Jalan Ki Ageng Gribig. (Foto: Pipit Anggraeni/MalangTIMES)
Jalan Ki Ageng Gribig. (Foto: Pipit Anggraeni/MalangTIMES)

MALANGTIMES -  Embung-embung atau bozem yang ada di Kota Malang telah banyak dialihfungsikan menjadi gedung-gedung. Ada juga danau yang dihilangkan. Selain itu, sungai-sungai dipersempit dan digeser demi pembangunan. Itu artinya, tata ruang sudah dilanggar.

Baca Juga : Terkuak, Data Petani Terkena Limbah Greenfields Sejak Tahun Lalu Telah Dilaporkan, Tapi...

Akibatnya, banjir tak dapat dibendung di beberapa titik di Kota Malang. Beberapa di antaranya di Jalan Bondowoso, Jalan Galunggung, Jalan S. Parman, Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Panji Suroso, dan lain-lain.

"Bisa Malang itu menjadi kota banjir," ujar Pakar Arsitektur Kota dan Ahli Tata Ruang Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Ir Budi Fathony MTA.

Penyebab utama yakni lantaran banyaknya pengembang properti yang tidak memperhatikan tata ruang.

"Tingkat parahnya menurut saya sekitar 20 persen," timpalnya.

Kabar buruknya, selain kawasan-kawasan yang saat ini kerap disambangi banjir, daerah Ki Ageng Gribig bisa jadi sasaran banjir yang selanjutnya.

"Mungkin daerah-daerah Timur seperti Jalan Kembar Gribig itu. Itu kan belum pernah kelihatan. Nanti kalau sudah berkembang pertokoan, perdagangan, bisa jadi. Apalagi dengan adanya tol," papar pria berkacamata ini.

Sebab, dengan adanya tol, tentu nanti akan bermunculan pembangunan-pembangunan gedung baru.

"Padahal yang di sebelah timurnya itu kan ada sungai Bangau (Amprong). Itu masalah," timpalnya.

Sementara itu, adanya ruang terbuka hijau di Kota Malang menurut Budi kini hanya tersedia kurang dari 10 persen. Dua di antaranya yakni taman boulevard Jalan Ijen dan taman Jalan Bandung. Padahal, idealnya, suatu kota memiliki ruang hijau sebesar 20 persen.

Baca Juga : Hama Tikus Bikin Buntung, Dinas Pertanian : Alat Bantuan Masih Terkendala Lelang

"Kalau ruang terbuka hijau memang mencarinya sampai 20 persen," katanya.

Soal ruang terbuka hijau, Budi menyarankan, material pedestrian di boulevard Jalan Ijen seharusnya dipasang material tembus sehingga air hujan bisa meresap. Ia juga menyesalkan adanya masyarakat yang melewati pedestrian dengan sepeda. Hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat yang masih rendah.

"Perlu dilakukan edukasi," katanya.

Ditambah lagi, lanjutnya, perlu edukasi juga terhadap PKL yang kerap membuang limbahnya ke selokan.

"Pada saat musim kemarau ini perilaku PKL, terutama yang kuliner malam hari itu limbahnya dibuang di selokan pada saat musim kemarau. Ketika musim kemarau itu limbahnya mengeras kan campuran bumbu dan segalanya," pungkasnya.

BACA JUGA: Menelisik Penyebab Banjir di Kota Malang, Marak Pembangunan Langgar Tata Ruang