Dosen Psikologi FISIP UB Dr Intan Rahmawati MSi menjelaskan materi dalam Webinar 2020 PSKK UB bekerja sama dengan MalangTIMES. (Foto: screenshot)
Dosen Psikologi FISIP UB Dr Intan Rahmawati MSi menjelaskan materi dalam Webinar 2020 PSKK UB bekerja sama dengan MalangTIMES. (Foto: screenshot)

MALANGTIMES - Salah satu falsafah hidup Jawa yang terkenal adalah "Mangan Ora Mangan Kumpul" atau "Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul". 

Baca Juga : Bingung Ingin Curhat? Dosen UIN Malang Bahas Hubungan Alquran dengan Konseling

Dalam bahasa Indonesia berarti makan tidak makan yang penting kumpul. Banyak orang yang memegang falsafah ini. Jadi, banyak dari kita yang terbiasa dengan budaya kolektivisme.

Ternyata, kebiasaan ini turut menimbulkan tekanan psikologis di masa pembatasan sosial karena Covid-19.

Hal ini disampaikan oleh Dosen Psikologi Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) Malang Dr Intan Rahmawati MSi.

Salah satu rekan Intan di Ikatan Psikologi Sosial, Abdul Hakim melakukan penelitian psikologis yang disebabkan karena Covid-19 ini. Hakim mengambil sampel sekitar 1.300 lebih di seluruh Indonesia untuk melakukan profiling atau pemetaan tentang situasi psikologis masyarakat di Indonesia karena Covid-19.

"Ternyata yang muncul dari 1.300 lebih responden dengan perbandingan perempuan dan laki-laki kurang lebih 60:40, ternyata nampak tekanan psikologis yang muncul itu karena pembatasan sosial," ucap Intan.

Intan menjadi salah satu pembicara dalam Webinar 2020 PSKK UB (Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan Univeritas Brawijaya) Sekolah Relawan Series yang bekerja sama dengan media online berjejaring MalangTIMES.com, Sabtu (9/5/2020). 

Selain Intan, webinar yang digelar melalui aplikasi Zoom ini juga menghadirkan 2 narasumber lain, yaitu Prof Drs Adi Susilo MSi PhD dan Ns M Fathoni SKep MNS.

Baca Juga : Akademisi UIN Malang Bahas Seni Manajemen dalam Alquran

"Lagi-lagi karena mungkin kita terbiasa dengan budaya collectivism. Jadi, mangan ora mangan sing penting kumpul itu masih kuat ada di Indonesia. Yang penting bersama. Pager mangkok itu lebih kuat ketimbang pager besi itu ternyata sampai sekarang masih berlaku di Indonesia," sambung perempuan berhijab tersebut.

Lalu, tekanan psikologis yang lain adalah kekurangan kebutuhan dasar. Sebelumnya kita dibombardir dengan berita tentang melonjaknya angka Covid-19, lalu harga masker sampai Rp 1,2 juta berisi 50 lembar saja. Lantas hand sanitizer yang susah dicari, kemudian banyak yang menimbun bahan-bahan pokok. Inilah yang kemudian memunculkan tekanan-tekanan psikologis.

"Selain itu, tekanan psikologis ini juga disebabkan karena ancaman infeksi. Jadi takut menginfeksi tubuh. Ini yang kemudian membentuk tekanan psikologis tertentu," timpalnya.

Sebagian masyarakat juga masuk dalam kelompok rentan dengan tekanan psikologis. Yakni masyarakat dewasa awal, tidak bekerja, dan unstable emotion atau emosi yang tidak stabil. 27 persen dari mereka mengalami stres akut.

"Saudara-saudara kita yang berada pada usia dewasa awal. mungkin sekitar usia 20-an, 27 persennya itu memang mengalami stres akut. Jadi sangat penuh tekanan sekali dengan situasi yang berubahnya mendadak," jelasnya.