Indra Binatang (Begundal Lowokwaru) dan Natalius (Tendangan Badut). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Indra Binatang (Begundal Lowokwaru) dan Natalius (Tendangan Badut). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Sejak tahun 2013, Hari Musik Nasional selalu diperingati pada tanggal 9 di Bulan Maret. Penentuan tanggal ini disamakan dengan hari lahir Wage Rudolf Supratman seorang pengarang dan pencipta lagu tersohor di Indonesia, yang terkenal dengan lagu ciptaannya berjudul Indonesia Raya. 

Penentuan tanggal ini juga ditetapkan dengan Kepres (Keputusan Presiden) Nomor 10 Tahun 2013 tentang Hari Musik Nasional.

Baca Juga : Sambut HUT ke 106, Wali Kota Sutiaji Ajak Masyarakat Ukir Sejarah Lewat "Malang Bercerita" Bersama MalangTIMES

Bagaimana kehidupan musik, khususnya jenis aliran rock maupun underground di Malang? Di Mata Indra Binatang, gitaris Begundal Lowokwaru sebutan untuk Kota Malang sebagai barometer musik rock Indonesia kuranglah tepat. 

Dia menyatakan tidak sepakat dengan adanya sebutan tersebut. "Nggak sepakat, karena kalau barometer berarti tolak ukur. Tetapi secara pasar dan kenyataannya pola-pola musik Malang tidak mencapai Nasional banget. Tapi kalau bagian dari mata rantai industri musik Nasional itu penting, untuk musik Rock khususnya," kata  Indra kepada pewarta Senin (9/3/2020).

Indra menyatakan, jika disebut sebagai barometer musik Rock Indonesia, terdapat pertanyaan. "Berapa banyak band Malang yang mengeluarkan, merilis album di tahun 80-an?," tanya dia. 

Baca Juga : 14 Tahun Pasca Penetapan UNESCO, Senapati Nusantara Desak Pemerintah Tetapkan 25 November Jadi Hari Keris Nasional

Menurut Indra  jika disebut sebagai barometer penonton musik Rock, ia masih menyepakatinya. Mungkin barometer penonton musik Rock era 80-an, karena di sini orangnya lebih selektif," tambah Indra.

Indra Binatang yang juga mempunyai label rekaman yang digagasnya secara mandiri yaitu Fukyu Records. Dari Fukyu Records ini, telah merilis album maupun mini album dari beberapa band-band lokal Malang dan juga dari daerah lain. Antara lain Skatoopid, Screaming Factor, Anniverscary, S.A.T.C.F., Richcracker, Heavy Monster (Surabaya) Romi and The Jahat (Jakarta), Sentimental Moods (Jakarta), Kawaniku (Pasuruan).

Indra juga menjelaskan mengenai ekosistem musik yang harus dilalui oleh seluruh pegiat musik Undergorund di semua wilayah. "Ideologi Underground itu kan Do It Yourself atau mandiri. Jadi kita harus mandiri dalam merilis album sendiri, menginisiasi gigs sendiri, membuat bacaan dalam bentuk zine, serta disebar luaskan melibatkan seluruh aspek pegiat musik," tandas Indra.

Indra juga memberikan pernyataan agar musisi dapat dinilai produktif dengan merilis album atau mini album yang dikemas dalam format rilisan fisik yang jelas dan nyata. Indra memberi perumpamaan seperti orang jualan rawon. "Tulisannya warung rawon, tapi besok dan lusa nggak jualan, ya otomatis kan orang mengira, oh ini sudah nggak ada. Seperti band juga kalau nggak ada rilisannya orang mengira juga nggak ada dan itu banyak menimpa band-band di Malang," tambahnya.

Indra juga memberikan pernyataan bahwa musik Underground di Malang sudah diperhitungkan. "Kalau dari skala Nasional, musik Independen ya, mungkin kita salah satu yang diperhitungkan," ucapnya.

Indra juga ditemani seorang pegiat musik Underground dari Kota Solo yaitu Natalius dari band Tendangan Badut. Natalius juga memberikan pesan untuk semua pegiat musik. "Dalam rangka Hari Musik Nasional antar musisi jangan saling menjegal, tunjukkan bahwa kita musisi Indonesia itu mampu dan dapat bersaing dengan musisi luar negeri," ucap Lius.

Natalius juga menambahkan bahwa pegiat musik harus terus maju, berkarya sebanyak-banyaknya dan tunjukkan bahwa kreativitas musisi Indonesia dapat memberikan pengaruh pada belantika musik dunia.