Sanusi (tengah, kemeja putih) saat mengelar diskusi bersama kaum milenial disela agenda kampanye yang dilangsungkan di Kecamatan Dau (Foto : Istimewa)
Sanusi (tengah, kemeja putih) saat mengelar diskusi bersama kaum milenial disela agenda kampanye yang dilangsungkan di Kecamatan Dau (Foto : Istimewa)

MALANGTIMES - Paslon (pasangan calon) Bupati dan Wakil Bupati Malang dari kubu 01 yakni Sanusi-Didik Gatot Subroto atau SanDi, sudah mempersiapkan program khusus bagi kaum muda. Yakni, membentuk tim pergerakan ekonomi malang milenial.

Pernyataan itu disampaikan HM Sanusi saat mengelar kampanye di Kecamatan Dau, beberapa waktu lalu. ”Nanti kalau sudah terpilih itu sudah kami rencanakan. Kami (SanDi) akan bentuk tim pergerakan ekonomi Malang milenial,” ucapnya.

Baca Juga : Problem Sampah dan Limbah, Cabup Sanusi: Tidak Perlu Tunggu Jadi, Selesai Kampanye Kami Benahi

 

Sebagai contoh, salah satu sektor yang bakal dimaksimalkan dalam tim pergerakan ekonomi Malang milenial tersebut, adalah di sektor pertanian. 

”Jadi contohnya, kaum milenial nanti bisa diarahkan untuk terlibat dalam beberapa hal. Seperti pengembangan dari lahan yang tidak produktif bisa menjadi produktif, peningkatan cara pemupukan yang benar hingga benih yang bagus,” jelas Abah Sanusi.

Selain di sektor pertanian, Abah Sanusi juga berjanji bakal melibatkan kaum milenial di semua lini pembangunan di Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Malang.

”(Selain sektor pertanian, red) masih ada banyak lagi, terutama nanti akan kita libatkan di sektor pendidikan, keterampilan dan kesempatan untuk bekerja, membantu di bidang pemasaran, permodalan. Ini yang akan kita gerakkan semua,” ungkapnya.

Seperti yang sudah diberitakan, kaum milenial memang menjadi sektor “seksi" untuk dibidik guna memenangkan kontestasi Pilkada 2020. 

Pasalnya, dari data 2019 lalu jumlah DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang berasal dari kaum milenial, ada 25,9 persen atau setara dengan 517.256 pemilih, dari total 1.996.857 DPT di tahun 2019.

Menilik potensi lumbung suara tersebut, Abah Sanusi pun memakai pola pendekatan yang disesuaikan dengan kaum milenial. 

Baca Juga : Banyak Keluhan Pendidikan Mahal, Lathifah: Ada yang Salah Strategi Anggarannya

 

SanDi memilih untuk memperbanyak model kampanye dengan cara diskusi. Alasannya, dengan begitu dirinya bisa langsung mengetahui apa kebutuhan dan yang diinginkan oleh generasi milenial yang ada di Kabupaten Malang.

”(Model kampanye, red) Kalau milenial lebih banyak dialogis daripada orator. Kenapa, karena kita berupaya menyerap aspirasi dari kemauan mereka (milenial). Karena yang milenial inikan banyak kreasinya, banyak inovasinya, banyak pemikirannya, masih seger-seger. Ini yang harus ditangkap sebagai inovasi untuk kita kembangkan,” tegas Abah Sanusi.

Apakah ada strategi khusus selain diskusi saat kampanye? Sanusi mengaku tidak menyiapkan trik khusus. Sebab, baginya yang terpenting adalah menangkap aspirasi kaum muda, yang dianggap Sanusi lebih agresif terhadap banyak hal dan permasalahan. Terutama terhadap perubahan perekonomian maupun perilaku.

”Begini, saya tidak terlalu bermuluk-muluk, yang jelas bagi saya sebagai pimpinan harus mampu melayani kebutuhan dan kepentingannya milenial. Apa maunya ya kita akan mengakomodir itu. Dan pimpinan bagi saya tidak memaksakan saya harus begini-begini. Tapi yang terpenting, mereka mau apa kita yang melaksanakan untuk diaktualisasikan,” pungkasnya.