Tumpeng Among Tani yang dibawa oleh masyarakat Kota Batu, di Jalan Panglima Sudirman, Desa Pesanggarahan, Kecamatan Batu, Sabtu (17/10/2020) malam. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Tumpeng Among Tani yang dibawa oleh masyarakat Kota Batu, di Jalan Panglima Sudirman, Desa Pesanggarahan, Kecamatan Batu, Sabtu (17/10/2020) malam. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Di balik jajaran Tumpeng Among Tani yang diarak jelang Pagelaran Wayang Kulit Virtual ‘Asmara Bumi’ dalam perayaan HUT ke-19 Kota Batu, ada beragam makna yang tertuang dalam tumpeng-tumpeng itu.

Misalnya dari Tumpeng Among Tani yang bermuatan ‘Dawet Rujak Legi’ pada wadah antaboga. Dawet adalah simbol dari banyaknya keinginan dan harapan dari segenap masyarakat Kota Batu untuk mewujudkan Batu yang Tata Titi Tentrem Kerta Raharjo.

Baca Juga : Keris Sengkelat Sultan Agung Abad 15 Hadir di Bursa Tosan Aji

“Untuk mewujudkan itu harus dilakukan dengan bekerja sama dan menjunjung tinggi perbedaan seperti yang disimbolkan pada rangkaian rujak legi yang terbentuk dari berbagai buah dan rasa,” ucap Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq.

Wadah antaboga sebuah simbol dari anta (tanpa rasa/keikhlasan) dan boga adalah makanan. Keduanya dapat dimaknai sebagai rasa tulus, ikhlas, dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan Maha Esa, dalam kepasrahan mutlak tanpa ikut mengatur-atur.

Kemudian ada Tumpeng Agung, setelah merangkai rasa ikhlas dalam memohon dan meletakkan diri serendah-rendahnya di hadapan Tuhan. Lalu, membangun rasa kehambaan di hadapan Sang Maha Agung sebagai penaung, pemenuh, penyerah atas permintaan dan permohonan bersama.

Selanjutnya adalah Tumpeng Robyong. Robyong bermakna kemanunggalan tekat dari segenap masyarakat Kota Batu, dalam mewujudkan rasa syukur atas segala yg sudah dianugerahkan Tuhan kepada makhluknya. Dengan totalitas menyatakan hakikat keterpujian Tuhan pada perilaku yang nyata.

Lalu Tumpeng Jun, Jun adalah wadah di dalam kesadaran perilaku seorang peminta atau pemohon. Maka ia akan menyiapkan kelayakan wadahnya atas sesuatu yang diinginkannya. Karena besar kecilnya wadah akan menjadi kelayakan.

Lainnya ada Tumpeng Jabutan merupakan simbol dari sifat ikhlas dalam memberi atau menyedekahkan apa yang dipunya kepada mereka yang tidak memiliki. 

“Mengacu pada sabda Tuhan bahwa tidak akan habis harta yang kau sedekahkan kecuali akan ditambahkan-Nya," lanjutnya.

Juga ada Tumpeng Piningit. “Tumpeng Piningit adalah sebisa mungkin kita menyembunyikan apa yang sudah kita berikan atau kita sedekahkan. Agar sebisa mungkin ketika tangan kanan memberi tangan kiri tidak mengetahui,” imbuhnya.

Piningit juga bermakna sebisa mungkin untuk meniadakan sifat kikir, baqil dan sebagainya. Karena sebenarnya kikir, pelit dan baqil adalah sebesar-besarnya penutup pintu rahmat. 

Baca Juga : Bedah Kerawang Leluhur, Tradisi Jelang HUT Kota Batu

Lalu ada Tumpeng Serabi yakni penyelarasan dari 3 piranti hidup yaitu cipta, rasa, karsa, adalah sarana untuk mencapai titik fokus dari permohonan kepada Tuhan. “Serabi juga bermakna SE = 1 RABI adalah Tuhan,” tambah Arief.

Tumpeng Pecut yakni, pelecut semangat dalam mengupayakan atau ikhtiar untuk mencapai dari apa yang sebenar-benarnya diinginkan. Karena di samping usaha, diwajibkan untuk ikhtiar. 

Cambuk adalah ujung atau ngujung yang berarti upacara atau ritual meminta hujan. Dan hujan adalah simbol dari kerahmatan itu sendiri.

Untuk Tumpeng Braja - Kalak, Braja adalah kekuatan, kekuatan bukan kekuatan kesombongan, bukan kekuatan pada keangkuhan, tetapi lebih pada kekuatan kewibawaan. Baik kewibawaan pemimpin sebagai pamong, maupun kewibawaan sebagai rakyat yang diemong. Dan untuk membangun kewibawaan sangat diperlukan luasnya khasanah keilmuan, khasanah rasa dan perasaan, khasanah akal dan pikiran. 

Serta, Tumpeng Damar Murup adalah nyala sebuah cahaya sebagai penerang jalan menuju satu titik arah yang dicita-citakan. Sedangkan Damar Murup adalah cahaya keilmuan untuk mencapai arah yang dicita-citakan.

Selain itu damar murup adalah cahaya pengertian untuk menuntun pemahaman akan kelayakan dari apa yang diminta dan dicita-citakan. 

“Kemudian juga cahaya rasa yang memahamkan hakikat rasa kehambaan makhluk atas Khaliknya. Damar murup adalah penerang kegelapan cipta, kegelapan rasa, dan kegelapan karsa sehingga penerangan itu akan benar-benar menuntun kita pada sesanti ‘Hakarya Guna Mamayu Bawan’,” tutupnya.