Suasana di dalam Gereja Katedral Malang, salah satu gereja Kristen Katolik di Malang yang sudah ada sejak masa kolonial Belanda (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Suasana di dalam Gereja Katedral Malang, salah satu gereja Kristen Katolik di Malang yang sudah ada sejak masa kolonial Belanda (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Perayaan Natal tiap 25 Desember menjadi salah satu hari besar umat Nasrani. Di Kota Malang, saat ini pemeluk agama Kristen Protestan dan Katolik mencapai 11 persen dari total penduduknya. Masuknya ajaran Kristiani ke Malang Raya, tentu memiliki perjalanan yang cukup panjang. 

Di Malang Raya sendiri, pertumbuhan ajaran Kristen terbilang pesat. Dapat dilihat melalui sederet pusat keagamaan yang ada sejak masa Hindia Belanda dan tetap berdiri kokoh hingga sekarang.

Baca Juga : Dalam Masa PKPU, Dirut Perusahaan Pengelola Mall Dinoyo Terbukti Masih Jualan Unit rumah

Bangunan-bangunan itu seolah menjadi saksi perjalanan dan pertumbuhan ajaran Kristen di Malang Raya. Gereja, sekolah, rumah sakit, hingga pemakaman yang erat kaitannya dengan sejarah masuknya Kristen di Malang Raya pun masih bisa diakses hingga hari ini.

Perjalanan kristenisasi di Malang Raya juga tak lepas dari ajaran Kristen yang dibawa bangsa Eropa ke Nusantara. Dalam beberapa sumber sejarah disebutkan, ajaran Kristen di Indonesia mendapatkan pengaruh dari  bangsa Eropa yang datang untuk melakukan penjajahan. Namun proses pengenalan ajaran Kristen itu dilaporkan tak terlalu pesat di awal mula kedatangan Belanda ke Nusantara.

Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa Silang Budaya menyebut, selama dua abad pertama kekuasaan VOC di Nusantara, kurang dari seribu pendeta yang tercatat. Saat itu, pergerakan para pendeta dikekang dengan berbagai peraturan.

Mereka hanya diberi ruang layanan rohani dalam komunitas Eropa yang kecil serta komunitas yang terlebih dulu telah dikristenkan oleh Portugis sebelum kedatangan VOC. Di antaranya seperti kelompok Ambon, Minahasa, dan Malaka.

"Para pedagang Belanda sekedar mengikuti kebiasaan pedagang Asia yang berdagang dari satu ujung ke ujung lain lautan Hindia, dan sama sekali tidak bermaksud menyiarkan agama mereka," tulis Lombard.

Lombard berpendapat jika umat Kristen tertua adalah di Kepulauan Maluku dan pulau-pulau tertentu di Kepulauan Sunda. Pulau-pulau tersebut merupakan kawasan tempat orang-orang Portugis mendirikan Gereja pertama mereka. 

Sementara di Jawa, hanya Batavia yang diketahui memiliki pendeta. Baru pada sekitar tahun 1753 terdapat seorang pendeta di Semarang dan seorang lagi di Surabaya sejak 1785.

Baru pada paro pertama abad 19 M, semangat misionaris mulai bangkit di kalangan Protestan. Sedangkan misionaris Katolik saat itu masih dilarang untuk bermukim dan baru aktif di akhir abad 19. 

Kondisi itu juga yang terpotret di Malang Raya. Sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono menyampaikan, masuknya Kristen ke Malang Raya diperkirakan sejak abad ke 18 Masehi atau sekitar tahun 1767. Hingga tahun 1800-an, jumlah penganut Kristen di Malang Raya saat itu diperkirakan masih mencapai puluhan dan belum banyak.

Baca Juga : Tahu Bakti Sosial BMH Malang Disusupi Kepentingan Politik, Baitul Maal PLN Kaget dan Kecewa

Pada 1767, Belanda mulai melakukan perluasan kekuasaan politik ke Malang. Benteng pertama pun berhasil didirikan, yang saat ini kita kenal sebagai kawasan Klojen (tepatnya kawasan RSSA). Saat itu Kristen Protestan yang pertama kali masuk dan hanya dianut oleh para prajurit atau pegawai Belanda yang bertugas di Malang.

"Dan awal mula memang hanya ada pada lingkup kecil, yaitu komunitas Eropa itu sendiri," kata Dwi Cahyono pada MalangTIMES belum lama ini.

Ajaran Kristen di Malang pun mulai banyak dikenal secara luas sejak 1820-an. Saat itu, pemukiman orang Eropa tak terbatas hanya pada benteng saja, namun sudah mulai membuat pemukiman terbuka. Bersamaan dengan itu, pengaruh Kristen mulai diajarkan. 

Bahkan bukan hanya Protestan saja yang berhasil dikembangkan, melainkan juga sudah dikenalkan Kristen Katolik. Hal itu seiring dengan kedatangan orang Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Jerman. Dalam perkembangannya, Kristen Protestan dan Katolik banyak berkembang ke berbagai kawasan lain di Malang, utamanya area perkebunan.

Hal itu terlihat dari banyaknya gereja dan bangunan suci Kristen lain yang ditemukan di kawasan Malang Raya. Mulai dari Kota Malang, Kabupaten Malang, hingga Kota Batu. Sederet gereja tua yang dibangun sejak tahun 1800 banyak ditemukan. Termasuk pula keberadaan rumah sakit dan lembaga pendidikan atau sekolah yang masih ada dan berjalan sampai sekarang.

"Malang Raya, terutama Kota Malang sampai saat ini memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Kristenisasi, bahkan sampai tingkat Asia. Terlihat dari banyaknya sekolah teologi hingga bangunan peribadatan lain yang ada di Malang," jelas Dwi.

Secara gamblang Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang ini memberi penjelasan mengenai perkembangan Kristenisasi di Malang Raya. Pembahasan secara mendetail akan dibahas dan diulas lebih mendalam dalam tulisan berikutnya. Termasuk di dalamnya juga mengupas tentang pemakaman kristen tertua di Malang.