Sekda Kabupaten Malang, Wahyu Hidayat (dua dari kanan) saat menerima tongkat estafet sebagai tanda berakhirnya ajang The Relay Run 1.260 (Foto : Istimewa)
Sekda Kabupaten Malang, Wahyu Hidayat (dua dari kanan) saat menerima tongkat estafet sebagai tanda berakhirnya ajang The Relay Run 1.260 (Foto : Istimewa)

MALANGTIMES - Setelah 20 hari, sebanyak 60 pelari maraton estafet akhirnya mampu menyelesaikan rute sejauh 1.260 kilometer yang disiapkan dalam ajang The Relay Run, Kamis (26/11/2020) petang.

Berakhirnya agenda yang juga merupakan serangkaian acara dalam memperingati hari jadi Kabupaten Malang yang ke-1.260 ini, ditandai dengan penyerahan tongkat estafet dari perwakilan pelari kepada Sekda (Sekertaris Daerah) Kabupaten Malang, Wahyu Hidayat.

Baca Juga : Buka Dialog Kebangsaan Toga Toma, Pjs Bupati: Kehidupan Beragama di Kabupaten Malang Aman

 

Mewakili Pjs (Pejabat sementara) Bupati Malang, Sjaichul Ghulam, Sekda Kabupaten Malang mengaku sangat mengapresiasi dan berterimakasih, atas partisipasi para pelari yang turut memeriahkan hari jadi Kabupaten Malang yang ke 1.260 tahun.

”Kami dari Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Malang mengapresiasi para pelari yang terlibat dalam ajang The Relay Run. Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk edukasi kepada masyarakat yang ada di Indonesia, bahwa meski dimasa pandemi kita tetap bisa berolah raga dengan tetap menjaga protokol kesehatan Covid-19,” ungkap Wahyu saat ditemui awak media di garis finish The Relay Run, yang berlokasi di Museum Singhasari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang Kamis (26/11/2020).

Sebagai informasi, ajang The Relay Run 1.260 yang berlangsung selama 20 hari ini, diikuti oleh 60 pelari yang berasal dari beberapa daerah. Dari data Pemkab Malang, para peserta lari maraton estafet ini ada yang berasal dari Surabaya, Blitar, Bekasi dan bahkan ada pelari yang berasal dari Timor Leste.

Jarak tempuh yang mencapai 1.260 kilometer tersebut, dimulai dari Lembah Indah Malang. Sebelum menempuh garis finish yang ada di Museum Singhasari, para pelari juga menempuh rute yang melewati 72 objek wisata di Kabupaten Malang.

Mengingat jauhnya medan yang dilalui para pelari, membuat Pemkab Malang menginisiasi untuk mendaftarkan ajang The Relay Run 1.260 ini, ke Museum Rekor Indonesia (MURI)

”Karena ajang The Relay Run 1.260 inikan untuk ukuran di Indonesia mungkin kita yang terjauh. Selain untuk menyemarakkan hari jadi Kabupaten Malang yang ke 1.260, ajang The Relay Run ini juga menjadi bukti jika kita tetap bisa berolahraga meski saat ini ditengah Pandemi Covid-19,” ujarnya.

Baca Juga : Tingkatkan PAD, Perwal NJOP Akan Digarap Tahun Depan

 

Disingung soal agenda HUT tahun depan setelah sukses menggelar ajang The Relay Run 1.260 pada tahun ini, Wahyu terkesan masih merahasiakannya. Namun demikian, pihaknya membuka opsi untuk menyesuaikan dengan tren yang ada di tahun 2021 mendatang.

”Bisa jadi, kita kan melihat sekarang trennya selain sepeda juga lari, besok (tahun 2021, red) kalau diadakan ajang sepeda sendiri, lari sendiri, itu tidak ada masalah,” ungkapnya.

Jika benar terealisasi, maka Pemkab Malang, dijelaskan Wahyu, bakal memilih rute yang berbeda dengan rute yang diperuntukkan bagi pelari. Namun demikian, jalur yang ditempuh para pesepeda tetap akan melewati lokasi destinasi wisata.

”Kita lihat nanti, kalau ajang sepeda objek wisatanya berbeda. Mungkin di tempat-tempat yang tidak beraspal, bersepeda di tempat yang memang penuh tantangan, (rutenya, red) beda seperti ajang lari. Tapi tetap rute yang dilalui akan melewati lokasi wisata di Kabupaten Malang,” tukasnya.