Jadi Cagar Budaya, Kamar Sakral Bupati Malang yang Tertutup, Bakal Dibuka untuk Umum

Jan 25, 2021 19:13
Kondisi dalem Pringgitan Pendapa Agung Kabupaten Malang saat Crew JatimTIMES.com dan sejarawan serta jajaran Pejabat Pemkab Malang berkunjung, Sabtu (23/1/2021). (Foto : Yogi Iqbal/JatimTIMES)
Kondisi dalem Pringgitan Pendapa Agung Kabupaten Malang saat Crew JatimTIMES.com dan sejarawan serta jajaran Pejabat Pemkab Malang berkunjung, Sabtu (23/1/2021). (Foto : Yogi Iqbal/JatimTIMES)

MALANGTIMES - Takjub. Kata itulah yang terlintas saat rombongan Kru JatimTIMES.com dan Sejarawan Kota Malang Dwi Cahyono, meninjau seluruh sudut bangunan yang ada di Pringgitan Pendopo Agung Kabupaten Malang, bersama pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, Sabtu (23/1/2021).

Banyak bangunan bersejarah di Pringgitan Pendopo Agung Kabupaten Malang ini masih orisinal. ”Kalau kita bandingkan (lihat, Red) dengan apa yang ada di bagian-bagian dari rumah ini, bagaimanapun juga ini rumah Jawa. Karena yang (pertama, red) tinggal di sini adalah orang Jawa, Bupati di Jawa. Oleh karena itu menyerupai juga pada rumah-rumah Jawa yang lainnya,” jelas Sejarawan Kota Malang Dwi Cahyono.

Baca Juga : Pringgitan Pendapa Agung Bakal Dijadikan Cagar Budaya, Pemkab Malang Mulai Lakukan Kajian

Meski sama dengan bangunan Jawa di masa lampau, namun Pringgitan Pendopo Agung Kabupaten Malang, bisa dikatakan yang paling bersejarah di Kabupaten Malang. Sebab selain menjadi tempat tinggal Bupati Malang, sekaligus pemerintahan pusat di Malang pada masanya. 

”Pada rumah-rumah Jawa itu, di sejumlah kamar pasti ada kamar yang lebih istimewa dari pada kamar yang lain. (Umumnya, red) terdiri atas 3 sentong (kamar), yang pertama adalah sentong tengah,” imbuhnya.

Sedangkan yang membedakan dengan bangunan Jawa pada umumnya, Pringgitan Pendopo Agung Kabupaten Malang, khususnya di bagian ruang kamar tidak menggunakan istilah sentong kanan, tengah, dan kiri. Melainkan nampak seperti ruang kamar yang terletak di sayap kanan dan sayap kiri.

”Tapi untuk bangunan ini (Pringgitan Kabupaten Malang, red) tidak model itu, sentong kanan, sentong kiri, dan sentong tengah. Tetapi kamarnya terdiri atas 2 sayap, sayap barat dan sayap timur,” terangnya.

Dari beberapa kamar yang ada di dalem -istilah bagian dalam dari rumah atau Pringgitan- , dijelaskan Dwi, yang paling istimewa adalah kamar yang pernah ditempati oleh Bupati Malang.

”Salah satu yang penting itu adalah kamar yang pernah menjadi kamar dari cikal bakal. Jadi pertama dalam hal ini adalah awal mula dari penguasa Kabupaten Malang, yaitu Bupati yang pertama menempati inilah yang menjadi tempat tinggal atau kamar khusus bagi Bupati (Malang) yang pertama,” ungkapnya.

Dijelaskan Dwi, Bupati pertama di Kabupaten Malang adalah Raden Tumenggung Notodiningrat I, yang menjabat pada tahun 1819 sampai dengan 1839. ”Nah Raden Tumenggung Notodiningrat I itulah, yang tinggal di kamar ini,” sembari menunjuk kamar yang ada didalam Pringgitan Kabupaten Malang.

Sedangkan yang menguatkan analisa tersebut, dijelaskan Dwi, dibuktikan dengan adanya desain kamar yang dikhususkan bagi orang-orang penting di masa lampau.

”Termasuk yang masih memperlihatkan jejak (peninggalan) lama itu, adalah dipannya yang dilengkapi dengan bayang dan yang disertai dengan kelambu, kemudian ada beberapa mabel, toilet, dan seterusnya yang masih lestari sampai saat ini,” imbuhnya.

Dwi menambahkan, yang paling menarik dari ruang kamar tersebut adalah tersedianya ruang panyepen atau tempat khusus yang dijadikan Bupati pada masanya untuk menyepi alias menyendiri atau dapat diistilahkan bertapa.

”Dan satu hal yang menarik perhatian kita, biasanya di tempat tinggal dari tempat tinggal utama itu ada 1 tempat yang orang Jawa menyebutnya dengan panyepen, tempat untuk menyepi,” tuturnya.

Dimungkinkan, ruang panyepen tersebut berada di sebelah timur kamar, yang kebetulan sampai saat ini masih menjadi ruang tertutup untuk umum. ”Ada kemungkinan apa yang ada di sebelah timur dan dalam kondisi tertutup inilah, yang dalam masyarakat Jawa disebut dengan panyepen. Yaitu tempat untuk melakukan kegiatan ritual,” tambahnya.

Baca Juga : Milenial Karangploso Belajar Membatik di Sanggar Lintang

Tak jarang, masih menurut Dwi, adanya ruangan semacam itu di bangunan Jawa yang masih bertahan sampai dengan saat ini, membuat tempat tersebut terkesan menjadi sakral. ”Oleh karena itu mengapa jadi sakral, karena konon difungsikan sebagai panyepen. Jadi ruang inilah yang sangat historik, ya karena menjadi tempat tinggal yang saya sebut sebagai cikal bakal dari Bupati-Bupati Malang, ini yang sangat bersejarah,” ulasnya.

Istimewanya lagi, lokasi yang dulu disakralkan dan tidak dibuka untuk sembarangan orang ini, tekstur arsitekturnya dan perabotannya masih sangat orisinal. ”Beruntung sampai saat ini masih cukup lestari, mulai dari pintunya, bahkan dilengkapi juga dengan pintu tambahan. Jadi pintunya itu selalu pada masa lampau pintu dobel, seperti ini ada pintu kaca yang didepan kemudian ada pintu yang dibelakang, jadi istilahnya pintu dobel,” jelasnya.

Tidak berhenti disitu saja, pada bagian grendel atau pengunci ruang kamar, juga masih menggunakan grendel kuno. ”Grendelnya masih grendel asli, kemudian kalau kita lihat di sisi lain, engselnya, kemudian paku-pakunya dan sebagainya ini merupakan paku (jenis, red) lama,” sambungnya.

Kedepan, jika apa yang sudah dibahas dalam pemberitaan sebelumnya, yakni soal wacana Pringgitan Pendopo Agung Kabupaten Malang dijadikan cagar budaya terealisasi. Bisa dijadikan sebagai tempat bersejarah yang ada di Kabupaten Malang.

”Oleh karena itu beruntung Malang masih memiliki jejak masa lampau yang cukup lestari. Sehingga kelak ini bisa betul-betul menjadi pertanda mengenai jejak mula. Saya menyebut ini merupakan jejak mula Kabupaten Malang, karena memang awal mulanya dari sini,” tukasnya.

Ditemui secara bersamaan, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang Wahyu Hidayat, membenarkan pernyataan sejarawan yang menyebut jika ada ruang di kamar Pringgitan Kabupaten Malang yang tidak pernah dibuka.

”Memang di Pringgitan atau di dalem ini ada satu ruang tempat peristirahatan yang selama ini tidak pernah digunakan untuk beristirahat (sebagian Bupati, Red). Seperti kamar ini juga tidak pernah dibuka dan saya juga tidak tahu di dalamnya ada seperti apa,” jelasnya.

Bahkan, lanjut Wahyu, beberapa ruang, khususnya kamar yang tidak pernah dibuka untuk umum tersebut, hingga saat ini masih disakralkan. ”Secara turun-temurun, ini (Pringgitan Pendopo Agung Kabupaten Malang) memang disakralkan. Jadi kami menghormati (kepercayaan, red) turun-temurun tersebut,” paparnya.

Namun, kesakralan Pringgitan Pendopo Agung Kabupaten Malang yang dulu terlarang untuk umum itu, bakal dibuka untuk publik. Sebab, seperti yang sudah diberitakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang saat ini sedang melakukan kajian untuk mempersiapkan pencanangan cagar budaya.

Topik
wisata kabupaten malangcagar budaya pendopowisata sejarah kabupaten malangSejarawan Kota Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru