Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

MALANGTIMES - Empat tahun pasca-wafatnya Rasulullah SAW, umat muslimin terlibat Perang Yarmuk dengan pasukan Bizantium atau Romawi Timur. Perang Yarmuk menjadi salah satu peperangan terbesar unat Islam dalam sejarah dunia karena menjadi salah satu penanda penaklukan oleh muslim di luar Arab. 

Saat itu, penaklukan dilakukan ke Palestina, Suriah, dan Mesopotamia. Sebagian besar penduduk tiga wilayah itu menganut ajaran Kristen.

Baca Juga : Gramaphone di Galeri Bangho, Ada yang Berusia Hampir 1 Abad dengan Harga Puluhan Juta

Ustad Khalid Basalamah dalam sebuah kajian menyampaikan, saat itu pasukan muslimin berjumlah 24 ribu. Sedangkan pasukan Romawi Timur mencapai 120 ribu. Jumlah yang sungguh timpang. Apalagi pasukan Bizantium memiliki kekuatan dan senjata yang sangat luar biasa.

Jumlah pasukan musuh yang lima kali lebih banyak serta kekuatan yang luar biasa itu sempat membuat pasukan muslimin merasa sedikit khawatir dan takut. Soalnya, dilihat dari jumlah saja, mereka jauh lebih sedikit.

Dalam beberapa riwayat disebutkan, Said bin Zaid yang turut dalam Perang Yarmuk menceritakan dan berkata, “Kami melihat pasukan Bizantium ini sekitar 120 ribu orang. Dan mereka melantunkan doa dengan bahasa mereka. Mereka dipimpin para pastur yang membawa salib yang dibuat dari emas. Suara mereka bergemuruh. Maka rasa takut sempat masuk ke dalam hati kaum muslimin.”

Dikisahkan bahwa pasukan Bizantium telah memukulkan pedang mereka dengan perisai yang dibawa. Kemudian ditambah dengan beberapa lantunan doa yang diucapkan secara bersamaan. Sehingga membuat suara begitu bergemuruh dengan keras.

Dalam kondisi seperti itu, Abu Ubaidah bin Jarrah terus memberikan motivasi kepada umat muslim. Dia terus mengucapkan kalimat motivasi agar pasukan muslimin selalu berpegang pada firman Allah SWT.

Tak lama, datang seorang pria yang tak disebutkan namanya dalam sejarah. Pria itu tiba-tiba berkata kepada Ubaidah bin Jarrah bahwa ia ingin mati sahid dalam peperangan tersebut. Semangatnya sungguh luar biasa. Padahal saat itu kaum muslimin berjumlah 24 ribu dan melawan 120 ribu pasukan Bizantium.

Orang itu lalu berkata, “Adakah pesan yang ingin engkau sampaikan kepada Rasulullah SAW wahai Abu Ubaidah?”

Ubaidah pun menjawab, “Sampaikan salam kami kepada Rasulullah SAW.”

Maka orang tersebut maju menembus pasukan sampai akhirnya dia terbunuh. Namun, dia sempat membunuh beberapa pasukan Bizantium seorang diri.

Pasukan Bizantium terus melakukan penyerangan dan mendesak pasukan muslimin. Saat itu, pasukan muslimin tetap pada satu kelompok sebagaimana yang dipesankan Khalifah Umar bin Khattab.

Baca Juga : Bikin Salut tapi Juga Keterlaluan, Menikah dengan Mahar Cuma Rp 500 Viral di Medsos

Maka di situlah peran dari sosok Said bin Zaid yang sangat jeli meraih pahala dimulai. Said secara tiba-tiba meloncat dari atas kudanya. Dia menjatuhkan diri ke tanah dan pasukan musuh dibuat berhenti karena ulahnya.

Said saat itu secara tiba-tiba menggulingkan dirinya ke depan hingga ada di depan pasukan musuh. Pasukan Bizantium dan pasukan muslimin berhenti dan melihat apa yang dilakukan Said saat itu.

Said membangun semangatnya, lalu bertakbir dan menyerang sendiri musuh. Said menyerang orang yang paling besar dan merupakan pemimpin pasukan berkuda Bizantium yang memang bukan sembarangan orang. Pemimpin musuh itu pun terbunuh di tangan Said.

Karena yang terbunuh oleh Said bin Zaid adalah salah satu pemimpin mereka yang luar biasa, pasukan Bizantium mulai goyah semangatnya. Sedangkan kaum mualimin menjadi lebih termotivasi untuk ikut serta menyerang. Dan pada akhirnya, peperangan besar itu dimenangkan kaum muslimin.