JATIMTIMES - Malam Lailatul Qadar menjadi salah satu momen paling dinantikan umat Islam selama bulan Ramadan. Malam istimewa ini disebut dalam Al-Qur'an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, sehingga banyak umat Muslim berlomba-lomba meningkatkan ibadah untuk meraihnya.
Meski begitu, waktu pasti terjadinya Lailatul Qadar tidak pernah disebutkan secara spesifik. Penjelasan dari Kementerian Agama Republik Indonesia menyebut para ulama memang memiliki perbedaan pendapat mengenai tanggal pastinya.
Baca Juga : Usai Kasus Bawang Bombai Impor Terungkap, Satgas Pangan Polresta Malang Kota Perketat Pengawasan Pasar
Namun sebagian besar ulama sepakat bahwa malam penuh kemuliaan tersebut berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil seperti 21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan.
Untuk Ramadan 1447 H yang jatuh pada 2026, rentang malam yang diperkirakan berpotensi menjadi Lailatul Qadar berada sekitar 9–18 Maret 2026 malam, tergantung pada metode perhitungan kalender yang digunakan.
Anjuran untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan juga disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.
Artinya, “Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari).
Hadis ini menunjukkan bahwa umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan karena pada rentang waktu itulah kemungkinan Lailatul Qadar terjadi.
Upaya untuk meraih Lailatul Qadar juga dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau meningkatkan intensitas ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan dibandingkan waktu lainnya.
عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
Artinya, “Dari Aswad dari Aisyah ra ia berkata bahwa Nabi saw meningkat amal-ibadah pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan melebihi di waktu yang lain,” (HR Muslim).
Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW menghidupkan malamnya, mengencangkan kain bawahnya, dan membangunkan keluarganya ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ-أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Minggu Wage 8 Maret 2026: Jangan Berbuat Curang
Artinya, “Dari Aisyah RA, ia berkata, bahwa Rasulullah SAW ketika masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan, mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya,” (Muttafaq ‘alaih).
Ulama menjelaskan bahwa istilah “mengencangkan kain bawahnya” dalam hadis tersebut memiliki makna tertentu. Menurut ulama hadis Ibnu Baththal, maksudnya adalah Rasulullah SAW menahan diri dari hubungan suami istri agar bisa lebih fokus beribadah.
Sementara ulama Sufyan Ats-Tsauri menjelaskan bahwa membangunkan keluarga menunjukkan anjuran bagi seorang suami untuk mendorong anggota keluarganya melakukan amalan sunah dan berbagai kebajikan selain ibadah wajib.
وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِىُّ : قَوْلُهُ : ( شَدَّ مِئْزَرَهُ ) فِى هَذَا الْحَدِيثِ يَعْنِى : لَمْ يَقْرَبِ النِّسَاءَ ، وَفِى قَوْلِهِ : ( أَيْقَظَ أَهْلَهُ ) مِنَ الْفِقْهِ أَنَّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَحُضَّ أَهْلَهُ عَلَى عَمَلِ النَّوَافِلِ ، وَيَأْمُرَهُمْ بِغَيْرِ الْفَرَائِضِ مِنْ أَعْمَالِ الْبِرِّ ، وَيَحْمِلَهُمْ عَلَيْهَا .
Lalu bagaimana dengan keterangan bahwa Rasulullah SAW menghidupkan malamnya? Ulama menjelaskan bahwa hal itu bukan berarti beliau beribadah tanpa tidur sepanjang malam hingga pagi. Dalam penjelasan ulama Abdurrauf al-Munawi, maksudnya adalah Rasulullah memperbanyak ibadah pada sebagian besar malam.
(وَأَحْيَا لَيْلَهُ) أَيْ تَرَكَ النَّوْمَ الَّذِي هُوَ أَخُو الْمَوتِ وَتَعَبَّدَ مُعْظَمَ اللَّيْلِ لَا كُلَّهُ بِقَرِينَةِ خَبَرِ عَائِشَةَ مَا عَلِمْتُهُ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى الصَّبَاحِ
Artinya, “(dan menghidupkan malamnya) maksudnya adalah Rasulullah SAW tidak tidur dan beribadah pada sebagian besar malam, bukan seluruhnya sebab ada riwayat dari Aisyah ra yang menyatakan: ‘Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW melakukan ibadah satu malam penuh sampai pagi hari.’”
Berdasarkan penjelasan para ulama tersebut, ada beberapa amalan yang bisa dilakukan untuk meningkatkan peluang meraih Lailatul Qadar:
• Mengurangi aktivitas duniawi dan lebih fokus pada ibadah, termasuk menahan diri dari hubungan suami istri pada sepuluh malam terakhir.
• Memperbanyak ibadah malam, seperti salat malam, membaca Al-Qur'an, dan berdoa.
• Mengajak keluarga ikut beribadah, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Itulah tips dan cara yang bisa diamalkan untuk meraih Lailatul Qadar. Semoga kita semua dapat meraih keberkahan Lailatul Qadar yang nilainya disebut lebih baik dari seribu bulan. Amin Ya Rabbal Alamin.
