Tanaman Narwastu yang dicatat dalam Alkitab sebagai bahan minyak bagi Yesus serta memiliki manfaat bagi tanah yang sangat banyak, khususnya dalam menghadapi bencana longsor. (Ist)
Tanaman Narwastu yang dicatat dalam Alkitab sebagai bahan minyak bagi Yesus serta memiliki manfaat bagi tanah yang sangat banyak, khususnya dalam menghadapi bencana longsor. (Ist)

MALANGTIMES - Kesuburan tanah Indonesia yang menghasilkan ragam tumbuhan berkhasiat sudah sejak dulu diendus bangsa-bangsa penjelajah Eropa. Salah satunya adalah narwastu atau rumput akar wangi.

Narwastu atau akar wangi atau nama latinnya Chrysopogon zizanioides syn. Vetiveria zizanioides, Andropogon zizanioides, Vetiver, merupakan salah satu yang jadi primadona.

Dengan berbagai khasiat yang dikandungnya, Narwastu pun pernah dicatat dalam Alkitab sebagai tumbuhan mahal yang diperkirakan senilai upah orang untuk hampir setahun di masa Yesus Kristus.

"Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Begitulah kalimat dalam Yohanes 12:5 serta dicatat pula dalam Kamus Alkitab karya Browning, W (2015). 

Dalam bahasa Ibrani, minyak narwastu disebut need, sedangkan orang Yunani menyebutnya nardos. Kisahnya juga bisa dilacak dalam Perjanjian Baru yang menceritakan seorang wanita mengurapi Yesus dengan minyak narwastu murni yang mahal harganya. 

Di Indonesia, minyak narwastu banyak dihasilkan dari tanaman akar wangi yang berasal dari Jawa Barat (Jabar). Di wilayah tersebut, tanaman akar wangi tumbuh subur dan jadi sentral produksi minyak akar wangi dengan kapasitas 89 persen untuk pasar Indonesia.

"Seorang perempuan datang kepada-Nya dengan sebotol guci pualam kecil berisi minyak wangi yang sangat mahal, dan perempuan itu menyiramkannya ke atas kepala Yesus ketika Dia sedang duduk makan," Matius 26:7. 

Mahalnya Narwastu dicatat pula dalam The Bible As History; 2nd Revised Edition, karya Werner Keller, yang menyampaikan untuk wadah-wadah minyak wangi itu pun merupakan benda mahal di zamannya.

"Wadah-wadah untuk minyak wangi yang sering kali sangat mahal ini telah ditemukan oleh para arkeolog di bawah reruntuhan tembok-tembok, di antara puing-puing rumah orang bangsawan, dan di istana raja," tulisnya.

Jejak panjang tanaman Narwastu itu, sayangnya terabaikan di tanah subur Indonesia ini. Walau banyak dijadikan produk dan dijualbelikan, tapi hanya sebatas untuk kepentingan pasar. Padahal dalam catatan Alkitab, Narwastu selain benda sangat mahal, juga merupakan minyak urapan kudus.

Seperti dicatat dalam Keluaran 30:25, "Kamu harus membuat minyak urapan kudus dari semua bahan itu, suatu campuran rempah-rempah yang dibuat oleh seorang ahli wewangian. Itulah yang akan menjadi minyak urapan kudus."

Narwastu kembali ramai diperbincangkan saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan instruksi kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB) untuk kembali menanamnya dalam upaya mencegah longsor dan erupsi di musim hujan saat ini.

Instruksi penanaman Narwastu yang berasal dari India ini, didasarkan pada berbagai manfaatnya dalam upaya mitigasi bencana. Tak hanya minyaknya yang bisa menghidupi para pelaku industri dari Narwastu ini, tapi hampir seluruh bagian tanaman ini memiliki manfaat.

Dilansir dari situs resmi BNPB, Narwastu yang akarnya jadi minyak Kudus era Yesus, memiliki banyak manfaat bagi lingkungan hidup. Bagian daunnya dapat bermanfaat menyerap karbon, selain untuk pakan ternak, mengusir hama, bahan atap rumah, dan bahan dasar kertas.

Akarnya tak hanya untuk dijadikan minyak wangi saja, tapi juga bermanfaat mencegah longsor dan banjir. Selain mampu memperbaiki kualitas air, melindungi infrastruktur, menyerap racun serta menyuburkan tanah.

"Juga sebagai pengikat tanah untuk jangka pendek. Karena akarnya kuat dan kencang seperti kawat baja, sehingga mampu mencengkram tanah. Ini berfungsi menjaga tanah agar tak longsor," ucap Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Agus Wibodo.

Tak heran Jokowi pun menginstruksikan agar tanaman Narwastu dikembangbiakkan di musim hujan ini dalam upaya menangkal longsor dan banjir diberbagai wilayah rawan bencana. Apalagi tumbuhan sejenis sereh ini sangat baik di tanam di awal musim hujan, walaupun bisa dilakukan setiap saat. 

Tanaman Narwastu ini juga merupakan tanaman yang cukup cepat tumbuh. Sedangkan untuk pemanenan akar wangi ini dapat dilakukan setelah tanaman berumur 8 bulan pada musim kemarau.

Melalui Narwastu, berbagai daerah khususnya yang memiliki topografi perbukitan dan pegunungan, seperti di Kabupaten Malang yang juga menjadi wilayah rawan bencana banjir dan longsor. Bisa menjadi salah satu solusi efektif untuk meminimalisir korban dari bencana hidrometeorologi ini.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Deden Girmansyah pun menyampaikan hal serupa. Tanaman Narwastu sangat efektif dalam menanggulangi longsor yang telah menjadi peristiwa tahunan di berbagai wilayah Indonesia.

Pasalnya, tanaman yang dipandang sebelah mata ini, mampu mengurangi erosi dan menstabilkan tanah yang terkikis. Serta disebut sebagai tanaman perawat pada tanah yang sakit. Mampu juga melembabkan dan memberikan nutrisi yang tersimpan pada tanah dan meningkatkan mikro lingkungan.

"Dari karakteristik tersebut, (tanaman) vetiver bisa disebut sebagai tanaman perawat pada tanah yang sakit," jelas Deden seperti dikutip kompas.com. 

Deden melanjutkan, sebagai tanaman perawat tanah yang sakit, Narwastu memiliki akar yang sangat dalam dan masif serta panjangnya mencapai 3-4 meter di tahun pertama. Hal ini yang membuatnya mampu mengikat tanah dan pada saat yang sama juga akar tersebut memungkinkan tanaman ini tetap kokoh meski diterjang arus yang deras.

"Akarnya yang dalam sekali dan cepat tumbuh juga membuat vetiver ini sangat toleran terhadap kekeringan dan sangat cocok untuk stabilisasi lereng curam," ucapnya.