Ikke Lulusan Terbaik Program Profesi Dokter Unisma, Awalnya Malah Tak Bercita-cita Jadi Dokter

Jan 15, 2021 17:51
dr. Ikke Ummi Mahmudatul Atiqoh, lulusan terbaik Program Pendidikan Dokter Unisma (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
dr. Ikke Ummi Mahmudatul Atiqoh, lulusan terbaik Program Pendidikan Dokter Unisma (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sebanyak 1.401 mahasiswa Universitas Islam Malang (Unisma) akan menjalani wisuda daring Minggu (15/1/2021). Dari jumlah tersebut, 13 orang mahasiswa berasal dari program doktor, magister, profesi dan sarjana menjadi lulusan terbaik semester genap tahun akademik 2019/2020.

Dari 13 orang mahasiswa terbaik tersebut, salah satunya adalah dr. Ikke Ummi Mahmudatul Atiqoh. Ia menjadi lulusan terbaik dari Program Pendidikan Profesi Dokter. Ikke meraih nilai Indeks Prestasi Komulatif (IPK) mengungguli 34 lulusan pada Program Pendidikan Profesi Dokter. IPK yang diraih Ikke yakni 3,70.

Baca Juga : Wujudkan Merdeka Belajar, Kampus Brawijaya Teken MoA dengan 34 Dekan FTP Se-Indonesia

Proses Ikke mencapai kelulusan hingga menjadi lulusan terbaik, tidak dilalui dengan mulus. Wanita asal Probolinggo ini, harus berjuang keras untuk bisa meraih gelar dokter.

Semua diawali dari Ikke mulai berkuliah di Unisma pada 2013. Saat itu, ia awalnya malah tak bercita-cita menjadi seorang dokter. Ia justru saat itu ingin menjadi seorang apoteker. Namun dorongan orangtuanya yang menginginkan Ikke menjadi seorang dokter, tak ditolak oleh Ikke dan menuruti kemauan orangtuanya.

"Setelah itu kemudian masuk, pada semester awal saya kayak nggak serius. Bahkan nilai saya hancur," jelasnya.

Namun tak lama, sebuah peristiwa yang memilukan baginya terjadi. Sang ayah kemudian meninggal dunia karena menderita sakit kanker. Hal itu begitu membuat Ikke terpukul. Dari situ, ia kemudian menjadi bersemangat untuk membanggakan orangtuanya dengan menjadi seorang dokter.

Namun, perjalanan Ikke menempuh pendidikan masih belum mulus. Sebab, sejak ayahnya meninggal, perekonomian keluarganya terpuruk. Mahalnya biaya dalam pendidikannya turut menjadi problem bagi dirinya dan keluarganya. Meskipun begitu, berkat usahanya dan dukungan dari pihak keluarga, ia pun kemudian mampu mengatasi masalah tersebut.

"Tapi untungnya keluarga saya lain juga membantu. Saya pun akhirnya bersemangat untuk juga berusaha meringankan beban biaya dengan berbagai macam cara. Mulai mengajar anak-anak, berjualan buku, pulsa dan lainnya," bebernya.

Baca Juga : FITK UIN Malang Telurkan Intelektual Muda Bergelar Doktor ke-390

Putri dari pasangan Muhammad Adroi dan Siti Nafisah yang berprofesi sebagai petani ini, bahkan dalam satu bulan benar-benar rela menahan keinginan-keinginan lainnya diluar kebutuhan dalam pendidikan. Uang yang dikirimkan dari ibunya,  dalam sebulan juga sangatlah kecil, hanya sekitar Rp 400 ribu sampai Rp 600 ribu.

"Ya sehingga saya akhirnya bagaimana caranya dalam sebulan Rp 100 bisa buat makan. Untuk kebutuhan lain saya alat dari uang hasil saya jualan maupun mengajar," jelasnya.

Saat ini, ia pun begitu bersyukur menjadi lulusan terbaik. Ia sendiri juga tak menyangka bisa menjadi lulusan terbaik. Dalam keseharian, ia turut mengaku juga bukanlah tipikal mahasiswa yang banyak bicara. Perkuliahan ia jalani dengan sewajarnya mahasiswa lainnya.

"Kaget juga jadi mahasiswa terbaik profesi dokter. Soalnya bukan orang yang expert speakup. Tapi yang jelas saya akan lebih mengembangkan ilmu dan ilmu agama yang kami dapat disini. Doakan semoga bisa menjadi dokter spesialis," pungkasnya.

Topik
Unismaunisma malangberita unisma

Berita Lainnya

Berita

Terbaru