Foto Dokumentasi
Foto Dokumentasi

MALANGTIMES - Pembangunan Jembatan Kedungkandang telah dipastikan Pemerintah Kota Malang. Proyek fisik pembangunan jembatan yang menghubungkan wilayah Buring dan Kedungkandang itu pun ditargetkan dimulai pada April 2020 ini. Pekan ini, Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPUPRPKP) Kota Malang akan mengumumkan proses lelang jasa konsultan Jembatan Kedungkandang.

Kepala DPUPRPKP, Hadi Santoso menyampaikan, sebelum dilakukan lelang, pihaknya akan terlebih dulu melakukan pertemuan dengan LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah). Tujuannya adalah mengetahui lebih mendetail dokumen sebelum diunggah. Hal itu juga untuk meminimalisir adanya kesalahan dokumen.

Baca Juga : Sederet Megaproyek Pemkot Malang Ditunda, Termasuk Pembangunan Mini Block Office

"Bulan ini lelang jasa konstruksi sudah masuk dan diumumkan di LPSE (Lembaga Pengadaan Secara Elektronik) Kota Malang," katanya, Kamis (9/1/2020).

Dia menjelaskan, proses lelang kemungkinan dilaksanakan selama satu bulan. Pasca lelang maka pengerjaan fisik baru bisa dilakukan. Sehingga, pembangunan jembatan yang sempat tertunda itu ditargetkan rampung pada 2020 ini. Pasalnya Jembatan Kedungkandang merupakan proyek prioritas di tahun ini.

Dia menyampaikan, proses pembangunan tersebut dilakukan salah satunya juga untuk menyambut dibukanya tol Malang-Pandaan (Mapan). Sehingga kemacetan yang terjadi bisa lebih terurai. Pasalnya, saat ini kondisi Jembatan Kedungkandang selalu padat setiap saat.

Lebih jauh pria yang akrab disapa Sony itu menerangkan, desain Jembatan Kedungkandang tak jauh berbeda dengan Detail Engineering Design (DED) yang dibuat sebelumnya. Jembatan bangunan akan membentang sepanjang 320 meter, dengan lebar jembatan 14 meter.

"Jembatan yang ada sekarang akan tetap digunakan untuk u-turn, dan akan ada trotoar di kanan dan kiri jalan," imbuhnya.

Baca Juga : Layanan Online Rasa Manual, Dispendukcapil Kota Malang Kembali Dikeluhkan

Dia juga menyampaikan jika sebelumnya dilakukan upaya penambahan beberapa konstruksi. Hal itu sudah dibahas terlebih dulu dengan tim ahli teknis Universitas Brawijaya (UB). Terutama untuk mengukur kondisi tanah dan fondasi awal jembatan. Hasilnya memang perlu ada penguatan di beberapa sisi.