Salah satu mobil yang mengalami tragedi aquaplaning saat melintas di ruas jalan tol yang menghubungkan Malang menuju Pandaan (Foto : Dokumen MalangTIMES)
Salah satu mobil yang mengalami tragedi aquaplaning saat melintas di ruas jalan tol yang menghubungkan Malang menuju Pandaan (Foto : Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Curah hujan dengan intensitas tinggi diprediksi akan terjadi di sepanjang bulan Januari hingga Febuari mendatang. Terkait hal itu, Satlantas Polres Malang menghimbau kepada pengguna jalan agar senantiasa waspada dan berhati-hati saat berkendara. Terutama terhadap potensi insiden Aquaplaning.


 

Kasat Lantas Polres Malang, AKP William Thamrin Simatupang, menjelaskan jika yang dimaksud dengan Aquaplaning atau yang juga dikenal dengan istilah hydroplaning ini, merupakan kondisi dimana ban kendaraan tidak menapak pada permukaan aspal. Sedangkan penyebabnya karena kendaraan melintas diatas genangan air.


 

”Aquaplaning ini bisa menimpa pada semua jenis kendaraan. Ban yang tidak menapak pada permukaan jalan karena terhalang lapisan genangan air tersebut sangat berbahaya, sebab kendaraan cenderung lebih sulit untuk dikendalikan. Akibatnya bisa berdampak pada kecelakaan, bahkan bisa vatal dan berujung menyebabkan pengguna jalan meninggal dunia,” terang anggota polisi yang akrab disapa William ini.


 

Masih menurut William, insiden Aquaplaning ini tidak selalu terjadi saat hujan. Namun paska hujan yang masih menyisakan genangan air di permukaan jalan juga bisa menyebabkan tragedi Aquaplaning.


 

”Insiden ban yang seolah melayang ini tidak selalu terjadi saat kendaraan melintasi genangan air yang cukup dalam. Walau genangan air-nya dangkal dan bahkan hanya nampak aspal yang basah sekalipun, juga bisa mengakibatkan tragedi Aquaplaning,” jelas William.


 

Tragedi semacam ini pernah dialami oleh pengemudi mobil Mitsubishi Pajero nopol N-48-RI, yang melintas di ruas jalan Tol Mapan (Malang-Pandaan), pada pertengahan bulan Desember 2019 lalu.


 

Saat itu mobil yang dikemudikan Razqi Billah warga Jalan Batavia Golf Bulevard, Desa Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang ini mengalami kecelakaan di kilometer 78 pada kawasan jalan tol Mapan yang berlokasi di wilayah Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.


 

Dari olah TKP (Tempat Kejadian Perkara) dan hasil pendalaman petugas, permukaan jalan yang basah saat dilalui pengemudi tersebut, diduga kuat menyebabkan aquaplaning dan berujung pada insiden kecelakaan. ”Dari keterangan pengemudi, saat melintasi lokasi kejadian mobil tidak bisa dikendalikan. Akibatnya mobil tersebut menghantam rambu jalan sebelum akhirnya terguling,” tutur William.


 

Atas insiden kecelakaan yang dipicu tragedi aquaplaning ini, menyebabkan satu orang penumpang meninggal dunia. Sedangkan pengemudi dan keempat penumpang lainnya mengalami luka serius dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.


 

”Hal yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi aquaplaning adalah faktor kecepatan, jangan kebut-kebutan saat melintasi genangan air atau bahkan saat melintasi permukaan jalan yang hanya terlihat basah setelah diguyur hujan,” imbau William.


 

Perwira polisi dengan pangkat tiga balok dibahu ini menjelaskan, saat kendaraan dengan kecepatan tinggi melintas diatas permukaan genangan air. Maka hukum alam akan berlaku, yakni gelombang air akan berkumpul di depan ban. Dampaknya air akan semakin keras dan menyebabkan ban tidak menapak pada permukaan jalan. Jika sudah demikian, maka kendaraan akan susah dikendalikan meskipun kemudi sudah dibelokkan. Bahkan kendaraan akan tetap melaju walau si pengendara berupaya menghentikan kendaraannya dengan cara mengeremnya.


 

”Selain memperhatikan faktor kecepatan, kondisi ban juga harus dipastikan dalam keadaan baik dan tebal (tidak aus dan tipis). Selain itu, tekanan udara didalam ban juga harus diperhatikan, jangan terlalu penuh saat mengisi udara. Tujuannya agar daya cengkram ban bisa maksimal,” sambung William.


 

Namun apa yang harus dilakukan jika pengguna jalan mengalami aquaplaning. William menyarankan jika poin utama yang harus dilakukan adalah tetap tenang. Setelah itu langkah selanjutnya adalah mengurangi panel gas kendaraan secara perlahan. Jika sudah demikian, secara bertahap ban akan kembali menapak ke permukaan jalan dan kondisi kendaraan akan kembali normal.


 

”Jangan merubah laju arah kendaraan secara mendadak, apalagi terburu-buru menekan rem. Sebab langkah semacam itu justru tidak akan berpengaruh, yang ada kendaraan malah semakin tidak terkendali,” tutup William yang juga pernah menjabat sebagai Kasat Lantas Polres Ponorogo ini.