Genangan air di kawasan Jl. Veteran saat hujan deras (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Genangan air di kawasan Jl. Veteran saat hujan deras (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Akhir-akhir ini, Kota Malang kerap dilanda banjir ketika hujan lebat. Sejumlah titik yang kerap terendam banjir di antaranya Jalan Bondowoso, Jalan Galunggung, Jalan S. Parman, Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Panji Suroso, dan lain-lain.

Lantas apa yang salah dari Kota Malang sehingga mengakibatkan banjir di mana-mana? Pakar Arsitektur Kota Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Ir Budi Fathony MTA menyatakan, tata ruang Kota Malang sudah dilanggar.

"Saya selalu mengatakan itu sejak 10 tahun yang lalu ketika perkembangan Kota Malang ini sudah tidak bisa diatasi dalam hal tata ruang, karena memang tata ruang sudah dilanggar," ucapnya.

Pelanggaran itu terjadi di beberapa wilayah. Pertama, embung atau bozem di Gedung Pulosari yang diubahfungsikan menjadi gedung supermarket Giant.

"Yang kedua, perumahan mewah yang di belakang museum (Museum Brawijaya). Itu yang di belakang museum dekat dengan Jalan Wilis yang paling barat itu kan dulu ada satu danau," sambung Budi.

Lalu, dulu sekitar tahun 90, ada sungai besar yang membentang dari barat ke timur di sekitar Perumahan Griya Shanta, dan kini telah dipersempit. Selanjutnya yakni perumahan di sekitar Rumah Makan Ringin Asri.

"Awal-awalnya tahun 90-an itu sudah saya sampaikan, perumahan itu jangan sampai menggeser sungai. Sungai kan digeser ke utara. Akhirnya korbannya (banjir) kan ringin Asri," ungkapnya.

Ahli Tata Ruang, Pakar Arsitektur Kota Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Ir Budi Fathony MTA.

Ditambah lagi, kata Budi, sistem drainase sudah tidak pernah dievaluasi setiap lima tahun sekali. Hal ini tentu menjadi masalah.

"Kasusnya adalah, Kota Malang itu kan ketinggiannya 444 meter dari muka air laut, kok bisa ketika musim hujan air itu larinya ke mana kan nggak jelas. Dan ini tidak pernah ada tindakan-tindakannya," bebernya.

Nah, perkembangan Kota Malang yang tidak bisa dihambat ini bagi Budi sangat memprihatinkan. "Pengembang itu tidak pernah patuh terhadap tata ruang kota dan ini terus berkembang," ucapnya.

Dikatakan Budi, ketika ada pembangunan baru, entah pembangunan komersil atau pembangunan perumahan properti, masyarakat hampir tidak pernah dilibatkan. Tahu-tahu, lahan itu dibeli oleh properti dan dibangun.

"Kasus ini udah cukup lama, 10 tahun yang lalu. Sukanya properti itu berada di pinggiran sungai," katanya.

Untuk itu, Budi berpesan kepada para pengembang, bahwa mereka harus patuh terhadap tata ruang dan memperhatikan kondisi geografis lahan yang dibangun.

"Jangan melangkah di lapangan ketika memang ini belum deal. Yang namanya properti pengusaha ini hampir rata-rata nggak mau tahu soal tata ruang," tegasnya.

"Sebetulnya di Indonesia itu tidak ada satu kota yang tidak ketat terhadap aturan. Tata ruang terutama. Tapi main belakangnya itu loh yang tidak tahu. Tahu-tahunya muncul di lapangan. Jadi kayak bom waktu," pungkasnya.