Sudjiwo Tedjo saat sedang mengisi pengajian di Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) di Jakarta, (7/2/2020). (Foto: Instagram @President_Jancukers)
Sudjiwo Tedjo saat sedang mengisi pengajian di Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) di Jakarta, (7/2/2020). (Foto: Instagram @President_Jancukers)

MALANGTIMES - Melalui akun resmi twitternya, budayawan Sudjiwo Tedjo merespon mengenai terbitnya surat telegram Kapolri yang mengatur tiga poin utama yang akan diterapkan di kondisi wabah pandemi Covid-19 ini.

Ketiga hal itu yakni mengenai kejahatan siber yang di dalamnya terdapat aturan khusus mengenai penghinaan kepada Presiden dan pejabat terkait Covid-19, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan mengenai peran Reserse dan kriminal dalam mengawasi kesediaan bahan pokok dan distribusinya. 

Sudjiwo Tedjo membuat thread di akun resmi twitternya sebanyak 15 tweet yang menyoroti secara khusus mengenai aturan penghinaan terhadap Presiden dan pejabat terkait Covid-19, yang ditunjukkan kepada Kapolri Jenderal Idham Azis.

Thread pertama Sudjiwo Tedjo yakni jika benar Polri akan menindak para penghina pemimpin tanpa delik aduan yang merasa dihina, jika salah sedikit saja aturan ini akan kontra produktif berupa cibiran, tidak di mulut atau media sosial, tetapi di hati.

Dalam thread kedua, Sudjiwo Tedjo juga telah berdiskusi dengan teman-teman hukum mengenai aturan menghina Presiden atau pejabat. 

"Temen2 hukum banyak yg mengingatkan, jangankan para pemimpin bawahan, bahkan pucuk pemimpin yaitu presiden saja sudah bukan lagi simbol negara. Penghinaan terhadap mereka baru menjadi kasus hukum bila ada aduan dari mereka, persis yg berlaku terhadap rakyat biasa," tulis Sudjiwo Tedjo yang dikenal sebagai Presiden Jancukers ini, Senin (6/4/2020).

Mengenai aturan hukum, Sudjiwo Tedjo tidak terlalu fokus kearah sana dan pasti pihak Kepolisian telah menganalisis dari segi hukumnya. Dirinya hanya ingin menceritakan perihal penerapan aturan ini nantinya. "Izinkanlah saya cuma mau ber-ini-itu soal rasa, Pak Kapolri," tulis Sudjiwo Tedjo dalam thread ketiga. 

Dalam thread keempatnya Sudjiwo Tedjo menceritakan mengenai hinaan yang pernah diucapkan oleh leluhur Nusantara dan diwanti-wanti kembali oleh Ki Narto Sabdo maestro dalang yang dianugerahi Bintang Mahaputra Adipradana sebaiknya ditempatkan di bokor kencana (emas) sedangkan pujian malah harus dibuang ke paidon (tempat meludah).

Lebih detail Sudjiwo Tedjo menjelaskan terkait perumpamaan itu di thread kelima, yakni mungkin yang dimaksud oleh leluhur agar manusia selalu ingat, dzikir dan waspada.

"Bahkan para pemimpin yg ud baik pun, tetap perlu meletakkan hinaan padanya di bokor kencana, dan pujian padanya di tempat meludah, agar dia tetap dapat mengontrol dirinya sendiri," tulisnya. 

Sudjiwo Tedjo juga menuturkan bahwa dirinya tidak suka menghina. "Bahkan selalu menyarankan agar terhadap koruptor pun kita tidak menghina. Saran/pesan yg juga saya sampaikan pd upacara HUT Brimob Polri, upacara yg sangat artistik tahun lalu di Kelapa Dua," tulisnya dalam thread keenam. 

Sudjiwo Tedjo tidak melarang untuk semua orang mengkritik, tetapi tidak perlu sampai menghina. Kedua hal ini yang harus dibedakan agar tidak terjadi kesalahpahaman.

"Tapi karakter orang di Nusantara dan dunia ini macem2, Pak. Ada yang baru merasa plong kalau sudah menghina. Dokter ahli bedah saraf @ryuhasan mengiyakan ttg adanya karakter bawaan dari proses evolusi itu," tulis dalam thread ketujuhnya.

Dalam thread nya yang kedelapan, Sudjuwo Tedjo lebih menekankan bahwa persoalan menghina kecuali yang melapor ke polisi agar diserahkan kepada para agamawan, seniman, tetua adat, agar mereka semua mengimbau umat atau fansnya agar tidak menghina tanpa ada ancaman bui (kurungan penjara).

Dalam threadnya yang kesembilan, Sudjiwo Tedjo merasa tidak ada yang menghina bukan karena terpuji melainkan karena takut dipenjara, justru membuat seorang pemimpin tersebut sangat menyedihkan.

"Dihina tak membuat terhina. Tak dihina karena takut dibui, itu yang justru membuat terhina," tandasnya dalam thread kesembilan. 

Dalam konteks thread kesembilan itu, martabat polisi adalah tidak membuat pemimpin jadi menyedihkan. Martabat korps Bhayangkara adalah tidak membuat pemimpin justru terhina secara hakekat.

Dalam thread yang ke-11, Sudjiwo Tedjo juga mengibaratkan seperti rumah tangga yang ada, suami dan istri tidak saling hina hanya karena takut terhadap Undang-Undang Pernikahan, hal itu sangat menyedihkan. Lain lagi jika berbicara mengenai pasangan suami istri yang tidak saling menghina karena memang cinta.

Sudjiwo Tedjo juga mengibaratkan dengan perbuatan mencuri atau membunuh.

"Lho, kalau begitu tak mencuri/membunuh bukan karena tak ingin tp krn takut dipenjara, itu buruk? Maaf, Pak Kapolri, beda. Mencuri/membunuh itu merugikan. Menghina tidak merugikan. Bahkan, menurut para leluhur Nusantara via quote twit no 4, justru malah mengagungkan yg dihina," jelasnya dalam thread ke-12. 

Jika memang seorang pemimpin itu sosok yang patut dihormati dan terpuji pasti gelombang kritikan dan hinaan dari masyarakat akan surut dengan sendirinya. 

Dalam thread ke-13 Jika terdapat masyarakat yang melakukan penghinaan terhadap sosok pemimpin yang terpuji dan terhormat, akan ada gelombang masyarakat yang mengeliminasi penghina pemimpin tsrsebut. 

Sudjiwo Tedjo mengkhawatirkan jika perihal hinaan terhadap pemimpin ini dituangkan dalam produk aturan akan ada kemungkinan tidak sesuai dengan yang diharapkan. 

"Khawatirnya, bila dituangkan dalam produk aturan, ada kemungkinan salah langkah yaitu aturan ini menjadi aturan karet, yang sejatinya bukan penghinaan dipaksakan untuk menjadi penghinaan atas nama kepentingan. Semoga tidak," tulisnya dalam thread ke-14.

"Demikian Pak Kapolri, Jenderal Pol Idham Azis, mohon maaf atas salah-salah surat terbuka yg saya tulis mungkin sambil berkaca2 dan #diRumahAja ini. Hormat kami, TTD, Presiden Jancukers Sujiwo Tejo," tutupnya dalam thread ke-15.