Sidang ujian disertasi terbuka Suriadi yang digelar secara online di salah satu ruangan di Gedung Megawati Soekarnoputri, Rabu (13/1/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Sidang ujian disertasi terbuka Suriadi yang digelar secara online di salah satu ruangan di Gedung Megawati Soekarnoputri, Rabu (13/1/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Sidang disertasi akhir salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Program Doktor Pendidikan Agama Islam Berbasis Studi Interdispliner menjadikan UIN Malang berhasil menghasilkan Doktor yang ke-390. 

Sosok intelektual muda yang merupakan hasil tempaan dari FITK UIN Malang dan berhasil meraih gelar doktor dengan judul disertasi Pendidikan Karakter berbasis Budaya dalam Keluarga Melayu Muslim Sambas yakni Suriadi. 

Baca Juga : Jadi Guru Besar Termuda UIN Malang, Agung Sedayu Awalnya Tak Bercita-cita Jadi Profesor

 

Dalam penyampaian hasil disertasinya, Suriadi mengatakan, bahwa dalam pendidikan karakter berbasis budaya dalam keluarga melayu muslim sambas terdapat tiga hal yang harus diperhatikan yakni unjuk rasa, unjuk lafal dan unjuk lagu. 

"Ketiganya harus terelaborasi. Unjuk rasa bisa mencontohkan kepada anak seseorang, seperti kasih sayang. Kalau unjuk lagu kita mencoba mencontohkan memberikan keteladanan di anggota keluarga yang ada di rumah kita. Unjuk lafal terkait dengan bentuk ucapan," jelasnya dalam sidang disertasi yang digelar secara online, Rabu (13/1/2021). 

Lanjut Suriadi, mengacu pada beberapa literasi yang menjadi rujukan dirinya dalam pengerjaan disertasi, bahwa fungsi pendidikan karakter terhadap masyarakat terbagi menjadi tiga, yakni pengajaran, keteladanan dan pembiasaan. 

"Fungsi pendidikan pengajaran dengan pengajaran, keteladanan dan pembiasaan. Ketiga dalam aspek pendidikan karakter masyarakat muslim Sambas, tidak hanya keteladanan, tapi juga pembiasaan dan pengajaran. Konsep pendidikan karakter berdasarkan teori yang kami baca harus dibangun dari pendidikan dasar," katanya. 

Selain itu, terdapat satu buku yang menjadi acuan utama Suriadi dalam menyelesaikan disertasi ini yakni Masyarakat Tanpa Rangking tulisan Prof. Dr. Imam Suprayogo. 

"Dalam bukunya Prof Imam, masyarakat tanpa rangking, pendidikan karakter harus dibangun dari spiritual, dari qolbunnya," katanya. 

Lanjut Suriadi, masyarakat di Sambas sebanyak 85 persen beretnis melayu. Selebihnya diisi oleh etnis Tionghoa, Jawa, Madura dan Batak. Meskipun mendominasi, masyarakat melayu muslim sangat terbuka kepada orang asing maupun kelompok minoritas. 

"Meski banyak melayu muslim, tapi akulturasi terbentuk dengan bagus. Jadi orang Tionghoa atau Jawa yang ke sambas bahasanya berubah menjadi bahasa sambas. Di sana juga terbentuk majelis adat melayu, majelis adat tionghoa setiap etnis punya organisasi," terangnya. 

Sementara itu, Rektor UIN Malang yang juga bertindak sebagai Ketua Dewan Penguji, Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag., mengatakan bahwa pembahasan dari disertasi Suriadi cukup menarik terkait pendidikan karakter berbasis budaya dalam Keluarga Melayu Muslim Sambas. 

Baca Juga : UIN Maliki Malang Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru Dari Fakultas Saintek

 

"Itu menarik. Karena sesungguhnya ini penelitian lapangan yang justru bukan di pendidikan, tapi justru di masyarakat. Pak Suriadi meneliti terkait pendidikan karaker pada masyarakat," katanya. 

Prof. Abdul Hari menuturkan, bahwa hasil disertasi dari Suriadi sangat memuaskan. Hingga juga terdapat rencana untuk dibukukan. "Memang sangat memuaskan. Meskipun ini kasustik dan itu menjadi tidak di generalisir, tapi jadi kasus yang mungkin bisa menyimpan diskusi dengan masyarakat yang lain," jelasnya. 

Lebih lanjut, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si yang bertindak sebagai promotor Suriadi selama memberikan bimbingan merasa Suriadi salah satu mahasiswa yang dapat membuat dirinya menstabilkan emosinya. 

"Dalam hal stabilitas emosi, saya jauh stabil membimbing Suriadi. Karena biasanya membimbing mahasiswa madura saya keluar, malang-an saya keluar. Tapi ini semua berjalan serba positif. Dia sudah punya potensi menghasilkan sebuah karya yang diapresiasi sangat bagus," ungkapnya. 

Lanjut Prof. Syamsul, bahwa sosok Suriadi kedepan bakal menjadi sosok yang matang dalam bermasyarakat. Kata Prof. Syamsul, Suriadi harus terus meneruskan jejak pengembaraan dalan mencari ilmu. 

"Dengan pengembaraan, orang akan menjadi matang yang sudah disebutkan dalam Al-Quran Surat Ali Imron. Keluasan dan kedalaman akan didapat. Saya kira Anda bisa mengembara lebih lama lagi. Menjadi pembelajar seumur hidup," tutupnya.