Kondisi Mbah Ginten yang sedang duduk di depan rumahnya, yang berada di pelosok perkampungan Desa Pakem, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. (Foto: YouTube Cak Budi Official)
Kondisi Mbah Ginten yang sedang duduk di depan rumahnya, yang berada di pelosok perkampungan Desa Pakem, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. (Foto: YouTube Cak Budi Official)

MALANGTIMES - Lansia terlantar masih saja ditemukan di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Malang. Misalnya di Kecamatan Wajak, ada Mbah Ginten. Sesosok perempuan renta yang tunarungu dan hidup sebatang kara.

Lokasi rumah Mbah Ginten relatif jauh dari pusat keramaian Kecamatan Wajak. Wilayah tersebut, sebenarnya memang masih didominasi lahan perkebunan dan pertanian yang dikelola warga sekitar.

Baca Juga : Buku Sejarah Kuburan Londo Sukun Segera Dibuat, Ungkap 200 Tokoh

Dari Pasar Wajak, perjalanan masih harus di tempuh beberapa kilo ke arah timur. untuk sampai di rumah Mbah Ginten. Setelah menyusuri perkampungan dan lahan-lahan pertanian yang dikelola warga, sampailah di perkampungan yang dituju yang terletak di RT 04 / RW 14 Desa Pakem, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.

Terdapat beberapa rumah yang dipisahkan oleh hamparan kebun-kebun penduduk di perkampungan tersebut. Rumah Mbah Ginten pun berada di tengah perkebunan.

Dari jalan kampung, masih harus menyusuri jalan setapak yang lumayan jauh untuk sampai lokasi. Rumah Mbah Ginten merupakan rumah terakhir di pelosok kampung tersebut.

Jauh dari rumah penduduk lain, Mbah Ginten tinggal di bangunan sangat sederhana yang dikelilingi pepohonan sengon, pohon pisang dan tebing.

Saat dikunjungi, muncul dari dalam rumah sesosok nenek renta yang berjalan tertatih-tatih. Tak ada siapa pun selain Mbah Ginten di rumah tersebut.

Menggunakan Bahasa Jawa dengan sedikit kurang jelas karena efek usia yang sudah tua, Mbah Ginten tampak heran ada orang yang mendatangi huniannya.

Untuk pastinya, belum diketahui berapa usia beliau saat ini.

Saat ditemui, Mbah Ginten menuturkan bahwa dirinya sedikit mengalami penyakit sehingga tidak dapat mendengar dengan jelas.

"Kulo niki budheg (saya ini tidak bisa mendengar)," ujar Mbah Ginten.

Berulang kali, Mbah Ginten berkata tidak mempunyai uang sama sekali dan berharap agar diberi oleh dermawan tersebut.

Dia juga mengaku belum makan karena tidak ada tetangga yang memberi.

Untuk berkomunikasi dengan Mbah Ginten, orang harus dengan suara yang sedikit lebih keras dan menempel ke telinganya.

Mbah Ginten juga berkata bahwa dirinya di rumah sendiri.

"Ndek omah dewe (di rumah sendiri)," ucapnya, beberapa hari yang lalu saat ditemui di rumahnya.

Mbah Ginten juga mengutarakan bahwa dirinya hanya mempunyai pakaian satu pasang saja dan terlihat lusuh, dengan menunjukkan pakaian hitam sederhana yang ia kenakan.

"Klambi-klambi mek situk (pakaian-pakaian cuma satu)," ucapnya.

Rumah yang dia tinggali berukuran sekitar kurang lebih 4 x 4 meter persegi dengan kombinasi tembok batu bata di dinding bagian depan dan selebihnya berupa anyaman bambu.

Yang lebih miris, anyaman bambu tersebut sudah banyak yang jebol.

Dengan kondisi bilik anyaman bambu yang jebol ini, sangat rawan sekali hewan liar untuk masuk ke dalam rumah Mbah Ginten.

Tak hanya kondisi dinding yang memprihatinkan, lantai rumah pun hanya plesteran semen yang bercampur tanah.

Tampak dua kursi plastik, dua tempat duduk kayu, beberapa meja dan satu tempat tidur yang digunakan Mbah Ginten.

Jika dilihat, kondisi rumah tersebut jauh dari kata layak bagi seorang nenek yang sudah berusia senja tersebut.

Bisa jadi usia beliau mendekati angka 100 tahun dengan melihat kondisi raut wajah dan badan Mbah Ginten.

Di bagian belakang rumah, tampak meja yang di atasnya terdapat gelas dan piring.

Saat dilihat dalam piring yang ditutupi tersebut, terlihat kurang lebih seperti makanan yang dikerubungi semut dan kurang layak untuk dikonsumsi.

Tanpa ditanya, terdapat ucapan Mbah Ginten yang membuat semua orang sedih, kasihan dan terharu dengan kondisinya saat ini.

"Seumpomo mati mboten enten sing eruh (semisal meninggal tidak ada yang tahu)," ucap Mbah Ginten.

Baca Juga : Mengenal Narwastu, Tanaman yang Dicatat Alkitab dan Perawat Tanah Sakit

Mbah Ginten yang sedikit sulit untuk diajak berkomunikasi, membuat Mbah Ginten beberapa kali berbicara sendiri tanpa ditanya.

Sempat Mbah Ginten mengutarakan bahwa dirinya tidak sakit saat dirangkul terus oleh dermawan tersebut.

"Wong kulo mboten gering kok (orang saya tidak sakit kok)," ucap Mbah Ginten dengan tertawa.

Saat ditanya dengan kombinasi bahasa isyarat sudah makan apa belum, Mbah Ginten menjawab belum.

Pada waktu itu, jam menunjukkan Pukul 15.30 WIB dalam kondisi di pelosok kampung.

"Dereng, sinten sing ngekeki (belum, siapa yang mengasih)," jawabnya.

Akhirnya bergegas para dermawan itu membelikan makanan untuk Mbah Ginten.

Nasi dengan satu lauk yang tampaknya seperti perkedel.

Hanya dengan tiga suapan Mbah Ginten sudah merasa kenyang.

Mbah Ginten menyuruh agar menyisakan lauknya supaya dapat di makan kembali.

"Iwak mpun diguwak, segane mawon (ikannya jangan dibuang, nasinya saja)," ucap Mbah Ginten.

Saat diberikan bantuan sembako dan beberapa roti untuk dikonsumsi Mbah Ginten, beliau mengucapkan rasa syukur atas bantuan tersebut.

Mbah Ginten juga berkali-kali mengutarakan bahwa dirinya meminta untuk dibelikan pakaian untuk berganti tiap harinya.

"Sampeyan tumbasaken nggeh (kamu belikan baju ya)," ucapnya kepada dermawan tersebut.

Akhirnya dermawan tersebut bersama sang istri datang kembali ke rumah Mbah Ginten dengan membelikan pakaian, jilbab dan beberapa keperluan lainnya untuk digunakan oleh Mbah Ginten.

Mbah Ginten tampak bahagia sekali saat diberikan bantuan tersebut.

Menurut penuturan dermawan tersebut yang mendapat informasi dari pihak Pemerintah Desa, bahwa juga terdapat beberapa komunitas, instansi dan pihak Pemerintah Desa sendiri yang juga peduli dan memberikan bantuan untuk Mbah Ginten.

Menurut informasi warga, anak Mbah Ginten dalam kondisi yang kurang lebih sama alias hidup di bawah garis kemiskinan.

Dengan kondisi seperti itu, setiap harinya terdapat anak atau cucunya yang merawat Mbah Ginten.

Mbah Ginten telah memasuki usia yang sangat tua dan memiliki penyakit yang biasa dialami oleh orang yang telah berumur yakni penurunan kadar ingatan seseorang atau yang biasa dikenal dengan sebutan pikun atau pelupa.

"Mbahnya sudah pikun (pelupa) mas," ujar dermawan tersebut saat dikonfirmasi pewarta.

Dermawan tersebut mempunyai pegangan prinsip sebuah hadits agar dirinya terus berbagi kepada sesama, khususnya kepada nenek atau kakek yang telah lanjut usia yang sudah seharusnya diberi bantuan.

"Berbagi tiada henti, tebarkan manfaat. Khairunnas Anfa'uhum Linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia)," tulisnya dalam bio instagram dermawan tersebut.