Inilah sosok Rafa, balita 3,5 tahun sesaat sebelum dikabarkan hilang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Inilah sosok Rafa, balita 3,5 tahun sesaat sebelum dikabarkan hilang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Aura kesedihan terpancar dari raut wajah Poniem warga Perumahan GPA (Griya Permata Alam), Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, saat wartawan berkunjung kerumahnya.

Beberapa hari setelah cucunya dinyatakan hilang, Jumat (14/2/2020), wanita paruh baya tersebut memilih sibuk menghidangkan masakan bagi tim SAR dan relawan yang berupaya mencari keberadaan Moh Rafa Alfaris, cucu Poniem.

Baca Juga : Ditemukan Sepatu, Kaus Kaki, Topi di Dekat Hilangnya Pendaki Gunung di Kota Batu

Selain melakukan upaya pencarian dengan melibatkan relawan, Poniem beserta keluarga besarnya juga sibuk menata sesajen guna mengupayakan balita 3,5 tahun itu kembali.

”Penyebab hilangnya Rafa Ada 3 kemungkinan, takutnya kalau hanyut terbawa arus sungai, diculik atau dibawa makhluk halus,” celetuk Poniem sembari meletakkan tiga batang dupa yang menyala, tepat didepan sudut rumahnya.

Hingga hari ini (Jumat 14/2/2020) sore, petugas gabungan dari Polsek dan Koramil Karangploso, PMI Kabupaten Malang, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), SAR, serta beberapa relawan dan dibantu warga, dikerahkan untuk melakukan pencarian keberadaan Rafa.

Pihak kepolisian menduga, jika korban hilang karena terbawa arus drainase di depan rumah neneknya yang saat itu luber karena diguyur hujan, Senin (10/2/2020) petang. ”Iya, kami mengira jika Rafa tenggelam ke selokan. Soalnya saya hanya menemukan payung kecil yang dipakai Rafa dalam posisi terbalik di dekat selokan itu (depan rumah),” ucap Poniem sembari menunjuk tempat dimana korban diduga hanyut.

Namun, lanjut Poniem, jika melihat kondisi selokan yang hanya memiliki lebar kurang dari 1 meter, dan material drainase yang hanya memiliki lubang tidak lebih dari 70 sentimeter. Membuat warga dan pihak keluarga berasumsi jika kecil kemungkinan Rafa bisa hanyut.

”Sebelum dibongkar, selokannya memang hanya berukuran kecil. Itupun banyak bebatuan dan batang pohon yang menyumbat saluran selokan. Kami tidak bisa memastikan, tapi kemungkinan hanyut bisa saja, soalnya pas kejadian sedang banjir dan arusnya deras,” lugas Poniem.

Jika melihat kondisi fisik selokan yang sempit, lanjut Poniem, besar kemungkinan tubuh Rafa tersangkut jika memang hanyut terbawa arus deras dari air banjir. ”Paling hanya 5 menit, setelah Rafa keluar rumah saya langsung mencarinya. Ketemunya hanya payung yang sudah terbalik, saya langsung lari ke bawah. Jarak antara penemuan payung (lokasi diduga korban hanyut) dengan sungai Bodo hanya 15 meteran,” jelas Poniem.

Wanita 47 tahun itu ingat betul, saat dirinya berteriak minta tolong dan tiba di kawasan Sungai Bodo yang ada disekitar rumahnya. Disana ada 3 orang pemuda yang sedang beraktifitas di sungai tersebut.

”Saya minta tolong cari Rafa yang hanyut, tapi tidak ada yang nemu. Mereka bertiga mengatakan tidak ada balita yang hanyut saat mereka di sungai,” terang Poniem sembari mengatakan dirinya langsung lapor ke Polsek Karangploso saat memastikan Rafa tidak ditemukan di selokan dan Sungai Bodo.

Sederet keanehan itulah yang membuat pihak keluarga beserta warga setempat berasumsi jika balita 3,5 tahun itu hilang dibawa wewe gombel (makhluk halus).

Merujuk pada Wikipedia, wewe gombel dalam tradisi jawa digambarkan sebagai hantu berwujud nenek-nenek yang gemar menculik anak-anak. Biasanya, seorang anak yang ditelantarkan oleh keluarganya menjadi sasaran utama mahkluh halus tersebut.

Sebagai informasi, dari penelusuran wartawan Rafa bisa dikatakan sebagai anak dari korban broken home. Sebab, selain kedua orang tuanya bercerai, nenek yang membesarkannya juga telah berpisah dengan suaminya.

Hal itulah yang membuat warga setempat berspekulasi jika Rafa dibawa oleh wewe gombel. Bahkan, selain sibuk menyiapkan sesaji berupa dupa, kopi, dan hidangan khas sesajen. Keluarga dan warga sempat mencari Rafa dengan metode adat, yakni dengan cara memukul peralatan dapur berupa wajan, panci, dan baskom dengan menggunakan sotil dan sendok.

Cara tradisi tersebut dilakukan sembari meneriakkan nama Rafa, saat mengelilingi lokasi yang diangap tempat persembunyian bagi wewe gombel. Dari informasi yang diperoleh wartawan, warga yang tinggal di lokasi kejadian beranggapan ada satu rumah dan dua gudang yang dianggap sebagai tempat angker.

Selain sudah lama tidak berpenghuni, bangunan tua yang sudah ditumbuhi tumbuhan hama setinggi orang dewasa tersebut juga sudah lama mangkrak. Bahkan, tepat didepan rumah nenek Rafa, terdapat pemakaman umum yang cukup luas.

Beberapa tempat itulah yang dijadikan sasaran warga untuk mencari keberadaan Rafa dengan cara adat. Yakni memukul alat dapur sembari meneriakkan nama Rafa agar segera pulang, jika memang dibawa makhluk astral.

”Ritual semacam ini hanya sebagai wujud usaha, semoga tim SAR yang mencari keberadaan Rafa diberi kemudahan dan segera menemukannya,” ungkap Poniem.

Wanita yang berusia lebih dari kepala 4 tersebut, juga beranggapan jika ada kemungkinan Rafa telah diculik. Sebab, saat menjelang adzan magrib, Poniem dan tetangganya memilih untuk menutup rapat pintu rumahnya.

Baca Juga : Lari seperti Kesurupan, Pendaki Hilang di Gunung Buthak Panderman Batu

Kondisi sepi itulah, yang membuat Poniem beranggapan jika cucunya telah diculik. ”Pas kejadian situasi sepi, kan sekitar jam 5 (petang) itu. Apalagi cuaca sedang hujan, jadi sangat sepi,” tegasnya.

Kepada wartawan, Poniem sempat bercerita beberapa kejanggalan yang terjadi sesaat sebelum Rafa menghilang. Sejak Senin (10/2/2020) pagi, cucunya tak pernah berhenti merengek untuk minta dibuatkan wedang gula (minuman hangat yang dicampur gula).

”Dia itu sudah berhenti minum susu, biasanya hanya minta air putih untuk di dot. Sehari bisa habis 2 botol dot. Tapi sebelum kejadian, Rafa selalu memaksa minta dibuatkan wedang gula, sebelumnya tidak pernah seperti itu,” terang Poniem.

Semula, permintaan sang cucu tersebut tidak dituruti. Hingga akhirnya, sekitar pukul 12.00 WIB, Rafa terlihat tidur pulas usai merengek minta dibuatkan wedang hangat.

Menjelang sore, balita 3,5 tahun itu bangun. Bocah yang gemar kesenian jaranan ini, kemudian mengambil atribut kuda yang kemudian memutar video dari kepingan vcd tentang tarian kesenian jaranan, yang kemudian mengikuti gerak gerik si penari tersebut.

”Cucu saya itu suka sekali jaranan, meskipun seharian nonton video jaranan dia kuat. Selain jaranan dia juga gemar nonton serial Upin dan Ipin, sudah dua itu kegemarannya memang. Setiap hari ya itu yang ditonton,” klakar Poniem.

Sekitar 45 menit sebelum adzan magrib berkumandang, lanjut Poniem, Rafa kembali merengek agar dibuatkan wedang hangat. Tak tega melihat cucunya menangis, Poniem akhirnya pergi ke dapur untuk menyalakan kompor guna memasak air.

Usai kompor menyala, Poniem pergi ke kamar mandi untuk buang air. Selama 5 menit ada di ruang belakang, sang nenek mulai menaruh curiga lantaran tidak ada suara merengek lagi dari mulut Rafa.

Bergegaslah Poniem berlari ke ruang depan, dan saat tiba di ruang utama keluarga hanya ada televisi yang menyala tanpa adanya Rafa. ”Kondisi pintu sudah terbuka, padahal saya ingat betul kalau sudah saya kunci. Bahkan pagar depan rumah juga sudah saya kunci, soalnya sudah mau magrib dan hujan,” tegas Poniem sembari mata berkaca-kaca.

Mengetahui hal itu, sang nenek berteriak memanggil nama cucunya. Ketika itu, Rafa masih sempat menjawab panggilan neneknya. Dia berkata kalau ingin pergi ke rumah Pak Dhe-nya (paman).

”Saya mengira kalau dia benar-benar pergi ke rumah adik saya (pak dhe Rafa), setelah mematikan kompor saya langsung keluar rumah mencari cucu saya,” sambung Poniem.

Jarak antara rumah Poniem dan adiknya tidaklah jauh, hanya terpaut 1 bangunan gudang dan 1 rumah. ”Pas saya kesana (rumah pak dhe Rafa), adik saya memang bilang jika Rafa sempat mampir. Tapi hanya minta kerupuk 2 (biji), setelah itu pergi,” keluhnya.

Meski sudah dilarang dengan dalih hujan dan sudah malam, nyatanya Rafa tetap pergi meninggalkan tempat tinggal pak dhe-nya tersebut. ”Sudah dilarang (pergi), tapi karena sibuk membenahi rumah yang bocor saat hujan, akhirnya adik saya tidak mengejar Rafa. Biasanya memang sering main kesana (rumah pak dhe),” jelas Poniem.

Kini sang nenek dan dan keluarganya, hanya bisa pasrah saat mendapat kabar petugas SAR yang melakukan pencarian belum menemukan keberadaan Rafa. Hingga memasuki hari ke-5 paska dinyatakan hilang, Poniem hanya bisa meratapi kesedihannya.

Wanita yang nyaris berusia setengah abad tersebut, berandai-andai jika saja dibuatkan wedang anget. Mungkin Rafa tidak akan hilang karena permintaannya sudah dituruti. ”Namanya juga musibah, yasudahlah semoga lekas ditemukan,” ujarnya sembari meneteskan air mata dan suara yang sudah serak lantaran dirundung pilu.