Kepala Pusdik SDM Kesehatan Kemenkes, Dr Sugiyanto SPd MApp Sc (di layar) saat memberikan sambutan dalam wisuda dan angkat sumpah daring Polkesma. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Kepala Pusdik SDM Kesehatan Kemenkes, Dr Sugiyanto SPd MApp Sc (di layar) saat memberikan sambutan dalam wisuda dan angkat sumpah daring Polkesma. (Foto: Ima/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Untuk pertama kalinya, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (Polkesma) menggelar prosesi Wisuda dan Angkat Sumpah secara daring, Kamis (17/9/2020). Sebanyak 1.203 wisudawan maupun wisudawati dari Program Diploma III, Sarjana Terapan dan Pendidikan Profesi diwisuda melalui aplikasi Zoom dan Youtube.

Dipimpin oleh Direktur Polkesma yang juga bertindak sebagai Ketua Senat, Budi Susatia SKp MKes, prosesi Wisuda dan Angkat Sumpah ini dilaksanakan dengan jumlah yang terbatas dan menjalankan protokol kesehatan. Sementara itu, Angkat Sumpah dipimpin oleh Kepala Pusat Pendidikan (Pusdik) Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) Kemenkes, Dr Sugiyanto SPd MApp Sc.

Baca Juga : Tak hanya Seleksi Administrasi, Jalur Mandiri UIN Malang Ada Seleksi Baca Tulis Alquran

Dalam sambutannya, Sugiyanto menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh civitas academika Polkesma.

"Poltekkes Malang telah melaksanakan tugasnya dengan baik dalam mendidik dan menyiapkan mahasiswanya untuk menjadi tenaga kesehatan yang kompeten dalam bidangnya masing-masing," ucapnya.

Kepada para wisudawan ia menuturkan bahwa proses wisuda bukanlah akhir dari perjalanan mereka. Setelah ini, mereka harus menjalani proses-proses lanjutan sebagai tenaga kesehatan.

"Penting untuk dipahami juga bahwa dengan menjadi tenaga kesehatan berarti Saudara berkomitmen untuk mengabdikan diri dalam pelayanan kesehatan melalui tugas mulia dan tujuan utamanya adalah untuk pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik," tuturnya. 

Ia berpesan agar wisudawan maupun wisudawati senantiasa bersikap profesional dan bekerja sesuai dengan kewenangannya yang dilandasi oleh etika profesi masing-masing. Di samping, ia juga meminta lulusan untuk dapat melakukan layanan kesehatan yang bersifat kolaborasi antar profesi sebab pelayanan kesehatan kolaboratif telah terbukti efektif dalam menjawab permasalahan kesehatan di masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut ia juga meminta Polkesma untuk menyikapi situasi pandemi covid-19 dengan baik. Ia menyatakan, saat ini Indonesia sedang mengalami juga era disrupsi teknologi, di mana sebagian besar institusi pemerintah dan dunia kerja menggunakan teknologi informasi yang dimanfaatkan secara masif di segala aspek kehidupan. Termasuk dalam sektor pendidikan dan kesehatan.

"Mengantisipasi terjadinya disrupsi teknologi, pendidikan tinggi kesehatan juga diharapkan dapat membekali mahasiswanya kemampuan berpikir kritis, kemampuan kognitif, flexibility, creativity, kemampuan komunikasi dan kolaborasi, problem solving, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi," timpalnya.

Pemanfaatan teknologi ini, kata dia sangat terasa manfaatnya terlebih saat pandemi covid-19 ini. Kita tahu, pembelajaran yang konvensional maupun tatap muka sudah dipastikan tidak dapat berlangsung secara terus-menerus karena adanya pemberlakuan physical distancing dan pembatasan sosial berskala besar.

"Menyikapi pandemi covid, saya mengharapkan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang dan seluruh civitas akademika dapat berkontribusi positif dalam penanggulangan pandemi," pesannya.

Kontribusi yang dapat dilakukan oleh civitas akademika dalam masa adaptasi kebiasaan baru di antaranya dapat melalui edukasi lingkungan sekitar mengenai kebiasaan baru untuk hidup lebih sehat. Hal ini harus terus-menerus dilakukan sehingga menjadi norma sosial dan norma individu baru dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga berpesan agar Polkesma terus meningkatkan penjaminan mutu internal. Terlebih melalui inovasi dan berbagai terobosan.

Baca Juga : KPAI Minta Siswa dan Guru Di-Swab sebelum Belajar Tatap Muka, Begini Respons Sutiaji

"Lakukan inovasi dan terobosan sehingga ke depan Politeknik Kesehatan bisa menjadi salah satu perguruan tinggi yang diakui dunia ini," tukasnya.

Dalam sambutannya, Direktur Polkesma Budi Susatia menyampaikan bahwa sasaran mutu bidang pendidikan kesehatan Polkesma beberapa diantaranya tercapai sesuai dengan harapan.

"Antara lain, kali ini lulusan yang memiliki IPK di atas 3,0 sebesar 99,60 persen. Adapun IPK tertinggi yang dapat dicapai lulusan sebesar 3,97. Hal tersebut memenuhi indikator dalam kontrak kinerja direktur yang merupakan cerminan kerja institusi," katanya.

Ia menyadari, situasi covid-19 yang berdampak luar biasa pada semua sektor mengharuskan perguruan tinggi, termasuk Polkesma untuk membuat lompatan inovasi besar agar tetap memberikan layanan terbaik kepada mahasiswa.

"Kami berupaya penuh agar pembelajaran daring tidak memberatkan, baik mahasiswa maupun dosen, dengan memberikan subsidi pulsa sebesar 100 ribu per bulan setiap mahasiswa. Tiap 3 bulan kita cairkan. Kami juga menyediakan media pembelajaran bonafit yang mudah diakses oleh siapa saja," paparnya.

Selain itu, pihaknya juga berusaha untuk merancang pembelajaran daring yang tidak menjenuhkan untuk mahasiswa.

Untuk diketahui, berdasarkan Permenkes No. 38 Tahun 2018, Polkesma termasuk dalam Politeknik kelas 1 dari seluruh Politeknik Kesehatan yang ada di Indonesia bersama dengan 10 Poltekkes lainnya. Hal tersebut, kata Budi, merupakan buah dari kerja sama, kerja cerdas, dan kerja keras seluruh civitas academika. Pada tahun 2019, Polkesma juga ditetapkan sebagai satuan kerja wilayah bebas dari korupsi (WBK) di tingkat Kemenkes.

"Perolehan tersebut tidak bisa dilepaskan dari sinergi antara civitas akademik yang secara bersama-sama menerapkan budaya anti korupsi dan pemberian layanan prima. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih kepada semuanya," pungkasnya.