H Mustafid Abdurrahman selaku pengelola sekaligus pengasuh yayasan LKSA Darul Aitam, saat ditanya terkait tuntutan jaksa pembunuh begal (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
H Mustafid Abdurrahman selaku pengelola sekaligus pengasuh yayasan LKSA Darul Aitam, saat ditanya terkait tuntutan jaksa pembunuh begal (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Suasana pesantren begitu kental saat MalangTIMES.com berkunjung ke Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Aitam, Rabu (22/1/2020).

Baca Juga : Keluarkan Surat Edaran, Mulai Besok Bupati Malang Minta Warga Tidak Keluar Rumah

Sebelum tiba di Yayasan yang berlokasi di Jalan Raya Klakah, Desa Patokpicis, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang tersebut, di sepanjang jalan yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi Darul Aitam nampak beberapa orang yang mengenakan pakaian Islami.

Mulai dari pria yang mengenakan busana koko, hingga wanita yang mengenakan pakaian serba hitam serta niqab (cadar, sejenis kain penutup wajah) nampak berseliweran di kawasan LKSA Darul Aitam.

Iya, itulah gambaran lokasi LKSA Darul Aitam, tempat yang sempat dibacakan dalam tuntutan jaksa terhadap ZA, terdakwa kasus pembunuhan begal, Selasa (21/1/2020).

”Di yayasan kami ini ada banyak, ada Pondok Pesantren (Ponpes) ada juga panti asuhannya (LKSA). Yayasan pondok pesantren namanya Al-Huda, ini sudah berdiri sekitar tahun 1955, yang mendirikan ayah dari istri saya (mertua). Kemudian sekitar tahun 1980, saya mendirikan panti asuhan. Namanya Darul Aitam,” terang H Mustafid Abdurrahman selaku pengelola sekaligus pengasuh Ponpes Salafiyah Al Huda dan LKSA Darul Aitam, saat ditemui wartawan ketika berada di kediamannya, Rabu (22/1/2020).

Hingga saat ini, sudah ada sekitar 1.500 santri yang menimba ilmu di Ponpes Al Huda. 

Dimana 650 santri diantaranya tinggal di dalam Ponpes, sedangkan sisanya merupakan santri yang berasal dari masyarakat sekitar Ponpes.

”Santrinya laki-laki dan perempuan, selain Malang juga ada santri yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga luar jawa. Tapi kebanyakan santri di sini berasal dari Jawa Barat, Cirebon dan Indramayu,” jelas Mustafid kepada MalangTIMES.com.

Selain dibekali ilmu agama, para santri juga dibekali dengan ilmu pendidikan formal maupun non formal. 

Terkait bidang pendidikan formal, terdapat yayasan pendidikan mulai dari RA (Raudhatul Athfal) atau dikenal TK (Taman Kanak-kanak), MI (Madrasah ibtidaiyah) setara SD (Sekolah Dasar), Madrasah tsanawiyah (MTs) setara SMP (Sekolah Menengah Pertama), MA (Madrasah Aliyah) setara SMA (Sekolah Menengah Atas), dan ada juga SMP dan SMA. 

”Semua santri di sini mengikuti ujian negara (Ujian Akhir Nasional),” kata Mustafid.

Sedangkan untuk pendidikan non formal, ada TPQ (Taman Pendidikan Qur'an), Madrasah Diniyah, Tahfidz Al-quran, pelajaran kitab kuning, pendidikan dakwah, hingga balai pelatihan kerja.

”Kalau kegiatan keagamaan, berlangsung setelah salat berjamaah maghrib, isya, subuh, duhur, dan ashar,” jelas Mustafid.

Sementara itu, jika benar tuntutan Jaksa terhadap terdakwa pembunuh begal di dok (vonis) oleh Majelis Hakim maka ZA kemungkinan besar akan menjadi santri di LKSA Darul Aitam ke 66.

”Kalau saya tidak salah menyebut, InsyaAllah yang ditampung di panti asuhan (LKSA) saat ini sudah ada 65 anak. Sebanyak 45 adalah laki-laki (santri) sedangkan sisanya perempuan (santriwati),” terang Mustafid.

Dari penelusuran MalangTIMES.com, jika memang vonis hakim memutuskan ZA dibina pada LKSA Darul Aitam dimungkinkan remaja belasan tahun itu bakal menghuni kamar di bangunan depan yayasan. 

Baca Juga : Polisi Akui Kejahatan Jalanan Kota Malang Meningkat Usai Program Asimilasi

Dalam bangunan 2 lantai tersebut, terdapat beberapa ruang kamar yang ditempati oleh santri dari LKSA Darul Aitam. 

”Tempat panti asuhan ada di bangunan depan dan disini (tengah yayasan). Santri panti asuhan kebanyakan memang masih remaja, tapi kalau rentang usia mulai TK sampai kuliah ada,” ujar Mustafid.

Di sela obrolan, pria yang berusia sekitar 60 an tahun itu, menuturkan jika dirinya hendak menghadiri agenda pengajian. 

Sebelum meninggalkan ruang tamu yang berukuran sekitar 4 x 4 meter tersebut, Mustafid mengaku belum mendengar adanya kabar jika ZA hendak diserahkan ke LKSA Darul Aitam untuk pembinaan.

”Biasanya dari Dinsos (Dinas Sosial), anak punya masalah kirim kesini (LKSA). Tapi kalau kabar persidangan di Pengadilan Kepanjen (kasus ZA) saya tidak tau,” jelasnya.

Namun, jika benar ZA dibawa ke LKSA Darul Aitam, Mustafid meminta agar pelajar kelas XII SMA tersebut, datang dengan didampingi wali (orang tua) dan membawa berkas biodata. 

”Tidak terlalu detail, KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga), mungkin hanya itu saja (syaratnya). Syukur-syukur sebelum kami bina datang ke sini dengan didampingi orang tuanya,” terangnya.

Mustafid terlihat sedikit kaget, ketika wartawan menjelaskan jika proses persidangan yang dijalani ZA merupakan kasus pembunuhan pelaku begal. 

Menurutnya, kebanyakan santri LKSA yang dia bina merupakan anak dengan kasus kenakalan remaja. 

”Kalau anak yang kasus hukum (seperti ZA) belum pernah, yang masuk sini pernah ada itu, anak yang kena kasus narkoba,” sambung Mustafid.

Meski terkesan kaget, namun Mustafid mengaku siap jika memang sudah menjadi ketetapan. 

”Jika benar (diarahkan untuk dibina di Darul Aitam), Insyaa Allah siap. Asal penyerahan dari Dinsos (resmi),” pungkasnya.