MALANGTIMES - Bersarung atau memakai sarung mungkin terlihat lumrah dalam masyarakat Indonesia. Tapi bagi masyarakat Suku Tengger Ngadas, bersarung ternyata memiliki istilah dan kegunaan berbeda-beda, selain sebagai pengusir hawa dingin yang memang akrab dengan keseharian mereka.
Baca Juga : Dosen UM yang Sempat Positif Covid-19, Sudah Diperbolehkan Meninggalkan Rumah Sakit
Menurut Ngantrulin, dukun desa Ngadas, dalam beberapa pernyataan yang dirilis berbagai media massa, cara bersarung suku Tengger Ngadas tidak kurang dari 7 (tujuh) pola. "Sekitar itu dan setiap cara bersarung memiliki istilah dan kegunaan sendiri-sendiri dalam kesehariannya," kata Ngantrulin.
Di antara tujuh cara bersarung yang sampai saat ini terjaga dan terus dilaksanakan warga Ngadas adalah kakawung. Kakawung biasanya dipakai saat mereka bekerja. Kain sarung dilipat dua, kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu.
"Kakawung ini dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ke tempat mengambil air atau ke pasar," ujar Ngantrulin yang menegaskan cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat.
Cara bersarung Suku Tengger Ngadas kedua adalah sesembong yang dipakai saat bekerja di ladang atau pekerjaan-pekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar. Dalam sesembong ini, sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas.
Sedangkan saat bertamu, Suku Tengger Ngadas memakai cara sempetan, yaitu ujung sarung dilipat sampai ke garis pinggang.
Baca Juga : Gegara Ahok Diskon BBM untuk Ojol, Said Didu dan Arsul Soni Malah 'Perang' di Twitter
Menurut Made Arya Wedanthara, kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, pola dan cara bersarung Suku Tengger Ngadas yang dilakukan sebagai bagian hidup ini sudah mengundang daya tarik sendiri. "Di sinilah kenapa sejak dulu kita sematkan status desa wisata. Begitu banyak hal menarik yang berasal dari tradisi dan telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari warga Ngadas," ucap Made Arya, Senin (19/06).
Pola lain bersarung Siku Tengger Ngadas adalah kekemul yang dipakai pada saat santai dan sekadar berjalan-jalan. Cara kekemul adalah, setelah disarungkan pada tubuh, bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya, kemudian digantungkan di pundak. Agar terlihat rapi pada saat bepergian. mereka menggunakan cara sengkletan. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada.
Selain itu, ada dua cara lagi bersarung, yaitu kekodong dan sampiran. Kekodong sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat-tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari . Dengan ikatan di bagian belakang kepala, kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala sehingga yang terlihat hanya mata.
Sedangkan sampiran sering dipakai oleh anak-anak muda Tengger. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung dan di kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. (*)
