Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

MALANGTIMES - Pemerintah Indonesia belum lama ini menggelontorkan tes covid-19 menggunakan rapid test. Namun masih muncul pertanyaan di antara masyarakat tentang bagaimana cara untuk mengikuti rapid test dan siapa saja yang diperbolehkan mengikuti tes tersebut.

Di Kota Malang sendiri, pertanyaan itu masih banyak disampaikan masyarakat, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Pertanyaan banyak berdatangan di antara masyarakat yang berkeinginan untuk melakukan tes covid-19.

Baca Juga : Sudah Diwajibkan, Pemerintah Kabupaten Malang Bakal Bagikan 120 Ribu Masker ke Masyarakat

Kabag Humas Pemerintah Kota Malang Nur Widianto menjelaskan, Pemerintah Kota Malang sebelumnya mendapatkan bantuan rapid test sebanyak 420 alat dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Jumlah yang terbatas itu pun diprioritaskan untuk tenaga kesehatan hingga orang dalam pantauan (ODP) dan orang tanpa gejala (OTG). Sehingga, memang belum semua masyarakat bisa mengikuti rapid test.

"Rapid test itu dilakukan di laboratorium kesehatan Dinas Kesehatan Kota Malang. Sasarannya adalah tenaga kesehatan, ODP dan OTG serta kontak berisiko," katanya.

Pria yang akrab disapa Wiwid itu menegaskan, rapid test selama ini memang diprioritaskan hanya untuk beberapa orang yang memang memiliki riwayat komunikasi dengan pasien positif covid-19 serta yang memiliki gejala.

Sementara, bagi lingkungan perumahan atau pemukiman pasien yang positif covid-19, juga telah dijalankan protokol kesehatan sebagaimana ketentuan yang ada. Termasuk melakukan rapid test kepada keluarga maupun rekan yang pernah melakukan kontak dengan pasien konfirmasi positif.

Sehingga, dia mengimbau agar masyarakat tak terlalu panik. Terlebih jika masyarakat tidak memiliki keluhan gejala covid-19 serta tak memiliki riwayat kontak dengan pasien dalam pengawasan (PDP) ataupun yang konfirmasi positif covid-19.

"Untuk yang tak memiliki gejala dan riwayat, kami harapkan agar mematuhi protokol kesehatan dengan tetap di rumah, cukup istrahat, makan teratur, serta berolahraga," tambahnya.

Baca Juga : Pasien Covid-19 di Jombang Seorang Dokter, Ada 80 Orang Berpotensi Tertular

Sedangkan bagi masyarakat yang mungkin memiliki keluhan dia sarankan untuk segera menghubungi puskesmas terdekat. Sehingga akan mendapat perawatan intensif dari pihak medis.

Lebih jauh Wiwid  berharap agar masyarakat tidak terlalu panik dengan informasi yang beredar di media sosial. Terlebih berkaitan dengan PDP yang telah meninggal dunia. Sebab, pada dasarnya, tak semua PDP merupakan pasien positif covid-19.

PDP sendiri merupakan pasien dalam pengawasan penuh tim medis. Dalam tahapannya, PDP dapat dinyatakan sebagai PDP positif atau PDP negatif covid-19. Hal itu bergantung pada hasil swab yang dilakukan pasien. Artinya, belum tentu semua PDP positif covid-19. Dalam beberapa kasus, PDP dinyatakan sembuh dan negatif covid-19.

"Namum memang pentakziyah harus memenuhi protokol kesehatan yang ditetapkan. Selain itu masyarakat agar tak takut berlebihan dan tetap ikuti aturan serta protokol dari pemerintag," pungkas Wiwid.