Kiai-kiai UIN Malang saat diskusi tematik dalam acara Syiar Ramadan. (Foto: istimewa)
Kiai-kiai UIN Malang saat diskusi tematik dalam acara Syiar Ramadan. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Pandemi covid-19 tak menghentikan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang untuk tetap berdakwah di bulan Ramadan.

Baca Juga : Masyarakat Tetap Gelar Salat Tarawih, Ini Kata Takmir Masjid An-Nur Kota Batu

Belum lama ini, para kiai UIN Malang membeberkan hakikat puasa dalam diskusi tematik pada acara Syiar Ramadan 1441 H UIN Malang. Diskusi digelar di hall rektorat UIN Malang dengan tetap memperhatikan physical distancing (jaga jarak fisik).

"UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan diskusi rutin yang mengkaitkan Alquran dengan sains. Dan kali ini kami  mendiskusikan Alquran dan hakikat puasa dalam Islam," ucap Rektor UIN Malang Prof Dr H Abdul Haris MAg membuka acara.

Kiai-kiai UIN Malang yang saat itu menjadi narasumber adalah Dr H Badruddin MHI, Dr H Isroqunnajah MAg, Dr H Ali Nasith MSi MPdI, dan Dr H Imam Muslimin MAg.

Dikatakan Kiai Badruddin, shiyam atau puasa secara bahasa adalah al imsak yang berarti menahan. Namun, definisi secara fiqih yaitu menahan diri dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa. "Seperti makan, minum, berhubungan suami istri sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari," ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, puasa yang dilakukan oleh seorang muslim tidak lepas dari stok pengetahuan yang dimilikinya. Artinya, seseorang yang melakukan puasa akan melihat berbagai perspektif yang ia gunakan.

"Jadi, nanti kalau perspektif Alquran, itu dia nanti akan seperti apa. Kalau menggunakan perspektif sosial, dia akan berpuasa seperti apa. Kemudian jika menggunakan perspektif kesehatan, dia akan berpuasa seperti apa. Kalau menggunakan perspektif psikologi, dia akan berpuasa seperti apa. Dan itu nanti tentu hasilnya akan beda-beda di akhir," bebernya.

Sementara itu, Dr H Isroqunnajah MAg menurutkan bahwa Allah begitu elegan karena memerintahkan hambanya untuk puasa hanya kepada mereka yang diberi iman. "Seperti di dalam hadis disebutkan bahwa untuk Allah berikan nikmat dunia kepada siapa pun, baik yang dicintai maupun tidak, tapi Allah tidak akan memberikan iman kepada siapa pun hambanya kecuali Allah mencintainya," ungkapnya.

"Jadi, kita dikategorikan orang-orang yang dicinta. Maka komitmen kita membalas cinta Allah SWT itu. Satu di antaranya dengan puasa itu," tandas pria yang akrab disapa Gus Is tersebut.

Dr H Ali Nasith MSi MPdI menekankan bahwa ada tiga macam orang berpuasa menurut Imam  Ghazali. Yakni puasa biasa/awam, puasa khusus, dan puasa khusus khusus.

Baca Juga : Geliat Syiar Digital Masjid At Taqwa Batu di Tengah Corona

 

"Puasanya orang biasa nggak makan, nggak minum, nggak kumpul istri. Tetapi maaf, perilakunya tetap seperti sebelum dia berpuasa," katanya.

Sementara puasa khusus, di samping menahan lapar dan sebagainya itu, juga menjaga panca indera.

"Yang ketiga super-istimewa. Ini yang di samping menjaga panca indera, juga dijaga bagaimana hati ini selalu diiringi dengan istigfar dan slawat. Insya Allah kalau ini, kita akan menjadi orang-orang yang bertakwa," ujar dia.

Hakikat puasa, menurut Dr H Imam Muslimin MAg, adalah pengendalian. Muslimin menyederhanakan bahwa puasa ada tiga macam. Yakni puasa benar, puasa baik, dan puasa kesadaran.

"Puasa benar yaitu bilamana seseorang itu sudah menjalani puasa. Niat malam hari esok untuk berpuasa, lalu meninggalkan makan dan minum serta berhubungan suami istri dimulai dari Subuh sampai Magrib. Maka dia sudah benar sekalipun mungkin dia masih menjalankannya dibarengi dengan hal-hal yang bisa mengurangi, misalnya melakukan maksiat. Tapi secara fiqih sudah benar, sudah sah," bebernya.

Lalu, yang kedua adalah puasa baik. Dikatakan Muslimin, baik ini berkaitan akhlak. Jadi, ukurannya adalah hubungan antara kita dengan manusia. Sementara puasa benar adalah secara fiqih.

"Yang ketiga puasa kesadaran. Jadi, puasa Arafah. Bahwa kehidupan ini ada dua hal, pengendalian dan pelampiasan. Kapan seseorang itu harus melampiaskan dan kapan harus mengendalikan. Inilah esensi puasa," tandasnya.