Keren, Lagu dan Instrumen Berbasis Kampung Asal Malang Jadi Juara Internasional

Dec 25, 2020 13:14
Duo Etnicholic juarai Sopravista International Festivals Italia. (Foto: Istimewa).
Duo Etnicholic juarai Sopravista International Festivals Italia. (Foto: Istimewa).

MALANGTIMES - Kolaborasi epik musisi asal Malang berhasil juarai festival musik internasional. Ya, Duo Etnicholic kolaborasi Redy Eko Prastyo dan Anggar Syaf’iah Gusti menjuarai Sopravista International Festivals di Italia, kategori duet mixed vocal and instrumental.

Duo Etnicholic berhasil menyisihkan 40-an peserta dari berbagai negara di dunia. Lagu 'Lestari' dengan instrument berbasis Kampung (Dawai Cempluk) yang dibawakan keduanya rupanya mampu memikat dewan juri hingga pada 23 Desember 2020 lalu, mereka diumumkan sebagai pemenang melalui akun facebook Sopravista.

Baca Juga : Humidumi Tutup Akhir Tahun 2020 dengan Bingkisan Full Album "Pathless"

Diceritakan Redy, mulanya kedua musisi ini membuat video klip pada 7 November 2020 lalu yang diunggah dalam program channel youtube iRL Gigs. Sebuah channel berisi karya musisi non mainstream dari Malang. Hingga, di akhir November video iRL Gigs diikutkan dalam Sopravista International Festivals secara daring.

Saat mengikutsertakan dalam festival music international, keduanya bahkan tidak begitu memiliki ekspektasi yang tinggi untuk masuk nominasi ataupun terpilih sebagai pemenang.

Namun, tak disangka Duo Etnicholic memenangkan festival sebagai juara 1 DEFREE LAUREATE NOMINASI MIXED VOCAL DAN INSTRUMENT. "Karena rupanya banyak sekali peserta dari berbagai negara di belahan dunia yang ikut dengan ragam nominasi. Kami tidak terlalu punya ekspektasi yang besar awalnya," ungkapnya.

Atas penghargaan tersebut, keduanya berkesempatan mengikuti ajang festival di Italia tahun 2021 mendatang. Ajang ini akan dijadikan sebagai sebagai sarana untum mempromosikan instrumen Dawai Cempluk karya Cak Budi Ayin.

"Ini sekaligus sebagai modal bagi kami untuk mempromosikan Instrument Musik berbasis Kampung yaitu Dawai Cempluk karya Cak Budi Ayin," tambahnya.

Duo Etnicholic sendiri merupakan grup duo formasi terbaru. Sebelumnya, mereka tergabung dalam etnicholic project. Redy, sebagai leader etnicholic yang menginisiasi terbentuknya grup duo ini untuk program IRL Gigs.

Ia mengajak Anggar sebagai salah satu vokalis Etnicholic Project. Saling bertukar pikiran, latihan awal mereka dengan menyusun karya model jam session. Anggar yang juga seorang guru kesenian di SMA BSS Universitas Brawijaya membuat lagu dan lirik yang sekiranya bisa diterima generasi muda.

Menjadi guru seni, Anggar bisa dibilang sangat mult talenta. Selain, menguasai olah vocal, ia juga berbakat dalam seni tari dan menggambar. Perjalanan karirnya bersama Redy telah dimulai sejak 2008 dengan format Artmochestra Digital Etnik.

Redy, yang memainkan instrument yang disebut Dawai Cempluk ini bukanlah tanpa alasan. Tinggal di Kampung Cempluk kawasan Kabupaten Malang, Redy mengusung misi agar alat musik untuk pembuatan instrumentnya itu bisa dikenal luas masyarakat dunia.

"Saya ingin mengangkat entitas instrumen musik berbasis kampung, tak berbasis suku atau etnis tertentu," katanya.

Baca Juga : Milenial Karangploso Belajar Membatik di Sanggar Lintang

Cak Budi, diungkapkan Redy bukanlah seorang perajin instrumen musik. Ia merupakan seorang dengan berbagai pekerjaan, seperti tukang kayu, tukang cat, dan kuli bangunan. Untuk membuat instrument ini, menurutnya, Cak Budi banyak belajar dengan melihat produksi instrumen dawai di Youtube.

"Jadi otodidak, dengan peralatan yang sederhana. Pakai badik, gergaji, palu, alat cokel tidak ada peralatan modern, semua hand made, manual," paparnya.

Kini, instrumen Dawai Cempluk buatan Cak Bhdi tersebut sudah mencapai 30 karya dengan berbagai model yang berbeda. Rencananya, istrumen dawai tersebut akan turut memeriahkan Pasar Seni Dewan Kesenian Malang pada 28 Desemer 2020 sampai 1 Januari 2021 mendatang.

Sebagai music creator juga music composer Redy terbilang cukup jeli melihat potensi warga kampungnya. Ia mempunyai misi, dalam setiap aksi panggungnya atau pembuatan karya, instrument Dawai Cempluk akan selalu dimainkan. Hal itu dianggapnya sebagai sebuah entitas atau aset potensi kampung berbasis kreativitas.

"Saya punya misi, bagaimana instrument ini menjadi sebuah entitas atau aset dari potensi kampung yang berbasis kreatif. Salah satunya dangan mainkan dawai-dawai Cempluk ini di setiap karya saya. Saya malah enggan untuk memainkan instrument tradisi lain," pungkasnya.

Topik
Duo Etnicholicmusisi asal malangSopravista International Festivals

Berita Lainnya

Berita

Terbaru