Kisah di Balik Masuknya Muslim yang Menerima Pahala Terakhir Hijrah

May 09, 2020 06:56
Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

MALANGTIMES - Perintah hijrah meninggalkan Makkah turun karena dakwah Islam semakin mendapat tentangan dari kaum Quraisy. Rasulullah SAW kemudian hijrah ke  tempat yang kini disebut Madinah. Di sana, Rasulullah terus menyampaikan dakwah Islam.

Baca Juga : Mengharukan, Saat Rasullullah Ingin Bertemu Kekasihnya tapi Dapat 2 Pilihan dari Malaikat

Namun meski telah berhijrah, tentangan kaum Quraisy terhadap umat muslim masih terus ditunjukkan. Salah satunya dilakukan melalui larangan adanya ibadah umrah bagi umat muslim yang hendak memasuki Makkah. Lantaran kaum Quraisy sangat anti terhadap muslim, maka pintu gerbang Makkah selalu ditutup.

Peristiwa itu kemudian memunculkan Perjanjian Hudaibiyyah. Perjanjian diplomatik antara umat muslim dan Quraisy ini disetujui Rasulullah SAW meski pada kenyataannya para sahabat sempat merasa marah lantaran isi perjanjian tersebut banyak menguntungkan Quraisy.

Dr Khalid Zeed Abdullah Basalamah Lc MA atau lebih dikenal sebagai Ustaz Khalid Basalamah menyampaikan, meski sempat membuat para sahabat marah, Rasulullah SAW tetap menyetujui isi perjanjian tersebut. Dalam perjanjian itu, salah satu poin yang digarisbawahi adalah untuk tidak saling berperang dan berdamai.

Larangan berperang dan melakukan perdamaian itu juga ditujukan kepada masing-masing sekutu dari umat muslim maupun sekutu Quraisy yang berada di Makkah. Saat itu, Suku Baker menjadi sekutu Quraisy dan Suku Khuza'ah menjadi sekutu muslim.

Suatu ketika, setelah disepakati perjanjian itu, salah seorang dari Suku Baker melihat ada orang dari Suku Khuza'ah yang tak membawa senjata. Namun lantaran kebencian yang mendalam dari orang Suku Baker, maka dilakukan pembantaian terhadap orang dari Suku Khuza'ah yang tengah berjalan tersebut.

Hal itu membuat kedua suku tersebut melakukan pertumpahan darah. Gejolak terjadi dan membuat Quraisy berembuk karena saat itu mereka masih memiliki perjanjian dengan umat muslim. Sedangkan Rasulullah SAW dan seisi Madinah saat itu juga mengetahui peristiwa pembantaian yang secara otomatis juga menodai isi Perjanjian Hudaibiyyah yang telah disepakati.

Kaum Quraisy saat itu akhirnya mengutus Abu Sufyan menuju Madinah. Di sana, Abu Sufyan merasa bingung harus menemui siapa untuk bisa bernegosiasi dengan Rasulullah SAW. Maka ditemuilah anaknya, Habibah, yang juga istri Rasulullah SAW.

Habibah menyambut kedatangan sang ayah dengan gembira. Namun saat Abu Sufyan hendak duduk di atas tikar milik Rasulullah, Habibah langsung mengambil tikar itu dan berkata jika itu adalah tikar Rasulullah SAW yang tak boleh diduduki oleh orang yang belum suci lantaran saat itu Abu Sufyan belum memeluk Islam.

"Melihat kondisi seperti itu, Abu Sufyan merasa akan sulit meminta tolong anaknya sendiri untuk bernegoisasi dengan Rasulullah SAW," kata Ustadz Basalamah.

Tak lama, Abu Sufyan mendatangi masjid di mana Rasulullah SAW berada. Ketika itu, Abu Sufyan langsung menyampaikan keinginan Quraisy untuk memperpanjang Perjanjian Hudaibiyyah. Namun dengan tegas, Rasulullah SAW menolak hal itu.

Lantaran ditolak, Abu Sufyan kemudian mencari para sahabat Rasulullah SAW untun diajak bernegoisasi. Abu Bakar Ash-Shiddiq hingga Umar bin Khattab yang didatanginya pun sama-sama menolak seperti yang disampaikan Rasulullah SAW.

Hingga pada akhirnya Abu Sufyan mendatangi Ali bin Abi Thalib. Saat itu, Ali yang didatangi Abu Sufyan pun berkata, "Rasulullah tak akan mengubah keputusannya. Tapi jika kau mau, kau kembali ke masjid lalu kau perbarui sendiri. Kau bilang kau pemuka Quraisy dan lakukan."

Lalu Abu Sufyan menuju masjid dan berkata, "Ketahuilah wahai muslimin, dan ini didengarkan Muhammad utusan Allah kalian. Bahwasannya perjanjian antara Quraisy dan kalian diperpanjang."

Orang-orang dalm masjid pun melihat ke arah Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW berkata, "Itu keputusanmu, bukan keputusan kami. Kami tidak akan mengubah perjanjian sampai terjadi pengkhianatan."

Selanjutnya Abu Sufyan kembali ke Makkah dan bercerita tentang apa yang dialaminya. Kemudian orang-orang Makkah itu berkata, "Kami tidak melihat kecuali kau telah ditipu oleh Ali."

Sementara itu, tanpa sepengetahuan Quraisy, Rasulullah SAW langsung membentuk pasukan dan menyampaikan akan berjihad tanpa memberi tahu lokasi mana yang akan dituju. Hingga akhirnya pasukan muslim telah tiba di depan pintu gerbang Makkah.

Saat itu, paman Rasulullah SAW, Abbas bin Abdul Munthalib, tengah berada di luar gerbang Makkah hendak menuju Madinah. Saat itu ia hendak berhijrah dan memeluk Islam. Lantaran bertemu di pintu perbatasan, maka paman Rasulullah SAW itu pun memeluk Islam persis ketika pasukan Rasulullah hendak menaklukkan Makkah.

Baca Juga : Ini Dia, Manusia Terakhir yang Akan Memasuki Surga

"Dan Abbas yang merupakan paman Rasulullah ini menjadi muslim terakhir yang menerima pahala hijrah," imbuh Ustaz Basalamah.

Di saat yang bersamaan, Abu Sufyan tengah mencari informasi tentang kondisi yang berada di kawasan sekitar Makkah. Saat berada di pintu gerbang, dia bertemu dengan pimpinan  Suku Khuza'ah yang sedang menunggu kedatangan Rasulullah SAW beserta pasukan muslim.

Saat itu, Abu Sufyan juga melihat ada ribuan pasukan umat muslim yang tengah menyalakan api unggun  tak jauh dari Makkah. Lalu Abu Sufyan bertanya siapa sebenarnya pasukan tersebut kepada pimpinan Suku Khuza'ah. Kemudian dijawablah bahwa itu adalah orang Suku Khuza'ah.

Abu Sufan tak percaya karena jumlah Suku Khuza'ah tak sebanyak itu. Singkat cerita, Abu Sufyan bertemu dengan Abbas bin Abu Munthalib. Lantas Abbas berteriak kepada Abu Sufyan, "Wahai Abu Sufyan, segera, segera."

Abu Sufyan diberi tahu jika pasukan muslim yang akan mengadakan penyerangan terhadap Makkah sudah ada di depan mata. Lalu Abu Sufyan mendatangi Rasulullah SAW dengan ajakan Abbas.

Saat itu yang berjaga adalah Umar. Abu Sufyan yang hendak menemui Rasulullah SAW dengan menutup wajahnya dan hanya tersisa matanya ketahuan Umar yang berjalan mengikuti keduanya dari belakang. Lalu Umar meneriakkan nama Abu Sufyan hingga membuat dia merasa ketakutan.

Abu Sufyan dan Abbas yang mengendarai unta Rasulullah SAW pun dikejar oleh Umar bin Khattab yang tengah mengendarai keledai. Hingga akhirnya Abbas dan Abu Sufyan tiba lebih dulu di perkemahan Rasulullah SAW dan masih dikejar Umar yang hendak menebas kepala Abu Sufyan.

Melakukan perbincangan, Abu Sufyan yang ketakutan luar biasa akhirnya masuk Islam. Kemudian Rasulullah SAW mengatakan, "Ketahuilah Abu Sufyan, kalau kau ingin aman, beri tahu orang Makkah sebelum pasukan ini masuk Makkah, siapa yang masuk rumahmu, dia aman."

Lalu Abu Sufyan berkata, "Ya Rasulullah rumahku kecil. Bagaimana orang Makkah bisa masuk rumahku?"

Lalu Rasulullah SAW meminta agar memasuki Masjidil Haram jadi pilihan untuk yang ingin aman. Lantaran saat itu Masjidil Haram tak terlalu besar, maka Rasulullah juga menyampaikan bahwa siapa pun yang menutup rumahnya, dia aman.

Ketika Abu Sufyan hendak kembali ke Makkah, Rasulullah meminta Abbas menahannya terlebih dulu dan disuguhi beberapa makanan. Keesokan harinya setelah salat Subuh, Rasulullah menunjukkan pasukan muslim dengan keterampilan yang hebat di hadapan Abu Sufyan.

Tak lama setelah itu, Abu Sufyan kembali dan meminta Makkah menyerah. Permintaan itu ditentang oleh istri Abu Sufyan, yakni Hindun, yang tak percaya dengan yang disampaikan Abu Sufyan. Abu Sufyan pun mengatakan beberapa hal yang disampaikan Rasulullah SAW. Tak lama, 10 ribu pasukan muslim datang menaklukkan Makkah.

Sikap Rasulullah SAW terhadap peperangan dan penyerangan tersebut salah satunya juga mencerminkan perkataan Rasulullah sebagaimana hadis yang berbunyi: "Sesungguhnya, saya tidak akan membatalkan perjanjian dan tidak pula menahan utusan-utusan."

Hadis tersebut memberi penjelasan penting dalam peperangan Islam.  Rasulullah SAW menegaskan kepada umat muslim untuk tak membatalkan setiap perjanjian yang dilakukan dan selalu tegas terhadap setiap kesepakatan yang dibuat.

 

Topik
MalangBerita MalangBerita Hari IniKisah di Balik Masuknya MuslimMenerima Pahala Terakhir HijrahPerintah hijrah meninggalkan Makkahtentangan kaum QuraisyDr Khalid Zeed Abdullah Basalamah Lc MACerita Ustaz Khalid Basalamah
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru