MALANGTIMES - Warga pendatang yang terus tumpah ruah ke wilayah Kota Malang dinilai menjadi salah satu penyebab 'hilangnya' bahasa Jawa yang menjadi khas warga Malang. Karenanya, banyak upaya terus dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Malang agar bahasa Jawa terus terjaga.
Pada awal tahun ajaran 2015 - 2016 ini, pemerintah Kota Malang menetapkan Bahasa Jawa sebagai bagian dari Kurikulum 2013 (K-13) yang wajib diimplementasikan pada siswa SMA dan SMK.
Baca Juga : Ditemukan Sepatu, Kaus Kaki, Topi di Dekat Hilangnya Pendaki Gunung di Kota Batu
Supaya implementasinya serta pengajarannya dapat terlaksana secara maksimal, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Malang menggelar Workshop K-13 bagi seluruh guru khusus bahasa Jawa. Whorkshop tersebut digelar di Aula Hotel Kartika Graha, pada Kamis (22/10/2015).
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah, mengatakan bahwa fenomena sekarang sedikit memprihatinkan, dimana bahasa Jawa semakin lama semakin tidak eksis lagi.
"Anak muda sekarang mengganggap bahasa jawa kuno sudah terkesan katrok. Padahal bahasa Jawa itu adalah bahasa ibu yang harus dipertahankan dan menjadi identitas pulau Jawa," kata Zubaidah, saat ditemui dalam acara workshop.
Menurutnya, bahasa jawa atau berbicara menggunakan bahasa Jawa kepada orang yang lebih tua, lebih terkesan sopan dan penuh tata krama. "Jangan sampai bahasa Jawa hilang. Apalagi bahasa Jawa kromo atau kromo inggil," tambahnya.
Baca Juga : Lari seperti Kesurupan, Pendaki Hilang di Gunung Buthak Panderman Batu
Terutama di Kota Malang, mengingat Kota Malang adalah kota pendidikan, yang didatangi oleh ribuan orang dari luar pulau Jawa setiap tahunnya. Kemungkinan besar bahasa Jawa bisa terlupakan jika pendatang lebih mendominasi.
"Penduduk asli Kota Malang seharusnya bisa 'memaksa' pendatang untuk belajar bahasa jawa, melalui komunikasi sehari-hari. Salah satu penyebabnya karena banyak pendatang yang masuk Kota Malang. Bahasa Jawa mulai terlupakan," tutup Zubaidah. (*)
