JATIMTIMES - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti membocorkan bahwa penyusunan soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 tidak dibuat asal-asalan. Ada strategi khusus yang disusun dengan mempertimbangkan sisi psikologis peserta ujian.
Mu’ti mengatakan, soal-soal dalam TKA umumnya dirancang bertahap, dimulai dari tingkat kesulitan yang lebih ringan. Menurutnya, soal pertama sengaja dibuat lebih mudah agar siswa bisa membangun rasa percaya diri sejak awal.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Kamis Legi 29 Januari 2026: Hari Baik untuk Bekerja
"Kalau soal pertama langsung dibuat susah, bisa-bisa waktunya habis hanya di soal itu," ujarnya, dikutip Antara, Kamis (29/1/2026).
Mu’ti menjelaskan, sebagian besar peserta ujian memiliki pola mengerjakan soal secara berurutan, dari atas ke bawah atau dari kiri ke kanan. Kebiasaan ini, meski sering tidak disadari, sangat memengaruhi cara siswa mengatur waktu saat ujian.
"Jarang kita bekerja dari bawah ke atas. Murid-murid kita juga dibiasakan mengerjakan soal dari kiri ke kanan," katanya.
Karena itulah, penyusun soal juga memikirkan bagaimana peserta akan bereaksi ketika menghadapi soal pertama hingga seterusnya.
Lebih jauh, Mu’ti menekankan bahwa TKA bukan hanya soal mengukur kemampuan akademik siswa. Tes ini juga menjadi sarana untuk menilai kesiapan mental dan karakter peserta.
Siswa diharapkan mampu membaca tingkat kesulitan soal, memahami situasi, lalu menyusun strategi pengerjaan secara mandiri.
"Ini bukan semata-mata soal akademik. Ada aspek karakter di situ," tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Mu’ti turut menyinggung hasil survei Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyebut sekolah masih menjadi salah satu lingkungan yang rentan praktik ketidakjujuran.
Baca Juga : Phonska Plus Janjikan Sapu Bersih Laga di Kandang
Salah satu contohnya adalah budaya menyontek saat ujian. "Kalau sudah terbiasa menyontek, berarti mentalnya belum siap," ujarnya.
Menurut Mu’ti, kebiasaan tersebut menunjukkan siswa belum benar-benar siap menghadapi ujian secara jujur dan mandiri.
Mu’ti menilai, sikap jujur justru akan membuat siswa lebih tenang dan nyaman ketika mengerjakan ujian. Dengan kejujuran, siswa tidak perlu terbebani mencari jalan pintas.
"Kalau jujur, dia gembira. Enggak usah nyontek. Apa pun hasilnya, itulah yang terbaik, dan masih ada waktu untuk memperbaiki," pungkas Mu'ti.
