"Hidup itu adalah kasih karunia, sebagai wujud syukur maka saya harus berbagi, semakin banyak memberi, semakin banyak menerima".
UNTUK meraih kesuksesan bukan hal yang mudah. Harus dilalui dengan semangat perjuangan yang tinggi, ikhlas dan harus sabar.
Baca Juga : Di Jalanan, Senyum-senyum Merekah Menerima Sembako Bantuan UIN Malang
Begitu selogan dan prinsip hidup, Erik Armando Tala, untuk berjuang meraih kesuksesan yang telah diraihnya. Dengan niat yang tulus dan semangat yang tinggi, ia sudah merasakan perjalanan hidup yang dijalaninya.
Namun, aneka rintangan, tak membuat langkah Erik terhenti begitu saja. Dia terus berjuang berjuang meraih kesuksesan yang menjadi cita-citanya sejak kecil.
Menginjak masa remaja, pria kelahiran 5 Januari 1977 itu, harus merasakan getir pahitnya hidup. Perjuangan itu sudah dijalaninya sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Erik mengisahkan, sejak ia masih duduk di bangku SMP, sudah diterpa 'musibah'. Yakni, sang ibu, Yeti Artiningsih, menderita sakit empedu.
Erik harus memutar otak bagaimana sosok yang mengandungnya sembilan bulan bisa sembuh dari penyakitnya. Saat itu, bagi keluarga Erik, biaya untuk berobat sudah tergolong mahal.
Sementara, di sisi lain, secara otomatis, Erik harus banting tulang mencari biaya sekolah sendiri. Karena sang ibu, tak lagi bisa membiayai sekolahnya.
Pada akhirnya, Erik harus memutuskan bagaimana biaya sekolah tidak membebani orang tuanya. Ia harus mencari biaya sendiri.
Mislanya, setiap pukul empat pagi, Erik harus mengayuh sepeda onthel, sejauh tiga kilometer, belanja sayuran di pasar, untuk memenuhi kebutuhan Kantin yang dikelola saudaranya.
"Setiap pagi, saya mancal tiga kilo, bantu bude belanja sayur, untuk kebutuhan Kantin," kenang Erik ditemui MALANGTIMES sepekan lalu.
Perjuangan Erik tidak berhenti sampai disitu. Setelah lulus SMP, pria yang dikenal sosok yang ramah itu, tetap bekerja keras untuk dirinya dan keluarganya. Biaya sekolah harus dipenuhinya.
Lulus SMP, Erik muda berhasil melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Teknik Mesin (STM) Nasional, Kota Malang. Sejak resmi menjadi siswa di sekolah itu, Erik memutuskan untuk tidur dan bekerja di lingkungan sekolah itu.
Ruang kecil, dekat Musala sekolah, ia manfaatkan sebagai kamar untuk istirahat. Setiap malam, ia rutin menyapu enam ruang kelas, dan dua ruang laboratorium.
Dari pekerjaan 'nyapu' di sekolah itu, Erik mendapat upah Rp 21 ribu perbulan. "Dari nyapu, saya dapat upah Rp 21 ribu. Uang itu, saya gunakan untuk bayar SPP dan membeli buku sekolah," kata suami dari Yuke Yulia Susanti itu, dengan mata berkaca-kaca.
Berkat perjuangan gigihnya saat masih muda, kini Erik sudah dapat menikmati buah perjuangannya. Kini, melalui PT Antigo Agung Pamenang, yang dinahkodainya, Erik berhasil menunjukkan aneka prestasi.
Baca Juga : Lawan Covid-19, Pewarta Kodew Malang Bagikan Vitamin ke Tukang Becak
Salah satu karyanya adalah, karya nyata yang menjadi salah satu ikon Kota Malang. Yakni pembangunan Alun-Alun Kota Malang, yang digarapnya.
Berkat sentuhannya kecerdasannya, Alun-Alun Kota Malang kini terlihat lebih hijau, dapat menjadi ruang publik yang nyaman dan menyenangkan. Bahkan sudah menjadi tempat selfie bagi kaum muda yang berkunjung ke Alun-Alun Merdeka itu.
Salah satu kesuksesan yang diraihnya itu, tidak kemudian membuat putra dari pendeta Yulius Oktavianus Tala itu sombong dan silau. Erik tetap hidup sederhana dan terus fokus bagaimana bisa menghasilkan karya yang spektakuler di Kota Malang.
Selain itu, Erik kerap terlibat dalam banyak kegiatan sosial yang diselenggarakan Persekutuan Pelajar Indonesia. Mulai dari penggalangan dana untuk membantu warga kurang mampu dan sejenisnya.
Erik berpandangan, dengan mengutamakan sikap berbagi, hidup akan lebih terang, dan bermanfaat untuk banyak orang. Bahkan juga bermanfaat untuk keluarga, agama dan negara.
"Hidup itu adalah kasih karunia, sebagai wujud syukur maka saya harus berbagi, semakin banyak memberi, semakin banyak menerima," terang pria yang pernah menjadi Manajer Metro FC ini.
Ditelisik lebih dalam, keberhasilan Erik ternyata tak lepas dari sosok sang ayah, Yulius Oktavianus Tala. Sosok Yulius Oktavianus Tala, telah banyak mengilhami dalam kehidupan Erik.
"Ayah saya yang selalu memberikan motivasi kepada saya, bagaimana menjalani hidup selalu dengan optimis," katanya.
Sosok Sosok Yulius Oktavianus Tala, hingga saat ini, rela mengabdi menjadi pendeta, karena ingin hidupnya bermanfaat bagi sesama umat manusia. "Saya hanya berharap dan terus berdoa, semoga kehidupannya bisa menerangi kehidupan orang lain."
Selain sang ayah, yang menjadi inspirator bagi Erik adalah salah satu pengusaha sukses, yang ada di Malang. Sosok Iwan Kurniawan dinilai telah berjasa besar terhadap keberhasilan yang diraih Erik. Baik melalui advice hingga membantu Erik membuka 'pintu usaha'.
"Pak Iwan sudah banyak membantu dan mendidik saya menjadi pengusaha seperti sekarang ini," aku Erik. (*)
