A new Light in the Harem -1884 - Frederick Goodall. (Foto ilustrasi)
A new Light in the Harem -1884 - Frederick Goodall. (Foto ilustrasi)

MALANGTIMES - Akhir-akhir ini, istilah gundik menjadi populer di media sosial. Terutama setelah mencuatnya kisah Dirut Garuda I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra yang diduga memiliki wanita simpanan seorang pramugari Garuda Airlines yang kemudian disebut warganet sebagai seorang gundik. Istilah gundik sering digunakan sebagai penyebutan pada perempuan simpanan, selir, orang ketiga, atau selingkuhan.

Pergundikan sendiri telah dipraktikkan sejak zaman kuno. Kitab Injil, yang menetapkan fondasi dari sebagian budaya dan literatur Barat juga mengenalkan kita pada praktik pergundikan atau perseliran ini. Salah satunya Raja Solomon yang memiliki tiga ribu orang selir tambahan dari tujuh ribu istrinya.

Baca Juga : Akhir Kisah Sahabat Rasulullah yang Mengatakan Zakat Adalah Pungli

Seorang gundik dulu digunakan untuk tujuan seksual dan sebagai "rahim pinjaman". Jika seorang pria memiliki istri mandul dan ia membutuhkan pewaris, ia bisa menghamili seorang gundik, kemudian mengakui dan membesarkan anak gundik itu sebagai anaknya sendiri.

Dilansir dari buku Mistresses: A History of the Other Women karya Elizabeth Abbott, gundik pertama yang tercatat dalam sejarah adalah Hajar, seorang budak perempuan keturunan Mesir yang berkulit hitam. Hajar adalah budak Sarah, istri partriark Ibrahim (2000-1720 SM).

Ibrahim menjadi seorang laki-laki kaya dalam berbagai hal kecuali keturunan, karena Sarah Mandul. Hal ini kemungkinan besar tidak akan berubah karena saat itu usia Sarag sudah 76 tahun (begitulah kira-kira menurut laporan penulis Kitab Kejadian). Tidak heran, Ibrahim menjadi putus asa.

Sarah pun menyalahkan dirinya yang tidak mampu memberikan keturunan. Pada zaman dahulu, mandul dianggap sebagai sebuah kutukan hingga bahkan hukumannya adalah bercerai. Namun, kelompok sosialnya memiliki solusi untuk kemadulan, yakni gundik yang subur.

Sarah kemudian menyuruh Ibrahim untuk menggauli Hajar, budaknya.

"Kau lihat Tuhan menghalangiku untuk mengandung. Gaulilah gadis budakku, mungkin aku akan mendapatkan anak darinya," ujar Sarah kepada suaminya.

Ibrahim setuju dan Hajar tidak memiliki pilihan dalam hal ini. Tidak lama kemudian, meski Ibrahim saat itu berusia 86 tahun, ia menanamkan benihnya pada Hajar.

Kondisi Hajar yang sedang hamil membuatnya berubah. Yang mengejutkan Sarah, perempuan budak yang patuh dan ranah itu kemudian berubah menjadi seorang perempuan yang sombong dan merendahkan Sarah. Sebab Hajar boleh jadi diperbudak, namun rahimnya cukup baik untuk mengandung pewaris resmi dari suami majikannya.

Sarah bingung dan jengkel dengan sikap Hajar. Dengan sedih, ia mengeluhkan hal ini pada Ibrahim, namun suaminya hanya mengingatkan bahwa sebagai majikan Hajar, Sarah bisa menghukum budak perempuannya jika mau. Kita tidak tahu apa yang dilakukan Sarah, salah satu bentuk hukuman atas sikap sombong adalah menggosok mulut orang yang bersalah dengan garam. Namun tindakan Sarah begitu kasar sehingga Hajar memutuskan untuk melarikan diri.

Untungnya, seorang malaikat Tuhan menemukan Hajar saat ia sedang mengembara di hutan belantara. Malaikat itu menyuruh Hajar kembali dan tunduk pada majikannya.

"Sekarang, kau sudah paham dan mengandung seorang anak laki-laki, kau akan memberinya nama Ismail (yang berarti pewaris Tuhan), karena Tuhan memperhatikan penderitaanmu."

Setelah pertemuan itu, Hajar kembali dan melahirkan anak laki-laki Ibrahim, yang sebagaimana pesan malaikat diberinama Ismail.

Hajar tetap tinggal bersama Ibrahim dan Sarah selama 13 tahun, menyusui dan merawat Ismail. Kemudian, datanglah sebuah keajaiban. Tuhan membuat sebuah perjanjian rumit dengan Ibrahim yang mengakhiri kemandulan Sarah. Awalnya, Sarah tidak percaya lantaran ia sudah terlalu tua.

Sarah lalu mengandung anak laki-lakinya, Ishak. Saat itu, ia berumur 90 tahun dan Ibrahim berusia 100 tahun.

Ishak tumbuh menjadi anak laki-laki yang sehat dan kuat. Namun, suatu hari, saat ia melihat putra kecilnya bermain dengan saudara laki-laki sedarahnya, Ismail, ia merasakan dendam yang sangat kuat. Sepertinya Ismail, putra pertama Ibrahim, akan mendapatkan harta warisan.

Baca Juga : Pengantin 'Masker', Anak Kapolsek Beji Menyambut Hari Bahagia di Tengah Pandemi Covid-19

Ia meminta Ismail untuk membuang Hajar dan Ismail. Ibrahim sangat bingung, meskipun ia hanya memikirkan nasib Ismail, tidak Hajar. Ia pun berdoa meminta petunjuk. Dan Tuhan memerintahkannya untuk melaksanakan tuntutan Sarah, karena baik Ishak maupun Ismail akan mendirikan negara besar.

Keesokan harinya, Ibrahim bangun lebih cepat, mengambil sepotong roti dan tempat air yang terbuat dari kulit binatang, dan memanggil Hajar. Kemudian, laki-laki yang luar biasa kaya ini memberikan perbekalan yang tidak seberapa dan meminta Hajar pergi bersama Ismail, putra mereka yang sudah remaja.

Dalam keadaan bingung, Hajar dan Ismail berkelana di hutan belantara. Beberapa saat yang lalu, mereka baru saja menyantap sisa perbekalan terakhir mereka. Dalam keadaan putus asa, Hajar membawa Ismail ke semak-semak, kemudian pergi dan merebahkan diri di tanah. Ia meminta agar Tuhan tak membiarkannya melihat kematian anak Ismail.

Tuhan pun memperhatikannya dan kembali mengirim seorang malaikat.

"Tuhan tidak akan membiarkan Ismail mati karena Dia berencana membuat sebuah negara besar untuk anak keturunannya," ujar sang malaikat.

Hajar membuka kedua matanya dalam ketakjuban dan melihat Tuhan menyediakan sebuah sumur. Hajar mengisi tempat minum dari kulit itu dan memberi minum anak laki-lakinya yang kehausan.

Bertahun-tahun Hajar dan Ismail tinggal di tanah kosong. Mereka berhubungan dengan banyak orang dan Hajar memiliki cukup uang untuk menyelenggarakan pernikahan Ismail dan seorang gadis keturunan Mesir.

Ini merupakan akhir kisah Hajar. Namun bukan berarti akhir dari hidupnya. Referensi dari Injil tentang Ismail menceritakan bahwa Tuhan menepati janji-Nya pada Hajar, karena Ismail kemudian memiliki 12 orang putra, para pangeran pendiri suku-suku Ismail.

Ismail hidup hingga berumur 137 tahun, putra berumur panjang dari seorang ayah yang juga panjang umurnya. Ibrahim meninggal pada usia 175 tahun, dan Ismail serta Ishak bersama-sama menguburnya di Gua Makhpela.

Posisi Hajar sebagai budak cukup singkat. Namun keadaannya yang menyedihkan dikenang dari waktu ke waktu, dalam literatur yang sangat banyak dan terus berkembang.

Seribu tahun setelah kehidupannya, kehadirannya dicatat dalam beberapa kalimat singkat. Hajar telah menjadi simbol bagi penyiksaan dan perenggutan hak di bumi, seorang perempuan yang dimanfaatkan secara seksual dan ekonomi, dicabut haknya, dan ditelantarkan tanpa pertolongan.