Kabid Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (KB) Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Sri Umiasih. (Hendra Saputra)
Kabid Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (KB) Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Sri Umiasih. (Hendra Saputra)

MALANGTIMES - Angka kehamilan di Kota Malang tidak mengalami peningkatan yang drastis. Hal itu karena juga dipengaruhi program keluarga berencana yang terus digalakkan di masa pandemi ini.

Padahal, masa pandemi covid-19 membuat sejumlah masyarakat banyak melakukan aktivitas di rumah. Hal itu juga memicu ibu rumah tangga hamil. Namun, di situ peran Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang  sangat dibutuhkan untuk menyosialisasikan program KB agar warga bisa lebih menjaga produktivitasnya.

Baca Juga : Gelontorkan Rp 200 Juta, Pemkot Batu Muluskan Akses Jalan Brau-Paralayang

Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (KB) Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Sri Umiasih mengatakan bahwa saat ini untuk angka kehamilan tidak terlalu drastis perubahannya. "Tidak terlalu ada perubahan drastis untuk tingkat kehamilan. Kalau Kota Malang tidak beda jauh dari yang sebelum masa pandemi," kata Umi (sapaan akrab Sri Umiasih).

Umi menjelaskan bahwa masyarakat kalangan menengah ke bawah memang sangat rentan terhadap kehamilan di masa pandemi. Karena itu, sosialisasi hingga tingkat rukun tetangga (RT) harus terus dilakukan agar masyarakat juga bisa mendapatkan layanan KB dan berimbas pada kesejahteraan masyarakat.

"Karena ada beberapa KB yang kayak implan gitu gratis. Jadi, masyarakat bisa memenuhi KB-nya. Terus yang menengah ke bawah itu jika mengeluhkan KB-nya gimana, masalah biayanya. Semua terjawab saat penguatan pelaksana KB. Malau pakai pil seperti ini, suntik seperti ini, pakai kondom itu seperti ini. Jadi, terjawab semua dan nanti itu yang akan disampaikan kepada masyarakat," ungkap Umi.

Sebelumnya, Umi menuturkan bahwa untuk mencegah angka kehamilan di masa pandemi, Dinsos-P3AP2KB memaksimalkan program KB agar angka kehamilan tidak melonjak tinggi. "Salah satunya pemakaian KB, istilahnya masa pandemi, kalau dikhawatirkan, itu harus ada pencegahannya. Salah satunya pil dipakai jangka pendek, tidak berani ke puskesmas juga tapi memang kan dijadwal setiap harinya cuma beberapa layanan saja tidak seperti dulu," jelasnya.