Diskusi tematik "Al-Qur'an dan Nuzulul Qur'an" dalam acara Syiar Ramadan 1441 H UIN Malang. (Foto: istimewa)
Diskusi tematik "Al-Qur'an dan Nuzulul Qur'an" dalam acara Syiar Ramadan 1441 H UIN Malang. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Turunnya Al-Qur'an kita peringati sebagai nuzulul Qur'an yang bertepatan pada 17 Ramadan. Nabi Muhammad menerima wahyu pertama Surat Al-'Alaq Ayat 1-5 di Gua Hira.

Menurut dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim  (UIN Maliki) Malang
Dr Muhammad In'am Esha MAg, ayat ini merupakan ayat yang sangat istimewa karena di dalamnya terdapat tiga kata kunci penting. Pertama, tentu tentang iqro', perintah membaca. Kemudian yang kedua adalah bagaimana cara kita membaca harus senantiasa ingat kepada Allah.

Baca Juga : Ternyata Ini Alasan Mengapa Al-Qur'an Diturunkan ke Bangsa Arab dengan Bahasa Arab

"Bismirobbikalladzii kholaq, di sini yang disebutkan adalah bismirobbik. Jadi, menggunakan istilah robbun. Tidak langsung menyebut istilah Allah," jelas In'am.

"Dalam beberapa kajian menunjukkan bahwa Tuhan itu yang semesta alam. Jadi, mengajak orang untuk membaca. Sampai pada satu kesimpulan bahwa robbun yang memelihara alam semesta, yang mengatur alam semesta, ini ada satu zat yang serba maha mengatur," sambungnya.

Kata kunci yang ketiga adalah kholaq dalam konteks ini yang disebut sebagai kreatif.

Lantas, mengapa Allah memilih ayat yang memerintahkan untuk membaca untuk ayat pertama yang diturunkan? Mengapa bukan ayat yang menegaskan tentang ketuhanan?

Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) UIN Malang Dr Munirul Abidin MAg menjelaskannya dari perspektif ilmiah. Munir menyatakan, untuk sampai kepada ketuhanan, tidak akan sempurna kalau tidak melalui ilmu pengetahuan.

"Kalau dilihat dari ayat iqra' bismirobbikalladzii kholaq, sebenarnya Allah menyuruh kepada manusia lewat Nabi Muhammad hari itu, sebelum kamu mengetahui tentang ketuhanan, belajarlah dulu tentang alam semesta, belajar dulu tentang apa pun yang ada di sekitar kamu," terangnya.

Tetapi, apabila belajar ini tidak diimbangi dan diikuti dengan rasa ketuhanan, maka nanti juga akan menjadi sesat. Karena itulah, setelah iqra 'disebutkan bismirobbikalladzi kholaq yang berarti dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.

Maka dari itulah, orang menuntut ilmu kalau fokus ilmu pengetahuan saja maka bisa menjadi sesat dan sekuler. Ia akan menganggap bahwa dirinya adalah orang yang paling top dan tidak butuh Tuhan karena merasa sudah bisa menyelesaikan segala sesuatunya dengan ilmu pengetahuan. "Karena itu, Allah SWT sudah mengingatkan dalam Surat Al-'Alaq," tandasnya.

Baca Juga : Ada Kebaikan Allah di Balik Pandemi Covid-19, Akademisi UIN: Lihat Lewat Pendekatan Sains

In'am dan Munir menjadi pembicara dalam diskusi tematik "Al-Qur'an dan Nuzulul Qur'an" pada acara Syiar Ramadan 1441 H UIN Malang. Selain In'am dan Munir, terdapat dua dosen lain yang menjadi pembicara, yakni dosen Fakultas Syariah Dr Isroqunnajah MAg dan dosen FITK Dr Nurhadi MA.

Acara yang disiarkan di TV setiap hari ini digelar di hall Rektorat UIN Malang. Jumlah peserta yang datang terbatas dan tetap memperhatikan physical distancing. Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg bertindak langsung sebagai host.