MALANGTIMES - Gunung Kawi disucikan karena hasil 'rompalan' dari Gunung Meru. Hasil ini yang membuat Gunung Kawi dikonsepsikan sebagai gunung suci.
Arkelog Dwi Cahyono menuturkan, bukan hanya Gunung Kawi saja yang dikonsepsikan sebagai gunung suci, namun anak dari Gunung Kawi juga disucikan.
Gunung Kawi memiliki beberapa bukit, yang juga disebut anak gunung, misalnya Panderman, Gunung Katu. "Anak-anak gunung ini juga disucikan," kata Dwi kepada MALANGTIMES.
Bangunan-bangunan suci yang terdapat di lereng atau lembah Gunung Kawi diorientasikan ke puncak Kawi. Gunung Kawi menjadi orientasi atau pengkiblatan, menurut Dwi, sudah terjadi sejak masa Kerajaan Singosari atau Majapahit.
Dwi mencontohkan orientasi yang berbeda. Pada awal abad ke-8, Candi Badut berada di lembah Gunung Kawi, tapi orientasinya tidak ke Kawi, namun ke Gunung Mahameru.
Baca Juga : Dosen UM yang Sempat Positif Covid-19, Sudah Diperbolehkan Meninggalkan Rumah Sakit
"Candi Badut menghadapnya ke barat, tapi orientasinya ke timur," ujar Dwi menegaskan perbedaan bangunan candi yang ada sebelum era Singosari dan Majapahit.
Dwi menjelaskan, orientasi bukan berdasarkan arah hadap candi. Biasanya orientasi berlawanan arah dengan hadap candi.
Bangunan candi yang berada di lembah Gunung Kawi, orientasinya ke puncak Kawi. Jadi, candi yang berada di timur Gunung Kawi, pengkiblatannya ke barat gunung tersebut, yaitu puncak Kawi.
Temuan bangunan bersejarah di Desa Jatiguwi Lor, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, letaknya berada di selatan. Sementara, posisi puncak Gunung Kawi berada di barat utara.
Posisinya yang agak "serong" ke utara, sehingga orientasinya ke arah puncak Gunung Kawi. "Pengkiblatannya diarahkan ke puncak Kawi," tambahnya.
Temuan reruntuhan candi di Gunung Katu, Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu, pengkiblatannya jelas ke arah puncak dari anak Gunung Kawi tersebut. Yang menarik di Gunung Katu, kata Dwi, candi-candi bukan hanya ditempatkan di lembah atau lereng, tapi di puncaknya juga terdapat candi. "Di puncak Gunung Katu "di-encepi" candi," ucapnya.
Menurut dosen sejarah Universitas Negeri Malang (UM) ini, candi yang berada di puncak Gunung Katu ini diidentifikasi sebagai candi yang utama, yaitu tempat pendarmaan Ken Angrok. "Saya agak memberanikan diri untuk melemparkan teori ini," kata Dwi. (*)
