ilustrasi

ilustrasi


Pewarta

Nana

Editor


Ayo Bung Berpeci!  1

MALANGTIMES - Ayo maju. Pakailah Pecimu. Tarik nafas yang dalam dan masuk SEKARANG!!!,.

Begitulah ucap Soekarno kepada dirinya sendiri saat akan memasuki ruangan pertemuan dalam  acara Jong Java, Juni 1921 di Surabaya.

Saat itu, si Singa Podium yang menggetarkan para musuhnya, gentar oleh dirinya sendiri. Pasalnya, dia akan menghadiri acara besar dengan atribut tidak biasa. Kepala Soekarno memakai peci. Suatu atribut yang zaman itu jarang dipakai dalam acara besar.

Dia ragu, bahkan sempat sejenak berhenti dan bersembunyi di belakang tukang sate, sebelum hati dan pikirannya memberontak tubuhnya sendiri.

"Ayo maju. Pakailah pecimu!. Dan, setiap orang memandang heran padaku tanpa kata-kata," kata Bung Karno, seperti dicatat dalam Buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams.

"Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang saya pilih, karena itu marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakainya sebagai lambang Indonesia Merdeka," tegas Bung Karno.

Inilah awal Bung Karno mempopulerkan pemakaian peci yang bukan sekadar pelengkap busana saja, tetapi menjadi lambang pergerakan perjuangan.

Bahkan antara Peci dan Bung Karno telah menjadi kesatuan yang tidak terpisahkan. Dalam banyak kegiatan kenegaraan, baik di dalam negeri maupun forum Internasional, Bung Karno selalu memakainya. 

Contohnya, bagi masyarakat Uzbekistan, jika melihat orang bertampang melayu memakai peci hitam, maka mereka akan selalu mengingat Ah Med Zu Kar Nu.

Begitulah lidah masyarakat Uzbekistan melafalkan nama Soekarno dengan penuh hormat karena jasanya melobi pemimpin Uni Soviet untuk memugar kembali makam Imam Bukhari. 

Di kepala Bung Karno, peci yang dizaman kolonial Belanda disebut Petje atau topi kecil ini, bukan sekadar identitas kemuslimannya saja tetapi sebagai simbol perlawanan rakyat.

Identitas peci yang dipopulerkan Bung Karno bertahan sampai saat ini. Walaupun terjadi pergeseran identitas seperti pada zaman perjuangan kemerdekaan.

Kisah Peci saat ini hanya marak apabila ada acara-acara kenegaraan semata. Tidak untuk aktivitas sehari-harinya.

Para pejabat atau aparatur sipil negara memakainya sebagai simbol keagamaan atau keseragaman dalam praktik seremonial.

Berbeda dengan apa yang dipraktikkan oleh Bupati Malang, Dr. Rendra Kresna. Peci bagi Bung Rendra, sapaan akrab masyarakat Kabupaten Malang, adalah identitasnya dalam memperjuangkan kepentingan warga.


Bung Rendra, sapaan akrab Bupati Malang, Dr H Rendra Kresna tidak pernah lepas dari peci hitamnya dimanapun dalam berbagai acara apapun (Nana/MalangTIMES)

Peci bukan sekadar pelengkap acara seremoni, tetapi sebagai bagian tak terpisahkan dari sosok Bung Rendra. Bisa dibilang mirip Bung Karno. Pun sapaan akrab 'Bung' yang disandangnya.

"Saya memang pengagum Bung Karno. Pemakaian peci dalam keseharian saya juga terinspirasi dari Sang Proklamator," kata Rendra saat berbincang santai di ruang kerjanya, Senin (22/05) kepada Tim MALANGTIMES.

Bagi Bung Rendra, peci adalah bahasa simbolnya sebagai pemimpin yang memiliki amanah mengemban kepentingan masyarakat Kabupaten Malang.

Peci yang masih akrab digunakan masyarakat kecil atau di berbagai pondok pesantren, membuat Rendra selalu merasa dekat dengan mereka.

"Peci juga simbol bagi saya dalam keberpihakan kepada masyarakat kecil. Melaluinya (peci, red) saya merasa dekat dan bisa diterima tanpa beban status saat bertugas melayani masyarakat," ujar Bung Rendra yang telah sejak tahun 1985 memakai Peci.

Peci sebagai identitas perlawanan dan perjuangan, walau dalam konteks berbeda, juga telah membuat hubungan Bung Rendra mesra dengan berbagai pemuka agama yang ada di Kabupaten Malang.

Terutama dengan para kyai dan ulama Islam yang secara kuantitas mendominasi masyarakat Kabupaten Malang.

"Ada semacam bahasa yang tidak verbal saat saya berhubungan dengan para pemuka agama dengan kesukaan saya memakai Peci. Kenyamanan, kesetaraan dan penghormatan. Ini tidak hanya di Kabupaten Malang saja tetapi juga di berbagai daerah di Jawa Timur yang saya singgahi," ujar alumnus SMPK Santo Thomas 2 Pamekasan ini.

Mungkin, apa yang dirasakan Bung Rendra, sekilas mirip dengan percakapan Bung Karno dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah, Rais Aam Nahdlatul Ulama yang juga anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) tahun 1959.

Bung Karno menyampaikan ketidaknyamanannya dengan segala pakaian dinas kebesarannya sebagai Presiden.

"Seandainya saya adalah Idham Chalid yang ketua Partai NU atau Suwiryo, Ketua PNI, tentu saya cukup pakai kemeja dan berdasi, atau paling banter pakai jas. Tapi soal Peci hitam ini, tidak akan saya tinggalkan," ucap Bung Karno.

"Memang betul, saudara harus mempertahankan identitas itu. Dengan peci hitam itu, saudara tampak lebih gagah seperti para mubaligh NU," jawab Kiai Wahab.

"Peci menjadi medium mempersatukan tanpa perlu risih dengan perbedaan yang ada. Ini juga yang diharapkan para founding father bangsa," pungkas Bung Rendra.

End of content

No more pages to load