JATIMTIMES - Keluhan anak demam tinggi, batuk-pilek hingga sesak napas belakangan ramai dibicarakan orang tua di media sosial, salah satunya di Threads. Kondisi anak yang tiba-tiba drop juga membuat banyak orang bertanya-tanya, apakah sedang terserang flu biasa atau influenza.
Spesialis anak dr Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH menjelaskan influenza berbeda dengan common cold atau batuk pilek biasa. Meski sama-sama menyerang saluran pernapasan dan memiliki beberapa gejala yang mirip, penyebab keduanya berbeda.
Baca Juga : Warga Sidoarjo Barat Kini Tak Perlu Jauh untuk Cuci Darah, Wabup Mimik: RSUD Sibar Siapkan 14 Mesin Dialisis
"Yang perlu dipahami, flu tidak sama dengan common cold (batuk pilek biasa). Flu disebabkan oleh virus influenza, sedangkan common cold bisa disebabkan oleh virus lain, seperti rhinovirus atau adenovirus," kata dr Mesty, dikutip Rabu (16/9/2026).
Hal serupa disampaikan dokter spesialis anak dr Ardi Santoso Sp.A, M.Kes melalui akun Instagram pribadinya. Ia menyoroti banyaknya anak yang mengalami demam tinggi, batuk-pilek berkepanjangan hingga keluhan nyeri telinga dan sesak napas.
"Lagi rame banget anak-anak pada drop, demang tinggi susah turun, batu pilek nggak sembuh, bahkan sampai nyeri kuping dan sesak napas. Kenapa ya?" tulisnya.
Salah satu hal yang dapat diperhatikan orangtua adalah pola munculnya gejala. Influenza umumnya menyerang secara tiba-tiba dan dapat membuat kondisi tubuh cepat menurun.
"Flu karena influenza A atau B biasanya datang mendadak dengan demam, batuk, nyeri otot, sakit kepala, lemah, dan pada anak bisa disertai muntah atau diare," jelas dr Mesty.
Demam yang lebih tinggi, badan terasa nyeri, serta kondisi tubuh yang melemah secara mendadak lebih khas ditemukan pada influenza dibandingkan common cold.
Sebaliknya, batuk pilek biasa umumnya tidak muncul dengan pola seberat dan sedadak influenza. Namun, gejala saja tidak cukup untuk memastikan jenis virus yang menginfeksi anak.
"Pola tiba-tiba, demam lebih tinggi, badan terasa nyeri yang lebih khas influenza dibanding common cold. Tetapi gejala saja tidak cukup akurat, jadi konfirmasi terbaik tetap dengan tes," tambah dr Mesty.
Influenza sendiri memiliki beberapa tipe. Dua jenis yang paling umum menginfeksi manusia adalah influenza A dan influenza B.
Influenza A memiliki karakteristik berbeda karena virus ini dapat menular antara hewan dan manusia. Kondisi tersebut membuat influenza A memiliki potensi menyebabkan wabah besar.
"Influenza A adalah virus flu yang bisa menular dari hewan ke manusia, sehingga berpotensi memicu pandemi besar seperti H1N1 tahun 2009," jelas dr Mesty.
Virus influenza A juga dapat mengalami perubahan dan memiliki sumber dari hewan seperti babi atau unggas sebelum menginfeksi manusia.
Sementara itu, influenza B beredar dari manusia ke manusia. Virus ini dinilai lebih stabil dan tidak memiliki pola penularan lintas spesies seperti influenza A.
Baca Juga : Dokter Tompi Ungkap Fakta Bopeng Bekas Jerawat: Tak Ada Treatment yang Bisa Bikin Kulit Mulus Total
"Influenza B hanya beredar antarmanusia, lebih stabil, tapi jangan diremehkan. Beban total influenza musiman di dunia diperkirakan 290.000 sampai 650.000 kematian per tahun," ujar dr Mesty.
Meski influenza B tidak dikenal sebagai penyebab pandemi global seperti influenza A, infeksinya tetap dapat berkembang menjadi kondisi berat, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta.
Kapan Anak Perlu Diperiksa?
Membedakan influenza A, influenza B, dan common cold hanya berdasarkan gejala bukan perkara mudah. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebab infeksi.
Orangtua perlu lebih waspada ketika anak mengalami demam dan keluhan pernapasan yang muncul secara mendadak, terutama jika kondisi tubuh cepat melemah atau muncul keluhan lain seperti sesak napas.
Dokter dapat menentukan pemeriksaan yang diperlukan untuk memastikan apakah anak mengalami influenza atau infeksi virus lainnya.
Dr Ardi mengingatkan pencegahan tetap penting ketika kasus infeksi saluran pernapasan sedang banyak terjadi.
"Jadi jangan lupa, vaksin influenza tiap tahun mulai dari umur 6 bulan sampai dewasa," tulisnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi tubuh, termasuk konsumsi vitamin D untuk membantu menjaga status imunitas yang lebih baik.
Selain itu, kebiasaan sehari-hari seperti menggunakan masker, mencuci tangan, dan menerapkan etika batuk juga perlu diperhatikan.
"Dan yang penting lagi nih, jangan lupa protokol kesehatan. Masker jangan lupa, cuci tangan jangan lupa, dan etika batuk dijalankan. Oke, salam sehat," pesan dr Ardi.