JATIMTIMES - Bulan Ramadan selalu menjadi waktu yang dinanti umat Islam di seluruh dunia. Selain menunaikan ibadah puasa, malam-malam Ramadan juga dihidupkan dengan salat tarawih. Ibadah sunnah ini bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan lebih khusyuk dan penuh harap.
Dalam kitab klasik Durrotun Nasihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khubawi, disebutkan bahwa setiap malam tarawih memiliki keutamaan tersendiri. Penjelasan ini membuat banyak umat Islam semakin bersemangat menjaga konsistensi ibadah sejak malam pertama hingga akhir Ramadan.
Baca Juga : 8 Fenomena Langit Sepanjang Maret 2026, Gerhana Bulan hingga Ekuinoks saat Lebaran
Keutamaan Tarawih Malam ke-12
Salah satu yang sering dicari banyak orang adalah fadhilah salat tarawih malam ke-12. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa orang yang mengerjakan ibadah pada malam kedua belas akan datang pada hari kiamat dengan wajah yang bersinar seperti bulan purnama.
Disebutkan dalam teks:
وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةَ عَشَرَةَ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ
Artinya: “Pada malam kedua belas, ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah bagaikan bulan di malam purnama.”
Gambaran ini begitu indah dan menenangkan. Di hari kiamat yang digambarkan penuh ketakutan, kegelisahan, dan penantian panjang, ada golongan hamba yang datang dengan wajah bercahaya. Cahaya tersebut menjadi simbol kemuliaan dan tanda bahwa amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT.
Makna Wajah Bercahaya di Hari Kiamat
Dalam banyak penjelasan ulama, cahaya di hari kiamat sering dikaitkan dengan amal saleh yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Wajah yang bersinar bukan hanya gambaran fisik, tetapi juga bentuk balasan atas kesungguhan seorang hamba dalam menjaga ibadahnya.
Salat tarawih sendiri memang bukan ibadah wajib. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Ketika seseorang tetap meluangkan waktu, tenaga, dan fokus untuk mengerjakannya setiap malam, itu menunjukkan kecintaan dan kesungguhannya dalam mencari ridha Allah.
Semangat untuk terus beribadah juga sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur'an. Dalam surah Al-Ankabut ayat 69, Allah SWT berfirman:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
Baca Juga : Laka Maut di Pendem Kota Batu: Diseruduk Pikap Kecepatan Tinggi, Pelajar 15 Tahun Meninggal Dunia
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
Ayat ini menjadi penguat bahwa setiap usaha dalam beribadah tidak akan sia-sia. Kesungguhan akan dibalas dengan petunjuk, kemudahan, dan pertolongan dari Allah SWT.
Keutamaan malam ke-12 tentu tidak bisa diraih tanpa menjaga ibadah sejak awal Ramadan. Konsistensi adalah kunci. Banyak orang memulai Ramadan dengan semangat yang membara, tetapi perlahan mulai berkurang di pertengahan bulan. Padahal justru di fase inilah keteguhan hati diuji.
Membangun kebiasaan tarawih setiap malam membantu melatih kedisiplinan spiritual. Tubuh mungkin terasa lelah setelah beraktivitas seharian dan berpuasa, tetapi ketika hati sudah terbiasa, langkah menuju masjid atau sajadah di rumah terasa lebih ringan.
Tarawih juga menjadi sarana muhasabah atau introspeksi diri. Di sela-sela rakaat yang panjang, seseorang bisa merenungi kesalahan, memperbaiki niat, dan memperbanyak doa. Ramadan adalah momen memperbaiki diri, dan tarawih menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Semoga dengan istiqamah dalam salat tarawih, termasuk pada malam ke-12, kita termasuk golongan yang mendapatkan cahaya dan kemuliaan di hari kiamat kelak.
