MALANGTIMES – Pengetahuan sains tidak mutlak didapat dari bangku sekolah atau kuliah. Sambil berwisata pun, pengetahuan ilmu pasti ini bisa didapatkan. Misalnya ketika berwisata di Taman Belajar dan Rekreasi Jawa Timur Park 1.
Di destinasi wisata dengan ikon Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong ini, wisatawan dapat belajar sains di Science Center.
Baca Juga : Curhat Pelaku Pariwisata ke Menteri Pariwisata Wishnutama, Seperti Apa ?
Apa yang bisa dipelajari? Percobaan kimia, fisika, maupun biologi secara langsung. Dengan didampingi petugas, pengunjung bisa melakukan percobaan layaknya di laboratorium.
Misalnya wisatawan ingin mengetahui suatu larutan bersifat asam atau basa. Mereka dapat melakukan percobaan dengan melarutkan natrium hidroksida ke dalam indikator phenolphthalein (PP).
Maka seketika cairan indikator PP yang awalnya berwarna bening berubah menjadi merah muda, sebagai tanda bahwa cairan natrium hidroksida bersifat asam.
Selain percobaan kimia, juga terdapat beberapa percobaan fisika. Misalnya bola yang memiliki teknologi plasma yang mampu mengumpukan sinar ketika ada tangan manusia yang menyentuhnya.
Persis seperti bola yang biasanya digunakan oleh para penyihir di film anak-anak. Sehingga ketika anak-anak mencobanya, mereka pun antusias untuk mempelajari teorinya.
Percobaan fisika seperti mengetahui berat tubuh dengan cara mengangkat tubuh kita sendiri menggunakan katrol juga bisa dilakukan di sini.
Baca Juga : Penutupan Tempat Wisata dan Hiburan di Kota Batu Diperpanjang sampai 21 April
Beberapa pengunjung pun satu persatu penasaran untuk mengukur seberapa kuat kemampuannya untuk mengangkat berat tubuhnya sendiri. Ada beberapa yang berhasil, ada pula yang menyerah di tengah jalan.
Faisal Rinaldi Pey, staf Marketing Jawa Timur Park Group mengatakan, wahana Science Center memberikan ruang para wisatawan terlibat aktif mempelajari sains secara langsung. Caranya melalui percobaan laoratorium.
“Wisatawan banyak yang antusias karena mereka diberi kesempatan sendiri untuk melakukan percobaan yang biasanya hanya dipelajari di sekolah,” jelas Faisal. (*)
