Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Sejarah Kata OK yang Kini Berusia 179 Tahun, dari Salah Eja sampai Bahan Bully

Penulis : Dede Nana - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

21 - Nov - 2018, 15:11

Placeholder
Ilustrasi (Ist)

MALANGTIMES - br>A: "Bro, besok ketemuan di mal yuk."
B: "OK."
Adakah sesuatu yang salah dengan jawaban OK dalam percakapan di atas? Tidak. Mungkin, begitulah jawaban Anda. Jawaban OK atas ajakan dalam percakapan di atas tidak ada yang salah. Sebab, kedua orang tersebut sama-sama memahami arah komunikasi tersebut. 

Tetapi, benarkah jawaban si B yang mengatakan OK untuk merespons ajakan si A? Tentu benar. Soalnya, kita telah lama mengira bahwa kepanjangan kata OK adalah okay. Secara arti kata, OK menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kata untuk menyatakan setuju, menunjukkan persetujuan, penerimaan, permufakatan, pembenaran, atau pengakuan. 

Baca Juga : Trending Twitter! Buku Karya Tere Liye Jadi Barang Bukti Aksi Vandalisme Anarko

Dipahami dalam keseharian serta dikuatkan dengan pengertian di KBBI membuat kata OK yang telah berusia kurang lebih 179 tahun diposisikan dalam status quo dan dibenarkan dalam pergaulan dialog. OK adalah okay atau setuju. 

Namun, benarkah seperti itu saja nasib kata OK yang usianya telah lebih dari seabad ini? Sebuah kata yang pada tahun 1941 sampai 1964 di Amerika Serikat menjadi bahan penelitian dan perdebatan ilmiah. 

Allen Walker Read dalam berbagai artikel yang dituliskan mengenai kata OK menuliskan bahwa  awal kemunculan kata okay bersamaan dengan tren "salah ejaan komikal" di Amerika Serikat serta pembentukan dan penggunaan akronim berdasarkan pola-pola tuturan kolokial.
Tren tersebut dimulai di Boston, 1838. 

Bukan hanya kata OK saja saat itu yang jadi bahasa gaul masyarakat atau bahasa slang. Tapi, seperti OFM yang berarti our first men,  NG 'no go' GT 'gone to Texas' serta singkatan lainnya. Semuanya   merupakan salah eja berlebihan, ciri khas dari humoris saat itu. 

Cecil Adams dalam What does "OK" stand for? menyatakan bahwa salah satu pendahulu dari okay adalah OW, "oll wright".  Bukan OK.
Lantas, apakah arti sebenarnya dari kata OK yang kadung dimengerti sebagai okay. Read menyatakan, OK merupakan singkatan dari "all correct". Atau  "oll korrect"  bahkan "ole kurreck" sebagai bentuk ejekan saat itu dikarenakan kebiasaan salah eja di masa tersebut.  

Pengertian OK bahkan diklaim pengertiannya sebagai old kinderhook oleh para pendukung partai politik Demokrat  tahun 1840. Tahun itu istilah OK semakin terkenal, menasional bahkan menjalar pemakaiannya ke berbagai belahan dunia lain. Kata OK menyusup dalam pemilu dan jadi jargon Martin Van Buren, kandidat presiden dari partai Demokrat,  yakni vote for OK. 

Bahkan kata OK dijadikan nama organisasi Buren dalam masa kampanyenya. Organisasi tersebut dinamakan OK Club. Pada fase inilah, kata OK jadi bahan bully atau ejekan dari lawan politik Buren. Pendukung Partai Whig yang menjadi lawannya mengejek OK sebagai singkatan dari "oll korrect". 

Kata OK, yang dipakai Sandiaga Uno -cawapres nomor urut 02- saat mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI Jakarta, dimungkinkan juga dari sejarah panjang dan jejak kata OK dalam dunia politik di Amerika tahun 1839. Saat itu, Sandiaga  selalu bicara soal program One Kecamatan, One Center for Entrepreneurship atau yang dikenal dengan sebutan Oke-Oce. Bahkan, berkali-kali Sandiaga juga berpose dengan simbol OK dalam mengusung program Oke-Oce tersebut. Maka, bully atau ejekan, candaan pun kerap mengalir dari warganet saat itu dengan simbol OK Sandiaga. 

"Susah tidur..kurang konsentrasi..lesu..lemah..ahaaaa oke oce solusinya..." tulis netizen.

Baca Juga : Sudjiwo Tedjo Respon Surat Telegram Kapolri Mengenai Aturan Penghinaan Presiden dan Pejabat Terkait Covid-19

Sejarah kata OK yang sudah berusia ratusan tahun ini pun kerap 'diplintir' oleh warganet. Melalui kreativitasnya, mereka menyajikan juga sejarah kata OK yang tentunya perlu ada pembuktian lebih lanjut. Walau pun, sejarah kata OK versi warganet memang disiarkan dalam konteks candaan. Seperti yang sedang ramai diberbagai grup WA, seperti yang tertulis di bawah ini. 

"Tahukah anda singkatan apa kata "OK" yang sering kita sebut itu? Tanya sama orang bule juga mereka gak tahu..
Sir Thomas Stamford Raffles (1781-1826) pada  1811 diangkat oleh ratu Inggris sebagai letnan jenderal Hindia Timur dan dikirim ke Indonesia. Raffles juga seorang penulis "The History Of Java" yang terkenal itu. Dialah yang mengganti nama "Bencoolen" menjadi "Bengkulu". Konon Raffles juga yang mendirikan Kota Temasek/Singapura. Selain itu dia seorang botaniwan, peneliti tumbuh tumbuhan. Salah satu temuannya yang sekarang dinamai bunga Rafflesia Arnoldi (bunga bangkai).

Suatu hari, Raffles mau masuk hutan bersama rombongannya. Rombongan kecil yang terdiri dari kebanyakan orang Jawa sebagai tenaga bantuan yang mengangkut peti-peti barang bawaan dipimpin sendiri oleh Raffles dan dibantu oleh seorang pennerjemah yang paham bahasa Jawa.
Setelah Raffles memeriksa kesiapan rombongannya, dia berseru:  "Are you ready...?"
Tak ada yang menjawab karena rombongan tidak mengerti bahasa Inggris. Raffles meminta kepada penerjemahnya untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Lalu sang penterjemah berseru: "Opo kowe wis podo siap..?'"
Serentak rombongan menyahut: "Ojo kuatir..!"

Raffles menanyakan kepada penerjemahnya arti jawaban tersebut. Dan bagi Raffles, jawaban tersebut sangat bagus karena di dalamnya tersirat semangat dan meyakinkan. Dia ingin mengulang bertanya dalam bahasa Jawa tapi kesulitan dalam mengucapkan kalimat ojo kuwatir, lalu menyingkatnya.
Raffles berteriak: "Are you O.K..?"
Rombongan sunyi tidak mengerti...

Baru kemudian penerjemah menjelaskan apa yang dimaksud Raffles dan meminta nanti menjawabnya "O.K" juga. Raffles berteriak lagi lebih keras: "Are you O.K...?". Rombongan menjawab dengan tidak kalah keras dan semangat: " O.K...."
Kemudian mereka bergerak masuk ke dalam hutan. "OK" artine "Ojo kuwatir".  (*)

 


Topik

Peristiwa Sejarah-Kata-OK OK KBBI



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Dede Nana

Editor

Sri Kurnia Mahiruni