Buku karya Tere Liye jadi barang bukti ujaran kasus kebencian. (Foto: Twitter Humas Polda Jabar)
Buku karya Tere Liye jadi barang bukti ujaran kasus kebencian. (Foto: Twitter Humas Polda Jabar)

MALANGTIMES - Penulis novel Tere Liye kini tengah menjadi perhatian publik.  Bahkan nama dan karya novelnya menjadi trending topic di Twitter.

Hingga kini sudah 8 ribu lebih cuitan tentang 'Tere Liye'.  Hal itu disebabkan ditangkapnya sejumlah pria yang diduga terlibat kasus vandalisme.  

Hal itu berawal dari unggahan akun Twitter Humas Polda Jawa Barat.  Polisi merilis pernyataan mengenai penangkapan dugaan aksi ujaran kebencian. 
 

Image
Foto: Twitter Humas Polda Jabar



"Jajaran Kepolisian Resor Banjar, Polda Jabar mengamankan empat orang pemuda yang melakukan vandalisme berisikan ujaran kebencian di empat lokasi berbeda di wilayah Kota Banjar, Jawa Barat. Dari keempat yang diamankan, tiga orang ditetapkan sebagai tersangka," tulis akun Humas Polda Jabar di Twitter, Senin (13/4/2020). 

Dalam foto yang diunggah, tampak polisi yang memegang barang bukti sejumlah buku.  Buku tersebut diketahui karya dari Tere Liye yang berjudul 'Negeri Para Bedebah'. 

Tampak cover buku tersebut seseorang memakai jas dan topeng dengan hidung panjang. Juga da hewan mirip anjing di dekatnya. 
 

Novel Negeri Para Bedebah by Tere Liye, Books & Stationery, Books ...
Buku karya Tere Liye 'Negeri Para Bedebah' (Foto: Carousell)


Selain itu, ada buku karangan Mark Manson dan Syekh Siti Jenar.  

Tak ayal, gara-gara peristiwa ini nama Tere Liye menjadi viral.  Melihat hal tersebut, banyak warganet yang lantas bertanya-tanya. Terlebih novel karya Tere Liye banyak yang berbicara tentang cinta.  

Aksi polisi itu pun langsung banyak dikecam oleh warganet.  Bahkan mereka meminta agar polisi untuk terlebih dahulu membaca isi buku Tere Liye tersebut.  

@fchkautsar: "Bener-benar definisi "malas membaca jadi polisi" Astaga tuhan itu buku mark manson, syekh siti jenar, ampe sartre pun dijadiin barang bukti." 

@mejikuhibinia: "Pak coba dibaca dulu itu bukunya." 

@mengampus: "Bener bener masa Buku sejenis Tere Liye, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodoamat, Syeikh Siti Jenar, dijadikan barang bukti?? jelas jelas isi bukunya jauh berbeda dari judul. Gini nih cuma baca dari cover doang, gimana minat baca indonesia mau maju".

@thesanurm: "Anarko mana yang baca Tere Liye." 

Merespons warganet, Kadivhumas Polda Jawa Barat Kombes Sapto Erlangga mengungkapkan bahwa buku-buku itu bukan sebagai barang bukti.  Melainkan hanya dijadikan barang yang diamankan oleh petugas dari ketiga tersangka ujaran kebencian.  

Lebih lanjut Sapto Erlangga menegaskan bahwa tidak ada kaitan  sama sekali isi buku dengan tindakan vanalisme tersebut. 

Lantas apa sebenarnya isi dari buku 'Negeri Para Bedabah'? Buku ini merupakan 'Sebuah Review tentang Dongeng Realistis'

"Dikisahkan seorang konsultan keuangan profesional bernama Thomas, yang memiliki kesibukannya luar biasa.

Dalam setting sebuah akhir pekan, secara mendadak ia harus 'menyelamatkan' Bank Semesta milik Om Liem, yakni pamannya yang kalah kliring sekian miliar. 

Meskipun Thomas sangat membenci Om Liem, ia tetap tergerak untuk turun tangan mengusahakan kebijakan pemerintah agar tidak menutup Bank Semesta.

Seorang jaksa dan  pejabat kepolisian disebut-sebut sebagai dalang kematian orang tua Thomas saat ia berusia 6 tahun.

Mereka sengaja berkhianat menghancurkan bisnis keluarga Thomas kala itu.

Hingga sepak terjangnya di masa kini, kembali menjadi pihak yang siap mengeruk keuntungan apabila Bank Semesta ditutup.

Inilah perjuangan spektakuler Thomas dimulai yang diawali dari pertemuannya dengan seorang wartawan media ekonomi bernama Julia.

Keterlibatan Julia yang tidak sengaja, bertolak belakang justru secara perlahan menjadi partner yang membantu Thomas."

Dalam buku ini, Tere Liye sangat piawai dalam menyampaikan cerita menyertakan vocab-vocab ekonomi yang mudah dicerna oleh orang awam. 

Tentang turbulensi ekonomi tentang serta istilah om teroris, sebutan Thomas untuk subprime mortage a.k.a krisis ekonomi dunia. 

Di cerita ini begitu 'hidup'nya tokoh Thomas hingga jatuh untuk menimbulkan efek 'dramatis' ketika menerangkan ketidakberhargaan selembar saham. 

Keterlibatan antar peran yang disusun sedemikian rupa begitu tepat untuk bertautan dalam kesatuan cerita.