JATIMTIMES - Upaya Pemerintah Kota Malang menjaga daya beli warga benar-benar digeber sepanjang 2025. Melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan), Gerakan Pangan Murah (GPM) digelar masif hingga 100 kali dalam setahun, menyalurkan ratusan ton bahan pokok langsung ke tengah permukiman warga.
Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan, menyebut GPM terakhir digelar pada penghujung tahun, tepatnya 31 Desember 2025. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk menahan laju harga sekaligus memastikan pasokan pangan tetap aman.
Baca Juga : PLN Buka Promo Diskon Tambah Daya Listrik 50 Persen, Ini Syarat dan Cara Mendapatkannya
“Totalnya ada 100 kali pelaksanaan GPM sepanjang 2025,” kata Slamet saat dikonfirmasi, Selasa (6/1/2026).
Selama setahun penuh, GPM menjadi kanal distribusi berbagai kebutuhan pokok yang paling diburu masyarakat. Mulai dari beras, gula, telur ayam ras, daging ayam, hingga minyak goreng disalurkan dalam jumlah besar dengan harga lebih terjangkau.
Dispangtan mencatat, beras yang digelontorkan melalui GPM mencapai 408 ton, sementara gula pasir menyentuh angka 69 ton. Telur ayam ras terdistribusi sebanyak 33 ton, disusul daging ayam sekitar 0,5 ton.
Tak hanya komoditas utama, sektor hortikultura juga ikut diperkuat. Sepanjang 2025, GPM menyalurkan 4,5 ton bawang merah, 7,7 ton bawang putih, 1,75 ton cabai rawit, dan 1,5 ton cabai merah. Untuk minyak goreng, jumlahnya bahkan mencapai 127.500 liter.
Masifnya distribusi tersebut tak lepas dari kolaborasi lintas sektor. Dispangtan menggandeng sejumlah mitra strategis, mulai dari Perumda Tugu Aneka Usaha (Tunas), Perum Bulog, Gapoktan Kota Malang, hingga PINSAR.
“Kerja sama dengan mitra ini penting agar pasokan tetap terjaga dan harga bisa ditekan,” ujar Slamet.
Lebih jauh, Slamet menegaskan bahwa GPM bukan sekadar pasar murah. Program ini menjadi instrumen penting dalam menjaga Indeks Ketahanan Pangan Kota Malang, yang mencakup aspek ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan.
Baca Juga : Prestasi Melejit di 2025, MIN 2 Kota Malang Kumpulkan 1.240 Capaian
“Ketersediaan soal stok dan produksi, keterjangkauan soal harga dan akses, sementara pemanfaatan berkaitan dengan bagaimana pangan dikonsumsi secara optimal,” jelasnya.
Antusiasme warga pun terbilang tinggi. Hal itu tercermin dari omzet penjualan di setiap pelaksanaan GPM, serta kepadatan pengunjung yang biasanya terjadi pada pukul 08.00 hingga 10.00 WIB.
Menurut Slamet, faktor lokasi menjadi kunci. GPM yang digelar dekat dengan permukiman dinilai sangat membantu warga, terutama untuk memenuhi kebutuhan harian tanpa harus pergi jauh ke pasar.
“Warga merasa terbantu karena dekat dan harganya lebih murah. Banyak juga yang berharap GPM bisa lebih sering hadir di lingkungan mereka,” pungkasnya.
