Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

MALANGTIMES - Setiap hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan tentu memiliki cerita dan pembelajaran. 

Bukan melulu kisah yang menegangkan, beberapa hadits yang kemudian diriwayatkan oleh ahli hadits pun tak jarang yang membuat umat muslim tergelitik dan memetik pelajaran di balik kisah itu.

Baca Juga : Kisah Nabi Musa Melabrak Nabi Adam, Begini Akhir Ceritanya Versi Gus Baha

Salah satunya adalah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari. 

Dalam hadits itu, Rasulullah SAW berkata, "Barangsiapa taat kepadaku berarti dia taat kepada Allah. Dan barangsiapa durhaka kepadaku berarti dia durhaka kepada Allah. Barangsiapa taat kepada pemimpin yang aku tunjuk maka dia taat kepadaku. Dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin yang aku tunjuk berarti dia durhaka kepadaku,".

Dr. Khalid Zeed Abdullah Basalamah, Lc., M.A. atau lebih dikenal Khalid Basalamah menceritakan ada sebuah kisah yang melibatkan dua sahabat dari hadits tersebut. 

Kedua sahabat itu adalah Amr bin Ash ra dan Umar bin Khattab ra.

Saat itu, Amr bin Ash baru saja memeluk Islam kurang lebih tiga bulan. 

Lalu Amr bin Ash ditunjuk oleh Rasulullah untuk memimpin sebuah peperangan yang besar melawan suku Arab yang hendak melawan Madinah. 

Rasulullah menunjuk Amr bin Ash sebagai pemimpin dan di dalam pasukan terdapat beberapa sahabat lain seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, hingga Zubai bin Awwam.

Saat itu, ada sekitar 300 pasukan yang dipimpin Amr bin Ash. 

Pasukan berangkat menuju daerah yang cukup jauh dalam kondisi musim dingin. 

Saat tiba disebuah wilayah untuk berkemah, Amr bin Ash pun memerintahkan agar tak ada diantara pasukan yang menyalakan api.

"Lalu Umar bin Khattab protes, ini anak masih baru kemarin masuk Islam," cerita Ustadz Khalid Basalamah disambut tawa oleh jamaah yang datang.

Saat itu, Umar protes lantaran kondisi cuaca sangat dingin. 

Namun karena Amr bin Ash adalah pimpinan yang ditunjuk Rasulullah, maka perintah tersebut dipatuhi. 

Hingga akhirnya subuh datang, kisah baru pun muncul.

"Saat Subuh, Amr bangun dan dia baru saja mimpi junub. Padahal dia harus menjadi imam bagi pasukannya," tambah Ustadz Khalid Basalamah.

Saat itu, Amr meminta salah satu pasukannya membawa air dan ternyata sangat dingin. 

Lalu dia memutuskan untuk melakukan tayamum. 

Hal itu kembali menuai keberatan dari Umar dan meminta agar Amr tetap menggunakan air dan tak mandi besar. 

Namun, keputusan terakhir Amr adalah tayamum.

Umar kembali ingin marah, lalu Abu Bakar dengan bijak dan sabar mengingatkan Umar bahwa Amr adalah utusan Rasulullah.

Usai menjalankan salat subuh, pasukan pun diperintahkan Amr menyerang musuh dalam kondisi masih gelap. 

Amr mengintruksikan agar pasukan saat menyerang tak berjalan sendiri, melainkan bergandengan dan beriringan serta tak terpisah sampai akhir.

Baca Juga : Dua Pekan, PCNU Kabupaten Malang Lakukan Penyemprotan Disinfektan di 17 Ribu Titik

Strategi Amr bin Ash berhasil dan membuat musuh kocar-kacir berlarian. 

Namun saat pasukan dan para sahabat hendak menangkap tawanan, Amr menahan dan melarangnya. 

Dia kemudian meminta seluruh pasukan kembali ke Madinah.

Lagi-lagi, kebijakan dan perintah itu mendapat protes dari Umar. 

Pada akhirnya, seluruh pasukan kembali ke Madinah, dan setibanya di Madinah, Umar menceritakan semua kepada Rasulullah SAW

Saat itu juga, Rasulullah SAW mempertanyakan setiap kebijakan itu kepada Amr. 

Pada pertanyaan pertama berkaitan dengan larangan menyalakan api, Amr pun menjawab jika itu untuk melindungi pasukan yang jumlahnya tak seberapa dan kalah banyak dari suku yang hendak diserang.

Karena ketika menyalakan api, keberadaan pasukan akan diketahui oleh musuh. 

Kondisi itu pun ditakutkan akan membuat pasukan yang dipimpin Amr bin Ash kocar-kacir sebelum melakukan peperangan.

"Hal itu dibenarkan Rasulullah," tambah Ustadz Khalid Basalamah.

Lanjut pada pertanyaan ke dua yaitu berkaitan dengan Amr yang junub dengan cara tayamum, sementara dalam kondisi ada ari. 

Amr menjawab jika cuaca sangat dingin, dan ketika ia memaksakan mandi khawatir akan membuat ia tumbang dan sakit. 

Padahal, ia ditunjuk Rasulullah sebagai pemimpin.

Jawaban Amr tersebut pun kembali dibenarkan Rasulullah dan diterima oleh para sahabat.

Kemudian berkaitan dengan perintah Amr yang melarang pasukan menangkap tawanan, Amr menjawab lantaran jumlah musuh lebih besar.

Ketika dipaksakan merangsek mengejar, maka musuh akan mengetahui jumlah pasukan Amr dan akan membuat kocar-kacir.

Dia pun menyebut jika pasukan yang ia pimpin sidah memenangkan peperangan dan membuat musuh ketakutan. 

Sehingga hal itu ia sebut sudah cukup. Pendapat Amr selanjutnya kembali dibenarkan oleh Rasulullah.

Itulah sedikit kisah berkaitan dengan hadits Rasulullah SAW. Semoga bermanfaat.