Bupati Malang Sanusi saat membagikan uang untuk mengganti bantuan beras yang stoknya telah habis. (Foto: Humas Protokol Kab. Malang)
Bupati Malang Sanusi saat membagikan uang untuk mengganti bantuan beras yang stoknya telah habis. (Foto: Humas Protokol Kab. Malang)

MALANGTIMES - Kegiatan Bupati Malang Sanusi membagikan sembako pada Kamis (23/4/2020) lalu di daerah terpencil dan miskin menuai kritikan dari berbagai kalangan. Pihak yang mengkritik tersebut mengatakan, cara Sanusi memberikan bantuan dalam menanggulangi dampak covid-19 dianggap tidak memanusiakan manusia.

Baca Juga : Saat Bupati Malang Berikan Bantuan Beras Melalui Kamituwo, Warga Datang Ingin Bertemu

Anggapan tidak memanusiakan manusia itu karena Sanusi meminta warganya yang menerima bantuan untuk berjejer di jalanan. Berbeda dengan kepala daerah sebelahnya yang memberikan bantuan langsung kepada masyarakat tak mampu di rumahnya masing-masing.

Para netizen juga menganggap bahwa Sanusi menggunakan momen pemberian bantuan sosial untuk kepentingan pencitraan politik. Demi mempopulerkan dirinya dan memenangkan pemilihan pilkada, maka Sanusi dituduh netizen sengaja meminta masayarakat untuk berjajar di jalan, padahal saat ini pemerintah sedang menerapkan social distancing atau menghindari kerumunan.

Sanusi sendiri sudah mendapatkan rekom dari PDIP untuk maju bersama dengan cawabup Didik Gatot Subroto yang saat ini menjabat sebagai ketua DPRD Kabupaten Malang.

Benarkah apa yang dituduhkan para netizen?

Berikut kronologi yang sebenarnya. Pada Kamis lalu, Sanusi dan stafnya berkunjung ke tiga desa di Kecamatan Ampelgading, daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lumajang.

Ada tiga desa yang dikunjungi yakni Desa Purwoharjo, Desa Tirtomarto, dan Desa Lebakharjo. Dua desa yang disebut terakhir terbilang pelosok.

Kebetulan MalangTimes mengikuti rombongan Sanusi. Untuk menuju kawasan tersebut dibutuhkan perjuangan yang cukup melelahkan. Sekitar lima jam perjalanan dari Kota Malang baru sampai. Dengan kondisi jalan menuju desa yang naik turun, berliku, bebatuan, dan sangat sempit, membuat rombongan mobil harus ekstra hati-hati.

Kanan jalan ada tebing, jika mobil agak ke kanan sedikit saja maka bodi mobil pasti akan bersentuhan dengan batuan. Sedangkan kiri jalan adalah jurang. Jika tidak hati-hati maka jatuh ke jurang adalah sebuah keniscayaan.

MalangTimes melihat langsung bagaimana warga berkerumun di jalanan. Mereka terlihat senang dan sumringah. "Maturnuwun, maturnuwun perhatiannya," ujar warga yang menerima bantuan sembako di pinggir jalan. Sebagian besar warga sudah berusia di atas 40 tahunan.

Apakah benar warga yang berkerumun itu dikondisikan oleh protokoler Pemkab Malang?

Baca Juga : PSBB Rencana Diterapkan di Jatim, 9 Poin Ini Bakal Jadi Perhatian Utama Wong Cilik

Kepala Desa Purwoharjo Muhyidin mengatakan, dirinya sudah memerintahkan agar warganya menunggu di rumah saja. Namun imbauannya itu rupanya dianggap angin lalu saja oleh warganya.

Begitu rombongan bupati melewati jalanan desa, warga langsung keluar rumah dan berdiri di pinggir jalan. Dia melihat sudah ada warga yang mencegat rombongan bupati di perempatan jalan desa. "Selain menunggu bantuan beras, warga juga ingin bertemu dengan Pak Bupati secara langsung," ucap Muhyidin.

Dia menjelaskan, sebenarnya untuk penerimaan bantuan akan didrop langsung ke balai desa. Setelah itu, pihak desa yang akan mendistribusikan kepada warga di tiap-tiap rumah.

"Saya sudah memerintahkan perangkat desa untuk menunggu rombongan bupati di Balai Desa Purwoharjo. Tapi warga tidak sabar, masyarakat ya g rumahnya dekat balai desa Warga di lingkungan balai desa ingin menyambut kedatangan bupati. Mereka berdiri di pinggir jalan. "Karena warga tak bisa dibendung, kami meminta semua warga untuk menjaga jarak," sambungnya melalui telepon selulernya.

Kondisi serupa juga terjadi di dua desa lainnya.
"Warga itu sudah disuruh di rumah masing-masing, lah terus yang membagikan itu Pak Wo (Kamituwo). Karena waktunya enggak mencukupi, akhirnya bantuan ditaruh di rumah Pak Wo. Pak Wo yang bagi ke Pak RT," ujar Kepala Desa Lebakharjo Sumarno.

Sumarno juga membantah jika dikatakan di desanya ada yang berkerumun dengan jarak dekat, karena yang dibagikan secara langsung oleh rombongan bupati secara langsung di desanya hanya beberapa rumah saja, karena rombongan bupati ingin segera meninjau kondisi Pantai Licin. Salah satu pantai eksotis di Indonesia. Pantai yang mempunyai pemandangan indah berpasir hitam.

Sanusi sendiri ketika dikonfirmasi mengatakan, dirinya cukup kaget dengan banyaknya warga yang berjajar di pinggir jalan. 
Karena banyaknya warga di jalan desa yang cukup sempit, rombongan bupati akhirnya sempat terhenti beberapa kali untuk melayani warga yang sudah terlanjur berjejer di desa. "Karena melihat warga yang sudah berjajar itu, akhirnya warga diminta untuk menjaga jarak. Bantuan akhirnya diberikan. Saya tak tega untuk menyuruh kembali warga yang sudah di pinggir jalan untuk kembali ke rumahnya," ucap Sanusi.

Saking banyaknya warga, paket bantuan sembako yang disediakan pemkab kurang. Sebagai penggantinya, warga yang tak mendapatkan sembako diberi uang Rp 50 ribu. "Saya spontan saja mengeluarkan uang. Hanya sekitar belasan saja yang belum mendapatkan beras. Begitu ada yang tidak mendapatkan beras, saya turun langsung dari mobil. Mungkin momen itulah yang dianggap saya melakukan pencitraan politik demi kepentingan pilkada. Padahal niat saya tidak tega saja melihat yang lainnya dapat beras, sedangkan sebagian yang lainnya tak kebagian. Itu spontan saja," lanjut Sanusi.

Bagi dirinya, apapun kritik yang masuk ke dia akan dijadikan sebagai masukan. "Saya tetap akan jadikan masukan. Walaupun seandainya netizen itu ada di lapangan, tentu mereka bisa memahami apa yang saya lakukan. Mungkin mereka menulis seperti itu karena mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya di lapangan," terangnya.