Para personel yang hingga sampai saat ini bertahan dalam Tashoora. (Dok. Tashoora) 
Para personel yang hingga sampai saat ini bertahan dalam Tashoora. (Dok. Tashoora) 

MALANGTIMES - Salah satu unit pop asal Yogyakarta yang saat ini sedang naik daun, Tashoora melakukan kerja sama dengan LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Jakarta. Kerja bareng itu menghasilkan sebuah karya single terbaru bertajuk "Aparat" dengan berdasarkan data dan fakta.

Single terbaru dari Tashoora muncul dari keresahan-keresahan yang dirasakan oleh masing-masing personel yang mendengar dan melihat aparat kerap kali melakukan aksi salah tangkap kepada masyarakat Indonesia. 

Baca Juga : Elit Politik Manipulasi Sejarah, Protes The Brandals dalam "The Truth Is Coming Out"

 

Hal itu juga didukung oleh hasil riset dan data yang dilakukan oleh LBH Jakarta terkait maraknya aparat yang salah tangkap masyarakat yang sebenarnya tidak bersalah dan tidak melakukan hal yang disangkakan.

"Kita harus menjaga mata dan memori kolektif agar aparat melakukan penegakan sesuai dengan hukum yang berlaku dan tidak lagi melakukan penangkapan sewenang-wenang," ujar Staf Kampanye Strategis LBH Jakarta dalam pers rilis yang diterima media online ini.

Berdasarkan penelitian LBH Jakarta yang bertajuk "Kepolisian dalam Bayang-Bayang Penyiksaan" dalam kurun waktu 2013-2016 tercatat bahwa terdapat  setidaknya 37 kasus praktik penyiksaan oleh aparat penegak hukum. 

"70 persen penyiksaan dialami oleh korban dengan kelas ekonomi rendah," tuturnya.

Selain itu selain LBH Jakarta, KontraS juga dalam kurun waktu 2019-2020 mencatat sebanyak 62 kasus penyiksaan terjadi dan mayoritas sebanyak 47 kasus terjadi pada korban salah tangkap oleh aparat.

Rentang waktu 2019-2020 jika di akumulasi dari laporan berbagai daerah, menurut Asta terdapat ribuan massa aksi yang ditangkap oleh aparat penegak hukum.

"Suara-suara protes berakhir di kalkulasi kerugian, kita dipaksa santun di tengah penindasan," terangnya.

Padahal, Indonesia secara konstitusional juga telah meratifikasi Konvensi Anti Peyiksaan sejak 28 Oktober 2008 melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan United Nation Convention Against Torture (UNCAT).

Artinya, dari proses ratifikasi tersebut disampaikan Asta bahwa ada konsekuensi tersangka atau terpidana kasus tidak boleh disiksa untuk kepentingan apapun. Apalagi mereka yang belum tentu terbukti bersalah.

"Pada kenyataannya, penyiksaan sering terjadi pada proses penangkapan dan pemeriksaan dengan tujuan agar para korban mengaku bersalah sampai mendekam di penjara atas kejahatan yang tidak mereka lakukan," jelasnya. 

Tim LBH Jakarta memberikan contoh salah satunya ketika terdapat kasus 6 pengamen Cipulir, DKI Jakarta yang menjadi korban salah tangkap atas pembunuhan Dicky Maulana pada tahun 2013.

"4 dari 6 pengamen ini masih di bawah umur dan baru bebas pada tahun 2016. Selain menjadi korban salah tangkap, hak atas pendidikan mereka juga terabaikan selama proses itu," bebernya.

Baca Juga : Sutradara Nominator Oscar, Barry Jenkins Bakal Garap Sekuel Lion King

 

Dari keresahan-keresahan yang berdasarkan data tersebut, Tashoora memutuskan untuk menggandeng Dias Widjajanto untuk didapuk sebagai produser dalam penggarapan single terbaru Tashoora bertajuk "Aparat". 

"Lagu Aparat direkam sepenuhnya di Kios Ojo Keos, Jakarta. Proses mixing 'Aparat' dikerjakan oleh Danang selaku gitaris di tempat yang sama, sedangkan mastering dipercayakan kepada Anton Gendel di Sangkar Emas Mixing and Mastering, Yogyakarta," ujar Gusti Arirang vokalis sekaligus bassis Tashoora.

Gusti menuturkan bahwa untuk artwork "Aparat" dikerjakannya sendiri. Sementara video musiknya, ketiga personel Tashoora bekerja sama secara apik dalam menghasilkan video musik yang sarat makna.

"Video dan artwork dari lagu ini sangat responsif pembuatannya. Direncanakan, dibuat dan disunting dalam waktu kurang dari 2 jam di Lebak Bulus Jakarta Selatan," jelasnya.

Sedangkan vokalis sekaligus pemain akordion dari Tashoora, Dita Permatas bahwa jika masyarakat mendapatkan tindakan-tindakan represif dari aparat juga harus lebih responsif.

"Seharusnya, kita juga bisa lebih responsif kalau menghadapi represi dan penangkapan yang sewenang-wenang oleh aparat," tegasnya.

Sebagai informasi bahwa sejak terbentuk pada tahun 2016, Tashoora telah menghasilkan beberapa karya diantaranya EP (Extended Play) Album bertajuk "Ruang" dirilis tahun 2018, full album bertajuk "Hamba Jaring Cahaya, Hamba Bela Gelapnya" dirilis tahun 2019, serta dua single yang dirilis tahun 2020 yakni "Sintas" dan "Aparat". 

Karya-karya Tashoora pun terkenal dengan pembawaannya yang selalu berbicara seputar ke-Tuhan-an, agama, isu-isu sosial, hingga kebijakan pemerintah.

Band yang sempat bergonta-ganti personel ini, saat ini diperkuat oleh Danang Joedodarmo (vokal, gitar), Dita Permatas (vokal, akordion, kibor) dan Gusti Arirang (vokal, bass).