di intervensi sehingga lebih jadi," jelasnya.

Kemudian sisi kepemudaan. Hal itu dilakukan dengan pengembangan kemampuan kreatif organisasi kepemudaan yang ada di Kelurahan Kedungkandang.  Selanjutnya, desain program sisi lingkungan, yakni pengembangan dalam industri pupuk kompos maupun tanaman masyarakat.

"Termasuk bisa jadi juga, misal jembatan ditutup sebentar pada hari tertentu untuk pusat pengembangan ekonomi, misalnya. Intinya mengungkit pengembangan ekonomi. Dari sisi keterampilan juga mencakup dalam pembinaan ibu-ibu dalam produk kreatif di Kelurahan Kedungkandang. Kita akan all-out seluruh fakultas masuk dalam pengembangan," tegasnya.

Sementara itu, Wali Kota Malang Sutiaji menyambut baik konsep dari Unisma. Pihaknya ingin pentahelix bisa terus berjalan dengan baik. Keinginan Pemkot Malang ini ternyata disambut oleh Unisma dengan konsep Kampung Santri dan Kampung Kreatif.

"Kampung warna-warni adalah pentahelix dari UMM. Kampung 3G adalah Pentahelix dari UB. Dan saya minta wilayah Kedungkandang ini jadi basic dasar pentahelix Unisma dengan Kampung Santri dan Kampung Kreatif. Harapannya tentu akan lebih baik dari sebelumnya," pungkasnya.

 

 

Topik
universitas islam malang unismarencana pengembangan wisatapengembangan wisata kota malangpotensi pariwisata kawasan timur malangRektor UnismaWalikota MalangBerita Pendidikan Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru