Malangtimes

Terkendala Akses, Kerusakan akibat Bencana Malang Selatan Baru Dapat Diinventarisasi

Oct 30, 2022 07:55
Sisa material yang terbawa banjir di Sitiarjo. (Foto: Ilustrasi/Riski Wijaya/MalangTIMES).
Sisa material yang terbawa banjir di Sitiarjo. (Foto: Ilustrasi/Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES - Sejumlah kerusakan akibat bencana banjir dan longsor pada Senin (17/10/2022) lalu baru dapat diidentifikasi Pemkab Malang. Salah satunya di Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, yang menjadi salah satu daerah terparah. 

Hingga saat ini, di Desa Sitiarjo ada 428 KK yang terdampak bencana banjir. Sebanyak 12 rumah di antaranya mengalami kerusakan. Bahkan setidaknya ada 6 keluarga yang sempat mengungsi ke balai desa karena rumahnya tak bisa ditinggali. 

Selain rumah, kerusakan infrakstruktur yang terjadi di Pujiharjo adalah jembatan. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, setidaknya ada 7 jembatan yang mengalami kerusakan akibat banjir. Bahkan salah satunya ambles hingga tak dapat diakses.

Selain jembatan, kerusakan yang baru teridentifikasi yakni dam irigasi Kali Tundo yang ambrol. Pelengsengan dan beberapa bronjong di sungai tersebut juga hanyut kena  arus banjir bandang. Selain itu, dua tiang listrik dan satu tiang penerangan jalan umum (PJU) roboh. 

Selain di Pujiharjo, kerusakan yang baru bisa dilakukan asesmen yakni di Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Kerusakan di Sidoasri baru bisa diinventarisasi lantaran akses menuju ke sana yang cukup sulit. Bahkan BPBD kesulitan untuk menurunkan alat berat di Sidoasri karena sebagian jalannya ambrol karena longsor akibat tergerus banjir. 

"Iya kan, kemarin ada (daerah) yang belum sempat terakses. Seperti Sidoasri, atau Kedungbanteng. Ini sudah mulai (berangsur) dapat diakses sehingga mulai diinventarisasi kerusakan dan dampaknya," ujar Kepala BPBD Kabupaten Malang Nur Fuad Fauzi.

Selain itu, beberapa kerusakan yang masih menjadi catatan BPBD yakni badan jalan di Desa Kedungbanteng yang terkikis aliran air. Kemudian, dam Sungai Panguluran yang rusak total dan tidak berfungsi. Sungai Panguluran merupakan sungai yang meluap hingga air menggenangi ratusan rumah di Sitiarjo saat banjir lalu. 

"Proses pendataan dan penanganan masih terus berlangsung sampai saat ini," imbuh Fuad. 

Sementara itu, penghitungan kerugian secara menyeluruh terhadap dampak bencana bisa dilakukan setidaknya tiga bulan pasca-bencana terjadi. Namun inventarisasi kerusakan sudah dilakukan sejak bencana terjadi Senin (17/10/2022) lalu.

"Karena memang kita tidak bisa menunggu. Secara simultan, jadi sudah kami lakukan inventarisasi dan pendataan. Jumlahnya jelas berkembang," pungkas Fuad. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru